Sabtu, 30 Oktober 2010

Landasan Pengembangan Kurikulum

A. Hakikat Pengembangan Kurikulum

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa. Landasan pengembangan kurikulum analog dengan fondasi sebuah bangunan. Apa yang akan terjadi seandainya sebuah gedung yang menjulang tinggi berdiri di atas fondasi yang rapuh? Tentu saja bangunan itu tidak akan tahan lama. Oleh sebab itu, sebelum sebuah gedung dibangun, terlebi dahulu disusun fondasi yang kukuh. Semakin kukuh fondasi sebuah gedung, maka akan semakin kukuh pula gedung tersebut. Layaknya membangun sebuah gedung, maka menyusun sebuah kurikulum juga harus didasarkan pada fondasi yang kuat. Kesalahan dalam menentukan dan menyusun fondasi kurikulum berarti kesalahan dalam menentukan kebijakan dan implementasi pendidikan.

Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya. Pemahaman akan hakikat pengembangan akan membawa pada pemahaman tentang bagaimana seharusnya proses pengembangan dilakukan.

Menurut David Pratt (1980) istilah desain lebih mengena dibandingkan dengan pengembangan yang mengandung konotasi bersifat gradual. Desain adalah proses yang disengaja tentang suatu pemikiran, perencanaan dan penyeleksian bagian-bagian, teknik dan prosedur yang mengatur suatu tujuan atau usaha.

Atas dasar itu, maka pengembangan kurikulum (curiculum development) adalah proses atau kegiatan yang disengaja atau dipikirkan untuk menghasilkan sebuah kurikulum sebagai pedoman dalam proses dan peyelenggaraan pembelajaran oleh guru di sekolah.

Seller dan Miller (1985) mengemukakan bahwa proses pengembangan kurikulum adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus. Seller memandang bahwa pengembangan kurikulum harus dimulai dari menentukan orientasi kurikulum, yakni kebijakan-kebijakan umum, misalnya arah dan tujuan pendidikan, pandangan tentang hakekat belajar dan hakekat anak didik, pandangan tentang keberhasilan implementasi kurikulum, dan lain sebagainya. Berdasarkan orientasi itu selanjutnya dikembangkan kurikulum menjadi pedoman pembelajaran, diimplementasikan dalam proses pembelajaran, dan dievaluasi. Hasil evaluasi itulah yang kemudian dijadikan bahan dalam menentukan orientasi,

Begitu seterusnya,hingga membentuk siklus.Orientasi pengembangan kurikulum menurut Seller menyangkut 6 aspek,yaitu:
1. Tujuan pendidikan menyangkut arah kegiatan pendidikan. Artinya,hendak dibawa kemana siswa yang kita didik itu.
2. Pandangan tentang anak: apakah anak dianggap sebagai organisme yang aktif atau pasif.
3. Pandangan tentang proses pembelajaran: apakah proses pembelajaran itu dianggap sebagai proses transformasi ilmu pengetahuan atau mengubah perilaku anak.
4. Pandangan tentang lingkugan: apakah lingkungan belajar harus dikelola secara formal, atau secara bebas yang dapat memungkinkan anak bebas belajar.
5. Konsepsi tentang peranan guru: apakah guru harus berperan sebagai instruktur yang bersifat otoriter, atau guru dianggap sebagai fasilitator yang siap memberi bimbingan dan bantuan pada anak untuk belajar.
6. Evaluasi belajar: apakah mengukur keberhasilan dilakukan dengan tes atau non tes.

Mengacu pada proses pengembangan kurikulum sebagai siklus seperti yang dikemukakan steller di atas, maka tampak bahwa pengembangan kurikulum itu sendiri serta pengembangan komponen pembelajaran sebagai implementasi kurikulum. Dengan demikian, maka pengembangan kurikulum memiliki dua sisi yang sama pentingnya, yaitu sisi kurikulum sebagai pedoman yang kemudian membentuk kurikulum tertulis dan sisi kurikulum sebagai implementasi yang tidak lain adalah sistem pembelajaran.

Proses pengembangan berbeda dengan perubahan dan pembinaan kurikulum. Perubahan kurikulum adalah kegiatan atau proses yang disengaja manakala berdasarkan hasil evaluasi ada salah satu atau beberapa komponen yang harus diperbaiki atau harus diubah. Sedangkan pembinaan adalah proses untuk mempertahankan dan menyempurnakan kurikulum yang sedang dilaksanakan.

Dengan demikian, pengembangan menunjuk pada proses merancang dan pembinaan adalah implementasi dari hasil pengembangan. Oleh sebab itu, pengembangan dan pembinaan kurikulum merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan, sebab apa artinya suatu rancangan kurikulum tanpa diimplementasikan. Makna suatu kurikulum baru dapat dirasakan jika kurikulum tersebut telah diimplementasikan, dan hasil implementasi tersebut pada akhirnya dapat memberi masukan untuk penyempurnaan rancangan. Inilah hakikat pengembangan kurikulum yang membentuk siklus.

Hal yang selanjutnya harus diperhatikan dalam proses pengembangan kurikulum adalah isi atau muatan kurikulum itu sendiri. Dua hal pokok yang harus diperhatikan dalam menentukan isi pengembangan kurikulum, yaitu rentangan kegiatan, dan tujuan kelembagaan yang berhubungan dengan misi dan visi sekolah. Penjelasan lebih rinci mengenai rentangan kegiatan dan juga penetapan tujuan kelembagaan adalah sebagai berikut:

1. Rentangan Kegiatan (Range of Activity)
Dilihat dari program kegiatan yang dihasilkan, maka pengembangan kurikulum itu dimulai dari kegiatan pengembangan dari lingkup yang paling luas sampai lingkup yang paling sempit, yaitu pengembangan kurikulum dalam proses pembelajaran di dalam kelas dalam satu unit pengajaran atau bidang studi tertentu. Untuk lingkup yang paling luas, pengembangan kurikulum menghasilkan program kebijakan kurikulum dan mengembangkan rancangan program studi.

2. Tujuan Kelembagaan (Institusional Purpose)
Tujuan kelembagaan sama artinya dengan visi dan misi sekolah. Pengembangan kurikulum selamanya harus sejalan dengan visi dan misi sekolah yang bersangkutan, karena kurikulum pada hakikatnya disusun untuk mencapai tujuan sekolah. Visi dan misi sekolah harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan isi kurikulum. Sehingga, pengalaman belajar yang dilakukan siswa di sekolah, akan menjamin pencapaian tujuan sekolah yang bersangkutan.

Proses pengembangan kurikulum menurut Zais, harus dimulai dengan asumsi-asumsi filosofis sebagai sistem nilai (value system) atau pandangan hidup suatu bangsa. Berdasarkan asas filosofis itulah kemudian ditentukan tentang hakikat pengetahuan, sosiokultural, hakikat anak didik, dan teori-teori belajar. Inilah yang menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum, dengan kata lain landasan pengembangan kuriklum itu meliputi asas filosofis, asas psikologis, asas sosial budaya, dan asas teknologis. Manakala telah ditentukan landasan-landasan sebagai fondasi kurikulum, maka ditentukan komponen-komponen kurikulum yang menyangkut tujuan, baik tujuan umum maupun tujuan khusus, isi atau materi pelajaran, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi. Jadi, pada dasarnya proses pengembangan kurikulum adalah proses penyusunan keempat komponen tersebut yang dilandasi oleh asas-asas pengembangannya sebagai fondasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar