Senin, 05 Juli 2010

Pulau yang Lain

Tugas Bahasa Indonesia. Finished at 6:36 AM 7/4/2010
Andi Citra Pratiwi
ICP of Biology
091404170


Mentari bersinar cerah, lagi dan lagi. Kudengar hatiku berceloteh, namun aku tak peduli apapun yang dikatakannya. Aku hanya ingin bersyukur karena hari ini mentari masih terbit dari timur, kedua mataku yang tak sipit masih bisa berkedip, hidungku yang tak mancung masih bisa menghirup udara segar, dan tentu saja karena bibirku yang tak tipis masih bisa tersenyum lebar. Tetapi tentu saja aku tak pernah berpikir betapa jeleknya orang yang bermata bulat, berhidung pesek, dan berbibir tebal, karena itu hanya akan merugikan diriku sendiri. Kulangkahkan kaki keluar kamar, kubuka pintu utama, lalu kupandangi langit yang cerah pagi itu. Namun, mataku tak dapat menangkap sang mentari. Gedung-gedung menjulang tinggi di segala penjuru. Aku menyerah. Kuputuskan untuk menyapa sang mentari di lain waktu.


Pulau ini bukan tempat aku dilahirkan dan dididik dengan penuh kasih sayang. Aku sesosok remaja yang dibesarkan di Pulau Selayar dan kini berdiri tegak di pulau yang lain. Selayar dan pulau ini merupakan dua pulau yang dapat dipersamakan dan dapat pula dipertentangkan. Keduanya sama karena mereka adalah daerah kepulauan, dan keduanya berbeda karena perkembangan masyarakatnya. Sebelumnya, aku sempat berpikir bahwa pulau ini hanyalah daerah yang tak berbeda dengan daerah-daerah terpencil di Sulawasi Selatan. Ternyata aku salah, Pulau ini justru tak jauh berbeda dengan Bali dan Jakarta. Sudahlah, itukan hanya dugaanku saja. Sekarang, aku harus mengingat lagi angin apa yang membawaku ke tempat ini? Pulau ini adalah tempat yang terkenal dengan wisata belanja yang terjamin murah. Sebelum matahari menyengat, saya dan beberapa orang teman telah meninggalkan hotel. Berjalan 5 langkah sudah ada kedai makanan, berjalan 20 langkah sudah berjejer toko-toko hiasan dinding, dan berjalan melewati 2 blok atau sekitar 40 langkah lurus kedepan, ternyata sudah berjejer 2 pusat perbelanjaan sekaligus. Setiap blok yang kami telusuri hanya ada toko-toko makanan, toko boneka, hotel mewah hingga penginapan sederhana, dan pusat-pusat perbelanjaan layaknya Mal Ratu Indah di Kota Makassar. Namun, ada satu hal yang sangat membingungkan dan juga menyebalkan. Sikap sekelompok laki-laki yang duduk di pinggiran jalan dan juga beberapa pelayan hotel. Tatapan dan senyuman meraka sangat menakutkan, seakan-akan hendak menerkam dan menelanmu bulat-bulat. Beberapa hari pertama, aku memang belum menyadari hal itu. Pada hari-hari selanjutnya, aku dan teman perempuan yang lain bahkan tak boleh kemanapun tanpa ditemani satu atau beberapa orang laki-laki dari kelompok kami. Hal ini semakin membuatku bertanya-tanya, hatiku serasa dipenuhi rasa penasaran. Untungnya, tepat ketika kami akan berangkat meninggalkan pulau itu, aku memperoleh jawabannya. Hal ini telah sekian lama menjadi rahasia umum, namun sungguh aku tak pernah mengetahui bahwa selain terkenal karena wisata belanja, ternyata Pulau Batam juga terkenal karena prostitusi. Mataku terbuka lebar. Mulutku yang menganga kututup dengan dua tanganku. Aku tak mampu berkata-kata. Segera aku angkat koperku ke dalam mobil. Kamipun melaju menuju bandara dengan konsidiku yang masih “shock”!!!

Selama perjalanan, aku sadar bahwa tak ada satu pun yang sempurna. Begitupun dengan kota ini. Dibalik keindahan surga belanja, tentu saja ada hal yang menjadi kekurangannya. Sekelompok masyarakat seni Kepulauan Selayar telah bertamu ke pulau ini, memperkenalkan budaya kami, dan hendak menjalin tali persaudaraan. Setidaknya niat baik itu telah disambut dengan baik pula. Inilah awal yang baik untuk mempertahankan persatuan dan kerukunan bangsa kita.


Rombongan kami tiba di tempat tujuan. Aku salah. Aku pikir mobil itu membawa kami ke bandara, ternyata kami menuju pelabuhan. Tak apalah, itu bukanlah masalah. Di zaman modernisasi seperti sekarang ini, menggunakan jasa sejenis perahu bermesin untuk menyeberang ke pulau lain memang biasa saja. Tetapi, jika kita menggunakannya untuk menyeberang ke negara lain tentu saja terdengar lucu. Bagaimanapun, memang begitulah kebiasaan masyarakat setempat. Lagipula, kami menikmati tahap demi tahap penjagaan yang ketat dari para petugas. Terlebih lagi ketika menyeberangi lautnya. Aku bertanya dalam hati. Apakah itu Selat Malaka? ataukah Selat Banda? Ah, aku tak tahu. Nilai geografiku semasa SD memang pas-pasan. Meski aku tak mampu memperoleh jawaban atas pertanyaanku, senyum manis di bibirku tetap terkembang. Ada kebahagiaan yang membuncah di dalam hatiku. Bukan karena perjalanan yang mengasyikkan, tetapi karena aku akan memperoleh kesempatan memperkanalkan Budaya Bangsa Indonesia di kancah Internasional. Tak sabar rasanya aku menampilkan kebudayaan warisan nenek moyang kami, mendengar tepukan tangan dan sorakan penonton. Ingin sekali aku mendengar mereka mengatakan "What a beautiful archipelago!". Semilir angin menghembus, terdengar senandung lagu dari Indonesia "Eeeeleng... Bannang kebo' balla'bulo...O... e... Ribangkenna sapanaa..." Penonton benar-benar bersorak. Tepukan tangan mereka sungguh nyata. Impianku menjadi kenyataan!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar