Jumat, 20 Agustus 2010

Porifera

Pori artinya lubang-lubang kecil. Porifera artinya hewan yang berlubang-lubang kecil atau hewan berpori. Hewan ini disebut juga hewan spons (sponge). Lubang-lubang tersebut sebenarnya digunakan untuk jalan masuknya air ke dalam tubuh. Air tersebut mengandung plankton sebagai makanan. Ada 3 tipe saluran air pada porifera dari yang sederhana sampai kompleks, yaitu askonoid, sikonoid, dan leukonoid.

Kelompok porifera merupakan hewan multiselular yang primitif. Tubuhnya tidak memiliki jaringan maupun organ yang sesungguhnya. Semua hewan dewasa anggota dari filum porifera bersifat menempel atau menetap/sesil pada suatu dasar dan hanya menunjukkan sedikit gerakan. Menurut pandangan naturalis kuno seperti Aristoteles, Pliny, dan lain-lain, bahwa hewan spons merupakan jenis tumbuhan. Baru pada tahun 1765, setelah diketahuinya adanya aliran air dalam tubuh porifera, maka jelas bahwa porifera termasuk kelompok hewan (Kastawi, 2003).

Kata "Porifera" berasal dari bahasa latin, porus + ferra, porus berarti lubang kecil (dalam bentuk tunngal = porus, dalam bentuk jamak = pori), sedang ferra berarti mengandung atau mengemban. Kata tersebut menunjukkan akan kekhususan hewan yang bersangkutan, yaitu hewan yang memiliki banyak lubang-lubang kecil dan bila disingkat cukup disebut hewan berpori. Bila dibandingkan dengan susunan tubuh protozoa, maka susunan tubuh porifera sudah lebih kompleks, sebab tubuhnya tidak terdiri atas satu sel melainkan telah tersusun atas banyak sel. Walaupun hewan ini sudah tersusun atas banyak sel, tetapi sel-selnya masih cenderung bekerja secara mandiri (individual), artinya belum ada koordinasi antara satu sel dengan yang lain. Dengan demikian, porifera dimasukkan dalam golongan metazoa (hewan multiseluler) tingkat rendah, sebab jaringan tubuh yang dimilikinya masih dalam bentuk sederhana dan belum mempunyai apa yang disebut organ tubuh, susunan syaraf, serta saluran pencernaan makanan. Pada umumnya, para ahli zoologi percaya bahwa metazoa (hewan bersel banyak) diturunkan dari protozoa berbentuk koloni flagellata, seperti Volvox. Dalam garis evolusi, porifera sukar dimasukkan dalam mata rantai yang menghubungkan posisi protozoa dan metazoa secara langsung, tetapi lebih cocok kalau porifera ini dikatakan mempunyai kedudukan yang terisolasi. Atas dasar tersebut Porifera digolongkan dalam apa yang disebut Parazoa (Para = samping). Menurut pandangan Tuzet (1963) dinyatakan bahwa porifera tetap berada di jalur utama evolusi metazoa (Kastawi, 2003).

Lebih lanjut dapat diperinci bahwa tubuh Porifera mempunyai ciri-ciri khusus sebagai berikut:
1. Tubuh porifera memiliki banyak pori, yang merupakan awal dari sistem kanal (saluran air) yang menghubungkan lingkungan eksternal dengan lingkungan internal.
2. Tubuh porifera tidak dilengkapi dengan apa yang disebut apendiks (appendages) dan bagian tubuh yang dapat digerakkan.
3. Tubuh porifera belum memiliki sistem saluran pencernaan makanan, adapun pencernaannya berlangsung secara intraselular.
4. Tubuh porifera dilengkapi dengan kerangka dalam yang tersusun atas bentuk kristal dari spikula-spikula atau bahan fiber yang terbuat dari bahan organik.

A. Struktur Tubuh dan Fungsi Tubuh Porifera
Tubuh porifera tersusun atas jaringan diploblastik (dua lapisan jaringan). Lapisan luar tersusun oleh sel-sel berbentuk pipih dan berfungsi sebagai kulit luar atau epidermis, sel-sel ini disebut PINAKOSIT. Lapisan dalam tersusun oleh sel-sel berbentuk corong dan memiliki flagella, sel-sel ini disebut sel-sel leher (koanosit). Koanosit berarti sel bentuk corong, berada pada ruangan-ruangan yang bulat bentuknya. Jika flagela digerakkan, air akan mengalir dari luar masuk ke ruangan bulat melalui ostium, kemudian ke saluran dan mencapai ruangan yang berisi koanosit tersebut. aliran air membawa plankton-plankton yang akan ditangkap oleh sel corong, kemudian dicerna.
Diantara lapisan koanosit dan lapisan pinakosit terdapat rongga bergelatin (jeli), yang disebut mesenkim atau mesoglea. Rongga bergelatin tersebut berisi sel khusus, yakni sel ameboid dan sel skleroblas atau sel penyusun rangka. Dikatakan ameboid karena sel bergerak seperti Amoeba. Karena porifera tidak mempunyai usus dan darah, maka harus ada sel-sel lain yang bertugas mengedarkan makanan. Sel-sel ameboid itulah yang bertugas mengedarkan makanan. Koanosit yang berisi makanan didatangi sel ameboid . Sampai di koanosit, sel ameboid menyerap makanannya kemudian melepaskan diri dan selanjutnya bergerak mengedarkan makanan itu ke sel-sel yang lain.
Sel-sel porifera bekerja secara mandiri dan tidak ditemukan adanya jaringan, tetapi porifera memiliki pembagian tugas diantara sel-selnya meskipun masih sangat sederhana. Sel-sel porifera ada yang berfungsi sebagai kulit, penangkap makanan, pengedar makanan, dan penyusun rangka. Sedangkan sel skleroblas adalah sel yang akan menyusun rangka yang berbentuk duri yang dikenal sebagai spikula.
Umumnya tubuh porifera berbentuk seperti vas bunga yang menempel pada dasar perairan. Tubuh porifera memiliki rongga tubuh (spongosol) dan lubang keluar (oskulum). Tubuhnya lunak, permukaanya berpori, dan pori ini disebut sebagai ostium. Setiap ostium memiliki saluran yang menghubungkan ke spongosol. Air akan mengalir dari ostium yang banyak terdapat di permukaan tubuhnya melalui saluran, masuk ke spongosol dan akhirnya mengalir keluar melalui oskulum.

B. Reproduksi Porifera
Ada dua macam reproduksi porifera, yaitu secara aseksual atau vegetatif dan secara seksual atau generatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar