Kamis, 04 November 2010

Desain Kurikulum Berorientasi Pada Masyarakat

Desain kurikulum berorientasi pada masyarakat

Rancangan kurikulum yang berorientasi pada masyarakat didasari oleh asumsi bahwa tujuan dari sekolah adalah untuk melayani masyarakat. Oleh karena itu, kebutuhan masyarakat harus dijadikan dasar dalam menentukan isi kurikulum. Ada 3 perspektif desain kurikulum yang berorientasi pada kehidupan masyarakat, yaitu: perspective status quo (the status quo perspective), perspective reformis (the reformis perspective), dan perspektif masa depan (the futuristik perspective).

1. Perspektive Status Quo
Rancangan kurikulum ini diarahkan untuk melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat. Dalam perspektif ini, kurikulum merupakan perencanaan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik sebagai persiapan menjadi orang dewasa yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat. Yang dijadikan dasar oleh para perancang kurikulum adalah aspek-aspek penting kehidupan masyarakat.

Kegiatan-kegiatan utama dalam masyarakat yang disarankan untuk menjadi isi kurikulum adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan bahasa atau komunikasi sosial
2. Kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan
3. kegiatan dalam kehidupan sosial seperti bergaul dan berkelompok dengan orang lain
4. Kegiatan menggunakan waktu senggang dan menikmati rekreasi
5. Usaha menjaga kesegaran jasmani dan rohani
6. Kegiatan yang berhubungan dengan religius
7. Kegiatan yang berhubungan dengan peran orang tua seperti membesarkan anak, memelihara kehidupan keluarga yang harmonis.
8. Kegiatan praktis yang bersifat vokasional atau keterampilan tertentu.
9. Melakukan pekerjaan sesuai dengan bakat seseorang.


Disamping hal-hal tersebut diatas, perspektif ini juga menyangkut desain kurikulum untuk memberi keterampilan sebagai persiapan untuk bekerja (profesi). Oleh sebab itu, sebelum merancang isi kurikulum, para perancang perlu terlebih dahulu menganalisis kemampuan apa yang perlu dimiliki anak sehubungan dengan tugas atau profesi tertentu. Dari hasil analisis itu kemudian dirancang isi kurikulum yang diharapkan lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.

2. Perspektif Pembaharuan (the reformist perspective)
Dalam perspektif ini, kurikulum dikembangkan untuk lebih meningkatkan kualitas masyarakat itu sendiri. Kurikulum reformis menghendaki peran serta masyarakat secara total dalam proses pendidikan. Pendidikan dalam perspektif ini harus berperan untuk mengubah tatanan sosial masyarakat.

Menurut pandangan para reformis, dalam proses pembangunan pendidikan sering digunakan untuk menindas masyarkat miskin untuk kepentingan elit yang berkuasa atau untuk mempertahankan struktur sosial yang sudah ada. Dengan demikian, masyarakat lemah a-an tetap berada dalam ketidakberdayaan. Oleh sebab itu, menurut para reformis, pendidikan harus mampu mengubah keadaan masyarakat itu. Baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal harus mengabdikan diri demi tercapainya orde sosial baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata.
3. Perspektif Masa Depan (the futurist perspective)
Perspektif masa depan sering dikaitkan dengan kurikulum rekonstruksi sosial, yang menekankan kepada proses mengembangkan hubungan antara kurikulum dan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi masyarakat. Model kurikulum ini lebih mengutamakan kepentingan sosial daripada kepentingan individu. Setiap individu harus mampu mengenali berbagai permasalahan yang ada di dalam masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan yang sangat cepat. Dengan pemahaman tersebut, maka akan memungkinkan individu dapat mengembangkan masyarakatnya sendiri.

Tujuan utama kurikulum dalam perspektif ini adalah mempertemukan siswa dengan masalah-masalah yang dihadapi umat manusia. Ada 3 kriteria yang harus diperhatikan dalam proses mengimplementasikan kurikulum ini. Ketiganya menurut pembelajaran nyata (real), berdasarkan pada tindakan (action), dan mengandung nilai (values).

Ketiga kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
1. Siswa harus memfokuskan pada satu aspek yang ada di dalam masyarakat yang dianggapnya perlu untuk diubah.
2. Siswa harus melakukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi masyarakat itu.
3. Tindakan siswa harus didasarkan pada nilai (values), apakah tindakan itu patut dilaksanakan atau tidak; apakah memerlukan kerja individual atau kelompok atau bahkan keduanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar