Senin, 19 Juni 2017

Cerita Tentang Mimpi



Pernahkah melihat seorang tertidur lelap namun matanya bergerak-gerak? Maksud saya, kelopak matanya tetap tertutup, namun bola mata di dalamnya nampak bergerak ke kiri dan ke kanan. Bukan gerakan yang pelan, tetapi gerakan yang agak cepat. Jika pernah, kemungkinan anda saat itu sedang menyaksikan seorang yang terjaga dalam mimpinya. Jika belum pernah, kemungkinan ada seorang lain yang pernah menyaksikan bola mata anda bergerak-gerak cepat saat sedang tidur. 

Satu hal saya yakini, kita semua pernah bermimpi, tentu dengan seribu satu jenis dan keanehannya. Pernah suatu hari, saya bermimpi dalam mimpi. Saat merasa sudah terbangun dari mimpi, ternyata saya masih sedang bermimpi. Lalu, ada yang lebih aneh lagi. Suatu malam, saya bermimpi sedang beradu kekuatan dengan seseorang, entah siapa. Tiba-tiba saya membatin, "Ah, buat apa beradu kekuatan, ini kan cuma mimpi. Sehebat apapun kamu, saya tetap akan baik-baik saja." Tiba-tiba saya sadar kejadian itu hanya mimpi. Entah bagaimana.

Ada begitu banyak misteri tentang mimpi. Mengapa kita bisa bermimpi? Bagamana proses terjadinya mimpi? Apakah mimpi itu bisa berpengaruh baik ataukah justru berpengaruh buruk pada si pemimpi? Berbagai hal tentang mimpi ini telah menjadi topik penelitian para ahli. Mereka mencoba mencari tahu hubungan antara mimpi dan fungsi otak, termasuk bagaimana otak bekerja selama bermimpi, dalam suatu cabang ilmu yang disebut Oneirology. 

***


Bagaimana para saintis menjelaskan proses berlangsungnya mimpi? Menurut penjelasan beberapa sumber yang mengkaji tentang mimpi, tahapan tidur yang berkaitan dengan terjadinya mimpi adalah tahap Rapid Eye Movement (REM). Masih ingat teman yang bola matanya bergerak-gerak cepat saat tertidur tadi? Nah, saat itulah dia berada pada tahap REM .

Selama tertidur, misalnya saat tidur di malam hari, kita melalui beberapa siklus tidur. Setiap siklus terdiri atas empat tahapan, yaitu Non-Rapid Eye Movement stage 1 (NREM 1), NREM 2, NREM 3, dan Rapid Eye Movement (REM). Seperti layaknya suatu proses, setiap tahapan tersebut memiliki tingkat aktivitas yang berbeda. 

NREM 1 dan NREM 2 disebut pula "light sleep." Pada tahap NREM 1 yang berlangsung antara 1 hingga 10 menit ini, kita dapat terbangun dan merasa tidak tidur sama sekali. Ah, mungkin tahapan ini yang sering saya alami saat bosan membaca sambil tiduran di kamar. Tiba-tiba tersentak, lalu kebingungan, tadi itu saya tidur atau tidak, ya? Hehe.. 

Jika berhasil melewati NREM 1 tanpa terbangun, kita memasuki NREM 2. Tahap ini dapat berlangsung sekitar 20 menit, di mana denyut jantung melambat, temperatur tubuh menurun, dan tubuh menurunkan aktivitas metabolik untuk bersiap memasuki NREM 3 atau disebut pula "deep sleep."

Kita dapat memasuki tahap deep sleep setelah tertidur selama kurang lebih 35 - 40 menit. Pernahkah anda melewatkan waktu sahur karena tidak mendengar bunyi alaram dan suara gaduh anak-anak yang keliling kompleks membangunkan sahur? Saat kita dapat mengabaikan berbagai gangguan eksternal saat tertidur, saat itulah kita berada pada tahapan NREM 3. Jika terbangun pada tahapan ini, akan muncul rasa pusing atau disorientasi selama beberapa menit pertama.

Jika berhasil melewati NREM 3 tanpa terbangun, kita dapat memasuki tahapan terakhir dari suatu siklus tidur, yaitu tahap Rapid Eye Movement (REM). Tahap ini biasanya terjadi setelah seseorang tertidur minimal 90 menit dan berlangsung selama 10 menit. Ketika siklus tidur terulang, tahapan ini bisa menjadi lebih lama, hingga mencapai 1 jam. Selain adanya gerakan mata yang cepat, tahap ini juga ditandai dengan adanya peningkatan detak jantung dan laju pernapasan dengan ritme yang tidak beraturan. Well, akhirnya, ini menjawab pertanyaan saya selama ini "Kenapa saya mimpinya kebanyakan menjelang pagi?" Ini juga menjawab kebingungan tentang mengapa beberapa kali saya sampai keringatan, padahal kejar-kejarannya hanya dalam mimpi?

Masih ada satu pertanyaan lagi yang membuat saya penasaran, mengapa saat bermimpi kita bisa merasa seperti tidak sedang bermimpi? Saya belum berhasik kita beradal menemukan jawaban yang pasti. Hipotesis saya, hal ini terkait dengrtan gelombang otak yang meningkat selama proses bermimpi, hingga menyerupai gelom,bang otak saat sedang terjaga.

Bagaimana gelombang otak saat sedang terjaga? Ketika seharian beraktivitas, mengerjakan berbagai hal, dan mengalami berbagai emosi, otak menunjukkan gelombang beta. Tipe gelombang ini memiliki frekuensi yang tinggi, namun dengan amplitudo yang kecil (berarti gelombangnya tidak tinggi), dan polanya tidak konsisten (desynchronous). Otak menunjukkan tipe gelombang dengan frekuensi yang lebih rendah, amplitudo lebih besar, dan pola yang lebih teratur saat kita berada pada kondisi rileks (masih terjaga). Tipe gelombang inilah yang disebut gelombang alpha. Memasuki tahapan awal siklus tidur, frekuensi gelombang otak semakin menurun dengan amplitudo yang semakin besar, disebut gelombang theta. Memasuki tahapan tidur yang lebih dalam, deep sleep, otak menunjukkan gelombang delta, yaitu gelombang dengan frekuensi terendah dan amplitudo tertinggi.

Ketika seseorang bermimpi, yang terjadi pada tahap REM, gelombang otak menunjukkan pola yang serupa dengan gelombang otak saat terjaga, yakni kombinasi gelombang alpha, beta, dan pola gelombang yang tidak konsisten. Uniknya, meskipun otak menunjukkan aktivitas yang meningkat, otot-otot tubuh berada pada kondisi tidak bergerak (inert).      

Meskipun berbagai penelitian telah mampu menjelaskan aktivitas otak selama terjadinya mimpi, para peneliti masih belum bisa menjelaskan fungsi mimpi itu sendiri. Bagaimana menurut teman-teman, apakah mimpi itu bermanfaat?


Sumber bacaan:
1. Tahapan-tahapan tidur
2. Mekanisme mimpi




Sabtu, 17 Juni 2017

Tantangan Keabadian





Keabadian, menurut saya, adalah salah satu hal yang nyaris mustahil dimiliki manusia. Nyaris, karena ada setidaknya satu hal yang bisa dilakukan untuk mengalahkan dimensi waktu, yaitu dengan menulis. Apa jadinya jika para pendahulu kita tidak pernah menemukan cara menulis? Kita mungkin tidak akan tahu bagaimana sejarah kehidupan di masa lampau, tentang bagaimana peradaban di masa lampau.

Jauh sebelum huruf yang saat ini anda baca ditemukan, orang-orang mencoba mengabadikan kisah mereka melalui gambar. Di makam-makan Mesir kuno, ditemukan banyak gambar dengan adegan dari kehidupan orang yang dimakamkan ditempat itu. Bagi kita, rangkaian gambar itu berfungsi sebagai sumber informasi mengenai segala sesuatu tentang kehidupan masyarakat Mesir kuno di masa itu (Gombrich, 1985: 17). Peradaban Mesir kuno hadir sejak tahun 3100 sebelum masehi. Saat ini, kita sudah berada di tahun 2017 Masehi. Ini berarti, sejarah mereka telah bertahan selama kurang lebih 5100 tahun, dan masih akan terus bertahan hingga waktu yang tidak diketahui. Mungkin hingga ribuan tahun lagi, saat kita pun hanya tinggal sejarah.

Pertanyaannya, dapatkah cerita tentang kita hidup lebih lama dari jatah umur yang kita punya? Apakah sehari? Setahun? Sepuluh tahun? Ataukah ratusan tahun setelah kita tutup usia? 

***
Perkara mengabadikan sejarah zaman dulu dan zaman sekarang tentu sudah jauh berbeda. Jika masyarakat mesir kuno punya dinding-dinding kokoh dari bebatuan sebagai wadah untuk menggambar, saat ini kita punya media online untuk mengabadikan berbagai hal melalui tulisan dan juga gambar. Masing-masing media menawarkan cara tersendiri untuk mengabadikan moment, misalnya twitter melalui cuitan singkat, instagram melalui gambar, dan blog melalui tulisan. Nah, blog inilah salah satu media yang bisa dimanfaatkan untuk mengabadikan cerita, pengalaman, dan pemikiran. Seperti kata seorang bijak, “menulis adalah pekerjaan keabadian.” 

Perkara keabadian bukanlah sesuatu yang diperoleh dengan mudah, bukan juga hal yang bisa dibeli di toko-toko. Seperti proses pembangunan Piramid yang mampu berdiri kokoh hingga ribuan tahun, para pekerjanya haru rela mengangkut bebatuan di bawah teriknya matahari gurun pasir. Menulis, yang juga adalah pekerjaan keabadian, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada begitu banyak tantangan yang harus rela dilewati demi membuat satu tulisan. Namun, ketika tantangan-tantangan itu dapat teratasi, tulisan-tulisan keabadian pun akan bermunculan. 

Salah satu tantangan terbesar dalam menulis adalah komitmen untuk terus menulis. Setidaknya, ini adalah salah satu tantangan terbesar buat saya. Juli 2014, saya membuat satu blog dengan niat untuk berbagi cerita tentang pengalaman-pengalaman unik yang saya alami. Siapa sangka, tulisan kedua di blog itu baru rilis di bulan april 2015. Bahkan di blog ini, pernah ada gap postingan selama hampir empat tahun, nonaktif sejak 2012, lalu aktif kembali sejak awal 2017.

Meski sudah bertahun-tahun berkenalan dengan blog, saya belum pernah berkomitmen untuk menulis dan mengepost tulisan secara berkala. Belum pernah, hingga beberapa pekan lalu saya akhirnya ikut tantangan #15harimenulis. Mengikuti tantangan ini, berarti harus membagi waktu antara tugas di kampus dan tantangan menulis yang temanya ditentukan setiap hari. Awalnya, terasa agak gentar ketika memutuskan untuk menulis setiap hari. Pasalnya, menulis adalah pekerjaan otak, sementara tugas-tugas di kampus sudah cukup menguras pemikiran. Jika saja tidak berhasil menyelesaikan tantangan hari pertama, mungkin saya tidak akan sampai pada hari ini.  Kelalaian saya menulis setiap hari, adalah kelalaian untuk membagi waktu dengan baik.

Mie Instan

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, mie instan sudah termasuk dalam daftar makanan "terlarang" untuk saya, termasuk untuk adik saya. Bukan karena kami tidak suka, tetapi karena ibu melarangnya. Bukannya menghentikan konsumsi mie instan,  kami malah semakin penasaran. Tak jarang  kami makan mie instan tanpa sepengetahuan ibu.  Apa cuma kami yang masa kecilnya dilalui dengan makan mie  mentah sembunyi-sembunyi?


Di bangku kelas lima sekolah dasar (SD), indomie goreng mentah adalah salah satu menu favorit saat istirahat. Satu bungkus indomie goreng harganya sekitar seribu rupiah, dengan kemasan yang masih persis sama dengan yanga beredar di pasaran saat ini. Untuk mengolah mie instant ini, kami tidak perlu panci, air, dan kompor untuk merebus. Pengolahan ala anak seusia kami saat itu bahkan lebih instant dari yang ditampilkan disaran penyajian, cukup dengan mengepalkan tangan lalu memberi tekanan berupa tumbukan berkali-kali hingga mie instant yang masih terbungkus rapat itu hancur. Setelah tingkat kehancuran mie sesuai dengan yang diinginkan, barulah bungkus mie dibuka untuk dicampurkan dengan bumbu,  buhuk cabe, kecap, dan minyaak.  


Setelah semua bumbu tercampur rata,  mie  super instant siap untuk dimakan. Setiap kali tercium aroma khas campuran bumbu, kecap, dan minyak  indomie goreng, memori masa kecil  dengan mie mentah sebagai kudapan selalu muncul kembali. Saya penasaran, apa anak SD jaman sekarang masih mengenal kudapan jenis ini? Semoga saja tidak.


***


Di masa sekolah menengah,  saya  mulai menghindari konsumsi mie instant. Hal ini bukan karena  larangan ibu, tetapi karena  kepala sering terasa pusing setelah mengonsumsi mie  instant. Anehnya, teman-teman tidak adda yang mengalami gejala yang sama. Jadilah saya aneh sendiri. Saat yang lain makan mie rebus rame-rame,  saya harus berusaha memilih makanan lain.  

Beberapa tahun terakhir, saya akhirnya bisa mengonsumsi mie instant tanpa rasa pusing di kepala. Alhasil, saya jadi bisa mencicipi mie instant berbagai rasa.  Nah,  diantara semua jenis mie instant yang pernah saya cicipi, ada beberapa  yang menjadi favorit saya. Yuk dikepoin  beberapa jenis mie instant yang  patut untuk dicobain :

1. Indomie goreng rasa soto
    Sudah bosan dengan rasa indomie goreng yang sudah ada sejak jaman SD dulu? Saat ini sudah ada inovasi rasa dari indomie, indomie goreng rasa soto. Bumbunya pas, aroma sotonya terasa, lengkap dengan kerupuk yang membuat semakin kriuk-kriuk!

2. Indomie Real Meat Rasa Rendang
    Awalnya saya bingung melihat kemasan indomie yang berupa karton, bukan berupa plastik. Tak hanya itu, harganya yang tiga kali lipat lebih mahal dari indomie goreng biasa membuat saya bertanya-tanya, apa sih istimewanya real meat ini? Usut punya usut, ternyata mie kemasan ini menggunakan daging asli, seperti namanya "real meat." Untuk mie goreng rendang, tidak digunakan bumbu bubuk seperti biasa, tetapi digunakan rendang sungguhan! 

3. Mama rasa Tom Yum Kung
    Mama adalah mie instant khas Thailand. Kalau orang indonesia menggunakan kata indomie untuk menyebut mie instant secara umum, maka orang Thai menggunakan kata Mama. Mama rasa Tom Yum Kung ini  harganya  5 bath, atau sekitar  1800 rupiah. Rasanya unik, karena kuahnya yang asam pedas nyaris seperti Tom Yum Kung asli, sup khas Thailand. Tapi, membeli  mie inatant ini di Thailand harus hati-hatii, harus teliti mencari yang berlogo halal.

4. Ramen
     Saya pernah mencicipi ramen di salah satu warung makan Korea. Warung itu dibuka di Thailand dan disebut sebagai upaya pertukaran budaya. Suasana warung itu mamerkan ciri khas Korea, termasuk seragam para pelayannya. Keunikan ramen di warung  ini adalah disajikan dengan kimchi. Tapi, jika dikuahnya dicicipi tanpa kimchi, rasanya seperti mencicipi kuah indomie rasa kaldu ayam. 99.99% mirip. Bedanya, sayuran dan rempahnya asli.


Seperti itulah ceritaku tentang mie instant, bagaimana ceritamu?


Tulisan ini adalah bagian dari tantangan 15 hari menulis. Baca juga tulisan tentang mi instan di blog ini:

1. http://matamatamakna.blogspot.co.id/2017/06/pagi-makan-indomie-malam-minum-promag.html?m=1
2. www.acitrapratiwi.com/2017/06/mie-instan.html?m=1
3. https://cecein.wordpress.com/2017/06/17/perihal-mi-instan/
4. https://mujahidzulfadli.wordpress.com/2017/06/17/mi-instan-dan-engkoh/

#15harimenulis







Jumat, 16 Juni 2017

Cinta Pertama



CINTA PERTAMA






Suatu sore, saya menjenguk tante yang baru saja melahirkan seorang bayi perempuan. Sambil mengganti pakaian bayinya, tante berusaha berkomunikasi seakan-akan bayi ini sudah paham apa yang dikatakannya. Saya hanya membatin “Bayi kan belum bisa berkomunikasi, ditanya papun tidak akan dijawab juga.” Saya tidak mengerti, mengapa orang dewasa mau repot-repot berkomunikasi dengan anak kecil?

Kebingungan saya berlangsung cukup lama, hingga suatu hari saya mendapati Enda, adik saya, sedang melakukan hal yang sama – berkomunikasi dengan Difa, seakan-akan Difa mengerti apa yang dikatakannya. Difa adalah ponakan saya, yang waktu itu masih berumur beberapa bulan.

“Kamu bngobrol sama Difa? Memangnya dia ngerti?”

“Iya lah kak. Ajak saja bicara, lama-lama dia paham sendiri.”

Itu pertama kali saya paham, mengapa orang dewasa selalu berusaha berkomunikasi dengan anak kecil – untuk membuat mereka paham. Mungkin dengan begitu pula, akhirnya bayi bayi yang lahir di belahan bumi berbeda bisa berkomunikasi dengan cara berbeda. Tapi tetap saja, saya tidak bisa banyak berkomunikasi dengan Difa, karena saya harus pergi untuk waktu yang cukup lama.



***



Saya tidak pernah benar-benar menyukai anak kecil, hingga saya bertemu kembali dengan Difa beberapa bulan lalu. Ada begitu banyak tingkah tak terduga dari bocah ini. Kadang membuat saya bingung, kadang juga sampai tertawa karena kekonyolannya.

Suatu malam, saya menonton TV bersama Difa. Tapi, anak kecil yang kini sudah berusia tiga tahun itu tidak peduli dengan siaran TV yang saya tonton. Dia lebih tertarik bermain dengan tumpukan kartu Dora The Explorer berwarna merah jambu di hadapannya. Bentuk kartu itu sama seperti kartu joker yang dimainkan orang dewasa, hanya desain gambarnya saja yang berbeda.

Untuk memainkan kartu itu, Difa biasanya menyusunnya secara berurutan hingga membentuk persegi panjang. Sambil menyusun, biasanya juga sambil bernyanyi “One little two little three little busses ….” Tentu dengan artikulasi khas anak kecil, yang saya pun tidak akan paham jika saja tidak pernah mendengar lagu itu sebelumnya.

Jika biasanya Difa bermain dengan menyusun kartu, kali ini dia tidak tampak menyusun, tidak pula sambil menghitung atau bernyanyi. Setelah saya perhatikan, ternyata kartu itu dirobeknya menjadi bagian-bagian kecil. Tapi, bukan dengan tangan, melainkan dengan giginya. Saya membiarkannya, saya pikir wajar saja anak kecil menggigit-gigit atau merobek benda-benda yang dianggapnya mainan.

Satu kartu selesai dirobek. Lalu, diambil lagi kartu kedua dan ketiga. Mulai curiga, jangan-jangan Difa akan merobek semua kartu di hadapannya. Karena penasaran, saya akhirnya bertanya.

“Difa, kamu lagi apa?”

“Bla.. Bla.. Bla.. Puzzle!”

“Puzzle? Oooh.. Bikin Difa puzzle? Hahaha…”

Ternyata kartu itu dirobek untuk membuat puzzle. Puzzle memang salah satu mainan kesukaannya. Beberapa hari yang lalu, ada dua bagian puzzle-nya yang hilang. Mungkin karena bagian yang hilang itu, Difa jadi tidak bisa menyelesaikan puzzle-nya. Mungkin, karena ingin bermain puzzle yang lengkap, dia jadi merobek-robek kartu yang bergambar Dora, gadis betualang berambut cokelat sebahu yang sering ditontonnya di TV.   

Apa jadinya jika saya hanya memperhatikan tingkahnya tanpa mau mengajaknya berkomunikasi? Saya mungkin tidak akan tahu, anak sekecil Difa, yang bicaranya pun masih belepotan, ternyata sedang berusaha membuat Puzzle. Jawaban-jawabannya yang tak terduga, dan tingkah lucunya, semakin membuat saya jatuh cinta. Itulah salah satu dari begitu banyak tingkah lucu Difa, anak kecil pertama yang membuat saya jatuh cinta.

#15harimenulis



    




Rabu, 14 Juni 2017

Molekul Air di Jemuran

Perubahan Wujud Zat





Masih ingat bagan ini? Bagan tentang perubahan wujud zat. Pertama kali saya jumpai pada pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) di bangku sekolah dasar (SD). Setelah duduk di bangku kuliah, saya bertemu dengan bagan ini lagi. Ada satu pertanyaan yang membuat saya memutar balik bagan ini, googling kiri kanan, dan bertanya kesana kemari.

“Cit, air mengalami penguapan setelah mencapai suhu seratus derajat celcius, kan?
“Iya”
“Misalnya, saat merebus air. Jika mencapai suhu seratus derajat, air mendidih, lalu menguap”
“Iya, benar.”
“Tapi, bagaimana dengan baju yang dijemur? Kenapa air pada baju bisa menguap, padahal bajunya tidak mendidih?”
“Oh, iya juga yah.. Kenapa yah?”

Saya tidak pernah benar-benar peduli tentang molekul air, hingga dilontarkannya pertanyaan tentang penguapan pada baju yang dijemur itu. Pertanyaanya menarik, karena saya juga tidak pernah memikirkan soal penguapan pada baju yang dijemur. 

Saya penasaran, apakah air harus mendidih dulu baru bisa menguap? Apakah mendidih adalah satu-satunya cara agar air bisa menguap? Kalau jawabannya iya, lalu bagaimana baju di jemuran (yang menurut saya tidak mendidih) bisa menguap airnya hingga benar-benar kering? Kalau jawabannya tidak, lalu apa cara lain (selain proses pendidihan) yang memungkinkan air bisa menguap? Bingung? Sama, saya juga bingung.

***

Demi mengobati rasa penasaran perkara air dan baju yang dijemur, saya membuka kembali buku biologi, mencari tahu tentang sifat-sifat molekul air. Molekul air terdiri atas dua atom hydrogen (H) dan satu atom oksigen (O), sehingga dapat ditulis H2O. Bentuknya menyerupai huruf V, dengan atom oksigen pada sudutnya dan atom hydrogen pada kedua kakinya. Bisa dibayangkan, kan?

Keunikan dari molekul ini adalah adanya muatan yang berbeda pada kedua sisinya. Sisi oksigen bermuatan negatif, sedangkan sisi hydrogen bermuatan positif. Jika dua molekul air didekatkan, apa yang akan terjadi? Prinsipnya sama seperti yang diajarkan di mata pelajaran fisika:  kutub positif dan kutub negatif saling tarik menarik. Karena adanya perbedaan muatan pada kedua ujungnya, maka dapat terjadi gaya tarik-menarik yang bersifat listrik antara satu molekul air dengan molekul air lainnya.  

Satu molekul air dapat berikatan dengan empat molekul air lainnya. Jadi, dua atom hydrogen berikatan dengan atom o dari masing-masing satu molekul air lain. Sementara itu, atom oksigen berikatan dengan sekaligus dua atom h dari dua molekul air lainnya. Singkatnya, setiap molekul air membentuk empat ikatan dengan molekul lain, yaitu satu ikatan pada masing-masing atom hydrogen dan dua ikatan pada atom oksigen. Ikatan itulah yang dikenal dengan sebutan ikatan hidrogen, jenis ikatan yang menjadi point kunci pada proses penguapan air.

Ikatan hidrogen antara molekul air


***

Pada suhu normal, air berwujud cair. Wujud cair itu bisa dibayangkan sebagai kondisi dimana molekul air saling terikat satu sama lain melalui ikatan hydrogen. Ikatan hydrogen itu cukup kuat. Karena itu, permukaan air bisa dijadikan media untuk berjalan bagi beberapa jenis serangga. Dalam suatu panci airnya disatukan  oleh ikatan hydrogen. Lalu, ketika suhu air mencapai seratus derajat celcius, ikatan hydrogen antar-molekul air terputus, sehingga satu per satu terlepas sebagai molekul tunggal berwujud gas yang kita sebut uap air. Intinya, untuk menguapkan air, ikatan hydrogen harus diputus.

Nah, untuk memutus ikatan hydrogen pada baju basah yang dijemur, haruskah suhunya mencapai seratus derajat celcius? Ternyata jawabannya adalah “tidak”. Analoginya seperti dua orang yang saling berpegangan tangan. Genggaman tangan mereka bisa terputus jika salah satunya ditarik dengan kekuatan yang lebih besar dibandingkan kekuatan genggaman mereka. Seperti itu pula air pada baju yang dijemur, menguap karena adanya tarikan dari angin yang berhembus. Semakin kering dan semakin cepat pergerakan angin, maka cepat pula molekul air terlepas satu per satu. Begitu seterusnya hingga tak tersisa satu pun molekul air pada baju, dan baju pun dapat digunakan kembali.



 #15harimenulis

Selasa, 13 Juni 2017

Ketakutan Terbesarku

"Citra, bikin teh buat tante, nak"

"Iye ummi"


Membuat teh sudah menjadi tugas saya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Setiap kali ada keluarga yang berkunjung ke rumah, saya selalu kebagian tugas membuat teh. Membuat minuman ini memang tidak sulit. Hanya saja, saya seringkali mendapat pesanan yang cukup membingungkan.

"Tehnya jangan terlalu manis, Nak."

Pesanan teh jenis ini yang biasanya membuat saya kebingungan di dapur. Saya tidak tahu yang "terlalu manis" itu seperti apa. Satu sendok gula untuk segelas air teh menurut saya belum cukup manis. Tapi, ketika teh dengan sesendok gula tadi saya sajikan, biasanya muncul pesanan lanjutan, "Cit, coba tambah air nak." Menurut saya teh itu sudah tidak terlalu manis, namun ternyata masih cukup manis.

Masih ada tipe pesanan yang lebih membingungkan, "Cit, tehnya jangan terlalu pekat yah nak." Bagaimana pula menilai tingkat kepekatan teh? Saya bahkan belum mengenal rumus penentuan konsentrasi larutan saat itu.

Diantara semua jenis pesanan teh yang membuat saya memutar otak di dapur, ada satu jenis pesanan yang sangat mudah tetapi justru membuat tidak habis pikir. Beberapa kali, om dan tante memesan, "Tehnya jangan pakai gula yah, Nak." Teh tanpa gula? Apa enaknya ya?


***


Kebingungan saya melihat orang-orang dewasa lebih memilih teh tanpa gula berlangsung cukup lama. Setidaknya hingga saya membaca tentang akibat yang dapat terjadi jika kadar gula darah melebihi batas normal, utamanya pada penderita diabetes.

Sayangnya, pengetahuan itu tidak banyak berarti untuk saya. Pengetahuan saya hanya sepotong-sepotong. Saya pikir, hanya orang-orang dewasa yang perlu mengatur pola konsumsi gula. Saya tidak merasa perlu mengatur pola konsumsi gula. Faktanya, konsumsi gula berlebih juga berpengaruh buruk pada tubuh saya. Kelalaian membuat saya tidak menyadarinya.

Kelalaian itulah ketakutan terbesar saya. Mengapa? Karena kelalaian adalah akar ketidaktahuan, dan ketidaktahuan seringkali berujung pada hal-hal yang tidak menguntungkan. Ketidaktahuan tentang bagaimana gula berlebih dapat mengaktifkan kelenjar minyak di kulit, berujung pada Produksi sebum berlebih yang saya alami bertahun-tahun.

Bukankan menyedihkan saat kita melakukan hal yang menurut kacamata kita "baik-baik saja," namun  nyatanya hal itu "bukan sesuatu yang baik." Seperti menghidangkan masakan Volvariella volvacea (Jamur merang, dapat dimakan) yang ternyata adalah Amanita phalloides (jamur beracun). Seperti berteman dengan protagonis yang ternyata antagonis.



#15harimenulis

Senin, 12 Juni 2017

5 Buku Terbaik Yang Pernah Saya Baca








Makanan itu seperti buku. Jika makanan adalah sumber nutrisi bagi tubuh, maka buku adalah sumber nutrisi bagi jiwa dan pikiran. Pola membaca yang baik juga tidak berbeda jauh dengan pola makan yang baik. Salah satu contohnya adalah pola makan 4 sehat 5 sempurna untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh yang beragam. Setiap jenis makanan kandungan gizinya berbeda, kan? Karenanya, pola konsumsi yang beragam, seperti pola 4 sehat 5 sempurna, dapat mencegah defisiensi unsur tertentu karena nutrisi dari berbagai jenis makanan tersebut dapat saling mengisi, sehingga keseimbangan nutrisi tubuh dapat dipertahankan.

Lalu, bagaimana dengan pola membaca yang baik? Membaca juga sebaiknya tidak hanya tentang satu topik. Ada begitu banyak tantangan di tengah-tengah lingkungan  masyarakat yang membutuhkan pemahaman tentang berbagai hal. Apa jadinya jika saya, sebagai anak biologi, hanya mau membaca tentang biologi? Kemungkinannya, saya akan kesulitan dalam memecahkan masalah di lingkungan sekitar. Untungnya, saya bukan tipe ini.
Selain buku biologi, saya membaca buku bahasa, psikologi, dan leadership. Sesekali, saya juga membaca novel, seperti Laskar Pelangi, Dilan, dan Madre. Meskipun tidak begitu banyak, setidaknya saya berusaha untuk mengadopsi pola membaca yang beragam, tidak melulu soal biologi. Nah, kali ini saya menuliskan 5 buku terbaik yang pernah saya baca.   



Buku ini memuat petunjuk, anjuran, dan teknik yang dapat membantu Anda membuat catatan entah itu di kelas, saat membaca buku, di perpustakaan ataupun, on-line; lalu cara mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian; juga cara mengatur jadwal belajar agar memperoleh hasil maksimal dalam waktu singkat

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masripah17/resume-buku-belajar-lebih-cerdas-bukan-lebih-keras_55d03a7bb49373a5040b8f15
1. Sistem 52 M - Herpinus Simanjuntak


Sistem 52 M karya Herpinus Simanjuntak ini adalah buku belajar bahasa inggris yang unik, karena penjelasannya ditulis dengan pola percakapan. Alhasil, membaca buku ini terasa seperti berkomunikasi langsung dengan penulis. Seperti namanya, buku ini terdiri dari 52 bab dan dibagi dalam tiga jilid yang diurutkan berdasarkan tingkat kesulitannya - basic, intermediate, advance.

Saya menyelesaikan buku jilid 1 (level basic) saat  duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan jilid 2 (level intermediate) saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Di bangku kuliah, saya membaca buku jilid 3 (level advance), meskipun tidak pernah benar-benar menamatkannya.



2. Belajar Cerdas Bukan Belajar Keras - Ron Fry

Bagaimana membuat catatan? Bagaimana mengatur waktu belajar? Bagaimana mempersiapkan diri menghadapi ujian? Untuk semua pertanyaan itu, jawabannya bisa ditemukan di buku ini. Selama menjadi mahasiswa jurusan biologi dengan jadwal kuliah, praktikum, dan tutorial yang berjejal, buku ini sudah banyak membantu saya mengatur jadwal belajar.

Buku ini memuat petunjuk, anjuran, dan teknik yang dapat membantu Anda membuat catatan entah itu di kelas, saat membaca buku, di perpustakaan ataupun, on-line; lalu cara mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian; juga cara mengatur jadwal belajar agar memperoleh hasil maksimal dalam waktu singkat

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masripah17/resume-buku-belajar-lebih-cerdas-bukan-lebih-keras_55d03a7bb49373a5040b8f15
Buku ini memuat petunjuk, anjuran, dan teknik yang dapat membantu Anda membuat catatan entah itu di kelas, saat membaca buku, di perpustakaan ataupun, on-line; lalu cara mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian; juga cara mengatur jadwal belajar agar memperoleh hasil maksimal dalam waktu singkat

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masripah17/resume-buku-belajar-lebih-cerdas-bukan-lebih-keras_55d03a7bb49373a5040b8f15

3. Seni Berbicara - Larry King

Buku ini memuat tips meningkatkan kemampuan berkomunikasi kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.Ditulis oleh Larry King, sosok pembawa acara berkebangsaan Amerika yang telah meraih berbagai penghargaan di bidangnya. Larry King banyak menggambarkan pengalaman pribadinya, termasuk pengalamannya mengudara di radio lokal tanpa megucapkan sepatah katapun. Hanya suara musik yang ditinggikan dan dikecilkan berulang-ulang selama beberapa jam. Disini, penulis menggambarkan bagaimana dia sebagai seorang awam, sebelum akhirnya menjadi seorang ahli.



 4. Emotional Intelligence - Daniel Goleman

Buku ini menjelaskan tentang bagaimana kecerdasan emosional berperan penting dalam menentukan kesuksesan seseorang dibandingkan kecerdasan intelektual.



5. Sejarah Dunia Untuk Pembaca Muda -  Ernst H. Gombrich



Buku ini merangkum kejadian-kejadian penting di berbagai belahan dunia, mulai dari sejarah manusia purba yang hidup ribuan tahun sebelum masehi hingga sejarah pecahnya Perang Dunia II. Membaca buku ini seperti membaca rangkuman materi pelajaran sejarah selama bangku sekolah, tetapi dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami.