Sabtu, 09 Oktober 2010

Komponen Kimiawi Sel

(Andi Citra Pratiwi, Kelas ICP: 091404170)
Elemen utama sebuah sel adalah protoplasma. Protoplasma pada semua sel terdiri atas dua komponen utama, yaitu komponen anorganik dan komponen organik. Komponen-komponen anorganik terdiri atas air, garam-garam mineral, gas oksigen, karbondioksida, nitrogen, dan ammonia. komponen organik terdiri atas karbohidrat, lipid, protein, dan beberapa komponen spesifik seperti enzim, vitamin, dan hormon. Pada sel hewan dan tumbuhan, protoplasma mengandung sekitar 75-85% air, 10-20% protein, 2-3% lipid, 1% karbohidrat, dan 1% zat-zat organik lainnya. Air berfungsi sebagai pelarut berbagai zat organik dan anorganik, serta sebagai medium tempat berlangsungnya transport nutrient, reaksi-reaksi enzimatis, metabolism sel dan transport energi kimia. Garam-garam mineral dalam sel memiliki 2 fungsi, yaitu: Fungsi osmosisi, dalam arti bahwa konsentrasi total garam-garam terlarut berpengaruh terhadap pelarutan air melintasi membrane sel; dan Fungsi yang lebih spesifik, yaitu peran seluler setiap ion terhadap struktur dan fungsi dari partikel seluler dan makromolekul (Adnan, 2010).
Karbohidrat, lipid, protein, dan asam nukleat merupakan empat kategori utama senyawa organic dalam sel. Gula, karbohidrat terkecil, berfungsi sebagai bahan bakar dan sumber karbon (Campbell et all, 1999). Karbohidrat diklasifikasikan berdasarkan jumlah sakaridanya. Monosakarida merupakan gula tunggal, umumnya dengan rumus Cn(H2O)n. Disakarida adalah gula rangkap, terdiri atas dua molekul monosakarida yang bergabung melalui sintesis kondensasi. Polisakarida merupakan polimer dari banyak gula. Tiga kelas lipid yang penting adalah lemak, fosfolipid, dan steroid. Lemak tersusun dari dua molekul: gliserol dan asam lemak (Suryani, 2004). Asam nukleat dalam sel berfungsi untuk menyimpan dan menghantarkan informasi hereditas. Untaian asam nukleat merupakan polimer nukleotida. Asam amino penyusun protein merupakan molekul organik yang memiliki gugus karboksil dan gugus amino. Fungsi suatu protein bergantung pada bentuk spesifiknya, misalnya suatu antibodi ataupun suatu enzim (Campbell et al, 1999).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar