Minggu, 04 Juli 2010

Tugas Final Bahasa Indonesia

Mahasiswa dan Indonesia ke depan
Dewasa ini, pembicaraan tentang mahasiswa tetap menjadi topik yang mampu mengundang begitu banyak opini dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat jelata hingga kaum terpelajar dari sabang sampai merauke. Ada yang menyanjung, mengagumi, dan ada pula yang menghujat para mahasiswa. Ada apa dengan mahasiswa? Begitu banyak pertanyaan yang membuncah di dalam hati setiap insan Indonesia yang mempertanyakan tentang esensi mahasiswa itu sendiri. Ada yang beropini bahwa mahasiswa merupakan insan terdidik yang patut memperoleh kesempatan untuk menempati bidang-bidang keahlian yang ada. Sebagian yang lain menganggap mahasiswa patut menjadi panutan bagi kelompok pemuda lainnya. Ada pula yang berpendapat bahwa mahasiswa tak lebih dari sekelompok anak muda anarkis yang telah kehilangan norma kesopanan. Penilaian terhadap fungsi dan peran mahasiswa memang tidak semudah member penilain saat mengecap rasa nasi putih, karena hal ini menyangkut ribuan pribadi mahasiswa yang tentu saja berbeda satu sama lain. Berbagai opini tersebut mungkin benar untuk suatu kelompok mahasiswa, namun belum tentu benar untuk kelompok mahasiswa lainnya. Terlepas dari semua pertentangan yang ada, mahasiswa indonesia sebagai elit yang telah lama berproses dalam dunia pendidikan, merupakan indikator kualitas bangsa, sekaligus sebagai penentu keberhasilan dan kemajuan bangsa Indonesia.
Jika ingin memahami peran dan posisi mahasiswa dalam perspektif kehidupan berbangsa dan bernegara, maka hal yang sepatutnya kita memperhatikan adalah pergeseran fokus peran mahasiswa sejak tahun 1910-an sebelum Indonesia merdeka hingga detik ini. Berdasarkan catatan sejarah Indonesia, peranan mahasiswa dalam kurun waktu 1910-an sampai 1930-an terfokus pada peran penggagas. Saat itu para mahasiswa cenderung menafsirkan serta menyusun pemikiran tentang segenap aspek kehidupan masyarakat. Mereka merupakan para pemikir yang meletakkan dasar ideologi nasionalisme bagi bangsa Indonesia di kemudian hari. Pada tahun-tahun selanjutnya, peran mahasiswa mulai mengalmi pergeseran. Memasuki tahun 1980-an, aktifitas gerakan mahasiswa lebih terkonsentrasi pada kegiatan diskusi dan kontemplasi. Mahasiswa tidak hanya bergerak di dalam kampus, tetapi juga bergerak di luar kampus bersama Lembaga Swadaya masyarakat untuk menyelesaikan masalah konkrit yang dihadapi rakyat. Mereka turun ke jalan untuk memperjuangkan nasib rakyat kecil yang dicekik oleh tingginya harga pangan, mengecam penindasan, dan mengutuk ketidakadilan pemerintah terhadap rakyat jelata. Namun, belakangan ini mahasiswa justru memberi kesan yang kurang baik di mata masyarakat umum karena aksi-aksi anarkis yang berulang-ulang mereka lakukan. Ironisnya lagi, beberapa kelompok mahasiswa Makassar kini dijuluki “pa’bambangang na tolo” oleh masyarakat sekitar karena kesewenang-wenangan yang mereka lakukan. Mereka bahkan tak segan-segan untuk saling membunuh hanya karena mempertentangkan masalah yang tak jelas ujung pangkalnya. Terlepas dari berbagai kesan buruk yang timbul karena anarkisme kelompok mahasiswa tersebut, kita seharusnya membuka mata dan menyadari bahwa tidak semua mahasiswa Indonesia bermoral rendah. Rasanya kurang bijak jika kita menyalahkan semua mahasiswa atas suatu kesalahan yang hanya dilakukan oleh sekelompok kecil mahasiswa yang tak bertanggung jawab.
Begitu banyak peran yang telah dilakoni para mahasiswa sejak tahun 1910-an hingga detik ini. Lantas seperti apa karakter mahasiswa yang dibutuhkan dalam membangun masa depan Indonesia yang cerah? Betapa bijaksananya jika segenap insan Indonesia merenungkan pertanyaan ini bersama-sama. Masa depan Indonesia yang cerah secara otomatis mengarah pada kesejahteraan, kedamaian, dan segala hal yang dapat membahagiakan segenap bangsa Indonesia. Jadi, hal mendasar yang seharusnya telah kita pahami adalah kondisi Indonesia dapat dikategorikan sejahtera jika segenap masyarakatnya telah mengecap kesejahteraan, yakni memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang layak, berpendidikan, bermoral dan berakhlak, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sehingga tercipta suasana berbangsa dan bernegara yang damai. Oleh karena itu, jika mahasiswa ingin mewujudkan masa depan Indonesia yang cerah, maka setiap mahasiswa harus menjadi ahli dalam bidang yang mereka geluti masing-masing agar mereka mampu memberi kontribusi dalam membangun Indonesia. Para mahasiswa juga seharusnya memosisikan diri sebagai teladan yang dapat menularkan semangat belajar dan semangat juang bagi setiap insan di seluruh pelosok Indonesia. Ilmu yang bermanfaat adalah pondasi yang kokoh bagi kesuksesan. Karena itu, para mahasiswa dan juga segenap masyarakat Indonesia harus bersungguh-sungguh dalam mengejar ilmu demi kesejahteraan Indonesia.
Karakter mahasiswa adalah indikator kualitas suatu bangsa, sedangkan kualitas mahasiswa merupakan indikator keberhasilan suatu bangsa. Mahasiswa Indonesia adalah anak bangsa yang dididik dan ditempa dalam lingkungan sosio-kultural Indonesia, sehingga bukanlah pendapat yang keliru jika disimpulkan bahwa karakter mahasiswa Indonesia merupakan cerminan kualitas budaya bangsa Indonesia. Selain itu, kedudukan mahasiswa sebagai elit yang berkesempatan besar untuk menempati posisi-posisi ahli dalam setiap bidang profesi yang ada di Indonesia, membuat kualitas mahasiswa Indonesia sangat menentukan kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa kita. Keterkaitan antara kualitas mahasiswa dengan kualitas budaya dan kesejahteraan suatu bangsa merupakan hal yang tak dapat dipisahkan satu sama lain, layaknya induk ayam dan telur ayam yang selalu membingungkan kita jika hendak memutuskan salah satu yang lebih utama. Terlepas dari semua hal itu, karakter mahasiswa yang bertanggung jawab tetap diperlukan untuk selalu membagun, meningkatkan serta menjaga kondisi sosio-kultural yang kondusif bagi kemajuan bangsa Indonesia.













a. Kalimat pertama
Akhirnya saya memutuskan untuk menggenapkan separoh diri (agama) dengan menikah dengan orang yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.. Keputusan ini tentu saja bukan hal mudah yang dapat ditentukan semudah membalikkan telapak tangan. Saya benar-benar tak pernah bermimpi untuk mengukir sejarah sepert ini dalam buku besar kehidupan saya. Ada setitik ketakutan yang menggigit sudut hati saya. Sungguh, saya tidak akan mampu menghela perasaan itu jika saja niat saya bukanlah semata-mata karena Allah. Keyakinan bahwa Allah akan selalu memberi pertolongan bagi umat-NYA menjadi semangat bagi saya untuk menjadi mempelai Ahmad, seorang Udztadz yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
b. Kalimat terakhir
Aku terjaga tatkala sang malam bertahta di puncak kegelapan. Kelopak mataku terasa berat, sangat sulit untuk memelototi setiap benda disekitar. Namun, sudut mataku menangkap sekuntum mawar merah yang telah mengering tepat disudut jendela. Air mata yang tak pernah aku undang kembali membasahi pipi yang belum mengering. Kupandangi mawar itu, dia turut menangis lirih seakan tahu betul kesedihan hati ini. Mawar merah yang seharusnya menjadi hadiah terindah untuk bunda, kini tak lebih dari setangkai bunga kering yang tiap detik menusuk jantungku dengan duri beracun. Malam ini, seharusnya kuletakkan mawar itu di depan kamar bunda tuk menjadi hadiah terindah untuknya esok hari. Namun, takdir berkata lain. Kecelakaan tragis pagi tadi membuatku harus meletakkan mawar itu di depan makam bunda. Aku ingin mengantar kepergian bunda, namun kaki kecilku tak cukup kuat tuk menapak ke makam bunda. Sayapku telah patah, dan tak ada setitikpun kekuatan mengaliri darahku. Akankah datang sepasang sayap penuh kekuatan tuk menguatkanku? Entahlah. Air mata dan kesedihan masih bertahta di jiwaku. Sepotong bulan yang menyembul di balik jendela yang dibuka seakan menjadi saksi.
c. Kalimat pertama dan terakhir
Direktur itu melangkah menuju sebuah pintu kaca yang memisahkan ruangannya dengan sebuah ruangan di sampingnya yang berukuran 3x3 meter. Kakinya yang kekar dengan sepatu hitam yang juga tak kalah kekarnya menghasilkan bunyi tegas disetiap langkah sang direktur. Tetapi jangan pernah berpikir bahwa sang direktur memiliki tubuh tinggi yang juga kekar. Tinggi badan 165 cm dengan berat badan yang hanya 50 kg membuatnya terlihat kurang berisi. Untungnya, prestasi kerjanya tak sekurus tubuhnya. Mata yang tajam dan tubuh yang selalu bergerak cepat mengisyaratkan kepercayaan diri dan efektifitas kerja sang direktur. Kini, kedua tangannya mulai menyentuh dan membuka pintu kaca itu. Suhu ruangan yang sejuk dengan warna-warni bunga hias di sudut meja kerja sang direktur, seakan menyebar bahagia di setiap sudut ruangan. Ada pula sebingkai lukisan indah di dinding yang mengabadikan senyum manis seorang gadis kecil di atas pangkuan ibunya. Semua itu seakan mengabadikan ketenangan dan ketentraman sang direktur saat berada di dalam ruangan 3x3 meter itu. Di ruang mungil itulah, dia menjalankan roda manajemen kantornya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar