Minggu, 21 November 2010

Pendekatan dan model Pengembangan kurikulum

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kurikulum adalah kata yang sudah lazim digunakan dalam dunia pendidikan. Tanpa adanya kurikulum maka tidak akan ada acuan yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Akibatnya proses pembelajaran akan menjadi tidak terarah dan tidak terkontrol, sehingga sulit untuk mengetahui apakah tujuan diadakannya kegiatan belajar mengajar telah tercapai atau tidak. Istilah kurikulum pertma kali digunakan pada dunia olahraga zaman Yunani kuno, yang berasal dari kata curir dan curere. Pada waktu itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Namun, dalam dunia pendidikan dewasa ini para ahli pendidikan memiliki penafsiaran berbeda tentang kurikulum. Kurikulum diperuntukkan bagi anak didik untuk dapat mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Sebuah kurikulum meliputi perencanaan pengalaman belajar, serta perencanaan program pembelajaran demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Jadi, kurikulum tidak hanya menyangkut perencanaan materi yang akan dipelajari, tetapi juga tentang tata cara mengajarkan materi tersebut kepada para siswa. Intinya, kurikulum merupakan sebuah dokumen perencanaan yang berisi tentang tujuan yang harus dicapai, isi materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi sebagai tolak ukur pencapaian tujuan, serta implementasi dari dokumen yang dirancang dalam bentk nyata.
Tata cara pengembangan kurikulum adalah hal terpenting yang harus dipahami oleh para pendidik. Pemahaman tentang pengembangan kurikulum akan memudahkan para pendidik dalam memaksimalkan proses belajar mengajar. Hal ini juga akan memudahkan dalam mengevaluasi sistem pembelajaran yang digunakan, sehingga pendidik dapat mengetahui apakah tujuan telah dicapai secara maksimal atau belum. Karena berbagai pertimbangan diatas, maka "Pengembangan Kurikulum" menjadi sesuatu yang sangat penting bagi para pendidik. Sebagai calon pendidik, akan menjadi sebuah keputusan yang bijak untuk memahami tentang "Pengembangan Kurikulum" sejak dini.
B. Tujuan
1. Memahami berbagai jenis pendekatan kurikulum.
2. Mamahami berbagai model pengembangan kurikulum
C. Manfaat
1. Menambah wawasan tentang dasar-dasar ilmu pendidikan.
2. Meningkatkan pemahaman para calon pendidik mengenai hakekat pengembangan kurikulum.
3. Membantu para calon pendidik dalam memahami tata cara pengembangan kurikulum.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendekatan Pengembangan Kurikulum
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Pendekatan pengembangan kurikulum menunjuk pada titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum menunjuk pada titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum mempunyai makna yang cukup luas. Menurut sukmadinata, pengembangan kurikulum bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curiculum constraction), bisa juga menyempurnakan kurikulum yang sudah ada (curiculum improvement). Selanjutnya, beliau juga menjelaskan, pada satu sisi pengembangan kurikulum berarti menyusun seluruh perangkat kurikulum mulai dari dasar-dasar kurikulum, struktur dan sebaran mata pelajaran, garis-garis besar program pengjaran, sampai dengan pedoman-pedoman pelaksanaan (macro curiculum).
Dilihat dari cakupan pengembangannya apakah curiculum construction atau curiculum improvement, ada dua pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum. Pendekatan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan Top Down
Pendekatan Top Down atau pendekatan administratif, yaitu pendekatan dengan sistem komando dari atas ke bawah. Dikatakan pendekatan Top Down, disebabkan pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif para pejabat pendidikan atau para administrator atau dari para pemegang kebijakan (pejabat) pendidikan seperti dirjen atau kepala Kantor Wilayah. Selanjutnya dengan menggunakan semacam garis komando, pengembangan kurikulum menetes ke bawah. Oleh karena dimulai dari atas itulah, pendekatan ini juga dinamakan line staff model. Biasanya pendekatan ini banyak dipakai di negara-negara yang memiliki sistem pendidikan sentralisasi.
Dilihat dari cakupan pengembangannya, pendekatan top down bisa dilakukan baik untuk menyusun kurikulum yang benar-benar baru (curiculum constraction) ataupun untuk penyempurnaan kurikulum yang sudah ada (kurikulum improvement). Prosedur kerja atau proses pengembangan kurikulum model ini dilakukan kira-kira sebagai berikut:
1. Langkah pertama, dimulai dengan pembentukan tim pengarah oleh pejabat pendidikan. Anggota tim biasanya terdiri dari pejabat yang ada di bawahnya, seperti para pengawas pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan bisa juga ditambah dengan para tokoh dari dunia kerja. Tugas tim pengarah ini adalah merumuskan konsep dasar, garis-garis besar kebijakan, menyiapkan rumusan falsafah, dan tujuan umum pendidikan.
2. Langkah kedua, adalah menyusun tim atau kelompok kerja untuk menjabarkan kebijakan atau rumusan-rumusan yang telah disusun oleh tim pengarah. Anggota kelompok kerja ini adalah para ahli kurikulum, para ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, ditambah dengan guru-guru senior yang dianggap sudah berpengalaman. Tugas pokok tim ini adalah merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan-tujuan umum, memilih dan menyusun sequence bahan pelajaran, memilih strategi pengajaran, dan alat atau petunjuk evaluasi, serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi guru.
3. Langkah ketiga, apabila kurikulum sudah selesai disusun oleh tim atau kelompok kerja, selanjutnya hasilnya diserahkan kepada tim perumus untuk dikaji dan diberi catatan-catatan atau direvisi. Bila dianggap perlu, kurikulum itu di uji cobakan dan dievaluasi kelayakannya, oleh suatu tim yang ditunjuk oleh para administrator. Hasil uji coba itu digunakan sebagai bahan penyempurnaan.
4. Keempat, para administrator selanjutnya memerintahkan kepada setiap sekolah untuk mengimplementasikan kurikulum yang telah tersusun itu.

Dari langkah-langkah pengembangan seperti yang telah dikemukakan di atas, maka tampak jelas bahwa inisiatif penyempurnaan atau perubahan kurikulum dimulai oleh pemegang kebijakan kurikulum, atau para pejabat yang berhubungan dengan pendidikan; sedangkan tugas guru hanya sebagai pelaksana kurikulum yang telah ditentukan oleh para pemegang kebijakan.

2. Pendekatan Grass Roots
Pada model grass roots, inisiatif pengembangan kurikulum dimulai dari lapangan atau dari guru-guru sebagai implementator, kemudian menyebar pada lingkungan yang lebih luas, makanya pengembangan kurikulum ini disebut juga pengembangan kurikulum dari bawah ke atas. Oleh karena sifatnya yang demikian, maka pendekatan ini lebih banyak digunakan dalam penyempurnaan kurikulum (curiculum improvemnt), walaupun dalam skala yang terbatas mungkin juga digunakan dalam pengembangan kurikulum baru (curiculum constraction).
Minimal ada dua syarat sebagai kondisi yang memungkinkan pendekatan grass root dapat berlangsung. Pertama, manakala kurikulum itu benar-benar bersifat lentur sehingga memberikan kesempatan kepada setiap guru secara lebih terbuka untuk memperbarui atau menyempurnakan kurikulum yang sedang diberakukan. Kurikulum yang bersifat kaku, yang hanya mengandung petunjuk dan persyaratan teknis sangat sulit dilakukan pengembangannya dengan pendekatan ini. Kedua, pendekatan grass root hanya mungkin terjadi jika guru memiliki sikap professional yan tinggi disertai kemampuan yang memadai.

Ada beberapa langkah penyempurnaan kurkulum yang dapat kita lakukan manakala enggunakan pendekatan grass root ini. Langkah-lankah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menyadari adanya masalah. Pendekatan grass root biasanya diawali dari keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku. Misalnya dirasakannya ketidakcocokan penggunaan strategi pembelajaran, atau kegiatan evaluasi seperti yang diharapkan, atau masalah kuangnya motivasi belajar siswa, sehingga kita merasa tertanggu dan lain sebagainya. Pemahaman dan ksadaran guru akan adanya suatu masalah merupakan kunci dalam grass root. Tanpa adanya kesadaran masalah tidak mingkin grass roots dapat berlangsung.
2. Mengadakan refleksi. Kalau kita merasakan adanya masalah, maka selanjutnya kita berusaha mencari penyebab muncunya masalah tersebut. Refleksi dilakukan dengan mengkaji literature yang relevan. Misalnya dengan membaca buku, jurnal hasil penelitian yang relevan dengan masalah yan kita hadapi, atau mengkaji sumber informasi lain. Misalnya melacak sumber-sumber dari internet, atau melakukan diskusi dengan teman sejawat dan mengkaji sumber dari lapangan.
3. Mngajukan hipotesis atau jawaban sementara. Berdasarkan hasl kajian refleksi, selanjutnya uru memetakan berbagai kemungkinan munculnya masalah dan cara penanggulangannya.
4. Menentukan hipotesis yang sangat mungkin dekat dan dapat dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan. Tidak mungkin berbagai kemungkinan bias kita laksanakan. Dalam langkah ini kita hanya memilih kemungkinan yang dapat dilakukan dan selanjutnya merncanakan apa ynag harus kita lakukan untuk mengatasi masalah ersebut. Disamping itu kita juga dapat memperhitungkan berbagai kemungkinan yang akan muncul, misalnya berbagai hambatan yang akan terjadi sehingga lebih dini kita akan dapat mengatasi hambatan-hambatn tersebut.
5. Mengimplementasikan perencanaan dan mengevaluasinya secara terus-menerus hingga terpechkan masalah yang dihadapi. Alam proses pelaksaannya, Kita dapat berkolaborasi atau meinta pendapat teman sejawat.
6. Membuat dan menyusun laporan hasil pelaksanaan pengembangan melalui grass roots. Langkah ini sangat penting untuk dilakukan sebagai bahan publikasi dan diseminasi, sehingga memungkinkan dapat dimanfaatkan dan diterapkan oleh orang lain yang pada gilirannya hasil pengembangan dapat tersebar.

B. MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
Dalam pengembangan kurikulum ada beberapa model yang dapat digunakan. Tiap model memiliki kekhasan tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan kurikulumnya itu sendiri maupun dilihat dari tahapan pendekatannya maupun pengembangannya;
1. Model Tyler
Pengembangan kurikulum model Tyler yang dapat ditemukan dalam buka classis yang sampai sekarang banyak dijadikan rujukan pada proses pengembangan kurikulum. Dalam model ini, ada 4 hal yang dianggap fundamental untuk mengembangkan kurikulum :
1. Menentukan tujuan
2. Menentukan pengalaman belajar
3. Mengorganisasi pengalaman belajar
4. Evaluasi
2. Model Taba
Berbeda dengan model yang dikembangkan Tyler, model taba lebih menitikberatkan pada bagaimana mengembangkan kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempurnaan. Oleh karena itu dalam model ini dikembangkan tahap-tahap yang harus dilakukan oleh para pengembang kurikulum.

Ada 5 langkah pengembangan kurikulum model Taba:
1. Menghasilkan unit-unit percobaan
2. Menguji coba unit eksperimen untuk menentukan validitas dan
kelayakan penggunaannya
3. Merivisi dan mengonsolidasi unit eksperimen
4. Mengembangkan keseluruhan rangka kurikulum
5. Mengimplementasi kurikulum yang telah teruji
3. Model Oliva
Menurut olive suatu model kurikulum harus bersifat simpel, komprensif, dan sistematik. Menurut olive model yang dikembangkan ini dapat digunakan dalam beberapa dimensi. Yang pertama untuk menyempurnakan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khsus misalkan penyempurnaan kurikulum bidang studi tertentu disekolah, baik dalam tataran perencanaan kurikulum maupun dalam proses pembelajarannya. Kedua, model ini juga dapat digunakan untuk membuat keputusan dalam merancang program kurikulum. Ketiga model ini dapat digunakan dalam program pembelajaran secara khusus.
4. Model Beauchamp
Model ini dinamakan system Beauchamp, karena memang diciptakan dan dikembangkan oleh Bauchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan ada lima langkah dalam proses pengembangan kurikulum.
a. Menetapkan wilayah atau arena yang akan melakukan perubahan suatu kurikulum. Wilayah itu bias terjadi pada hanya satu sekolah, satu kecamatan, kabupaten, atau mungkin tingkat provinsi dan tingkat nasional.
b. Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pngembangan kurikulum. Ia menyarankan untuk melibatkan seluas-luasnya para tokoh di masyarakat. Baik itu para ahli/ spesialis kurikulum, para ahli pendidikan serta para professional dalam bidang lain.
c. Menetapkan prosedur yang akan ditempuh, yaitu dalam hal merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar serta menetapkan evaluasi. Keseluruhan prosedur itu selanjutnya dapat dibagi dalam lima langkah:
1). Membentuk tim pengembang kurikulum
2). Melakukan penilaian terhadap kurikulum yang sedang berjalan
3). Melakukan studi atau penjajakan tentang penentuan kurikulum baru
4). Merumuskan kriteria dan alternative pengembang kurikulum
5). Menyusun dan menulis kurikulum yang dikehendaki
d. Implementasi kurikulum. Pada tahap ini perlu dipersiapkan secara matang berbagai hal yang dapat berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap efektivitas penggunaan kurikulum.
e. Melaksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut:
1). Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di sekolah
2). Evaluasi terhadap desain kurikulum
3). Evaluasi keberhasilan amak didik
4). Evaluasi system kurikulum

5. Model Wheeler
Menurut Wheller, pengembangan kurikulum merupakan suatu proses ynag membentuk lingkaran yang terjadi secara terus menerus. Dimana ada lima fase (tahap). Setiap tahap merupakan pekerjaan yang berlangsung secara sistematis atau berturut. Artinya, kita tidak mungkin dapat menyelesaikan tahapan kedua manakala tahapan pertama belum terselesaikan. Namun demikian, manakala setiap tahap sudah selesai dikerjakan, kita akan kembali pada tahap awal. Deikian proses pengembangan sebuah kurikulum berlangsung tanpa ujung.
Wheller berpendapat, pengembangan kurikulum terdiri atas lima tahap, yakni:
a. Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus.
b. Menentukan pengalaman belajar yang mungkin dapat dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam langkah pertama.
c. Menentukan isi atau materi pembelajaran sesuai dengan pengelaman belajar
d. Mengorganisasi atau menyatukan pengalaman belajar dengan isi atau materi belajar
e. Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan

6. Model Nicholls
Dalam bukunya Developing a Curriculum: a Practical Guide (1978), Howard Nicholls menjelaskan bahwa pendekatan pengembangan kurikulum terdiri atas elemen-elemen kurikulum yang membentuk siklus.
Model pengembangan kurikulum Nicholls menggunakan pendekatan siklus seperti model Wheeler. Model Nicholls digunakan apabila ingin menyusun kurikulum baru yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi.Ada lima langkah pengembangan kurikulum menurut Nicholls, yaitu:
a. Analisis sesuatu
b. Menentukan tujuan khusus
c. Menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran
d. Menentukan dan mengorganisasi metode
e. Evaluasi

7. Model Dynamic Skilbeck
Menurut Skilbeck, model pengembangan kurikulum yang ia namakan model Dynamic,b adalah model pngembangan kurikulum pada level sekolah (School Nased Curriculum Development) Skilbeck menjelaskan model ini diperuntukkan untuk setiap guru yang ingin mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Agar proses pengembangan berjalan dengan baik, maka setiap pengembang termasuk guru perlu memahami lima elemen pokok yang dimulai dari mennganalisis situasi sampai pada melakukan penilaian. Skilbeck menganjurkan model pengembangan kurikulum yang ia susun dapat dijadikan alternative dalam pengembangan kurikulum tingkat sekolah. Menurut Skilbeck langkah-langakah pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut:
a. Menganalisis sesuatu
b. Memformulasikan tujuan
c. Menyususn program
d. Interpretasi dan implementasi
e. Monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pendekatan pengembangan kurikulum ada 2 jenis, yaitu Pendekatan Top Down sebagai pendekatan dengan sistem komando dari atas ke bawah, dan Pendekatan Grass-Root sebagai inisiatif pengembangan kurikulum yang dimulai dari lapangan atau dari guru-guru sebagai implementator, kemudian menyebar pada lingkungan yang lebih luas, atau disebut juga pengembangan kurikulum dari bawah ke atas.
2. Model-model pengembangan kurikulum meliputi:
a. Model Tyler,
b. Model taba
c. Model Oliva
d. Model beauchamp
e. Model Wheeler
f. Model Nicholls
g. Model dynamic skilbeck

B. Saran
` Dengan adanya m,akalah ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan para calon pendidik tentang pendekatan dan model pengembangan kurikulum.

DAFTAR PUSTAKA

Sanjaya Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana
http://www.scribd.com/doc/32248702/Prinsip-Pengembangan-Kurikulum-Endick



CHAPTER I
INTRODUCTION

A. Background
The curriculum is a word that is commonly used in education. Without the curriculum will not be any reference that is used in teaching and learning. As a result, the learning process will be unfocused and uncontrolled, making it difficult to know whether the purpose of the teaching and learning activities have been achieved or not. The term curriculum is used pertma time in the world of sports ancient Greece, which comes from the word curir and curere. At that time the curriculum is defined as the distance that must be taken by a runner. However, in today's education world education experts have penafsiaran differently about the curriculum. The curriculum is for students to be able to develop learners in accordance with the objectives to be achieved. A curriculum includes planning learning experiences, and planning of learning programs to achieve those objectives. So, not only about planning curriculum materials that will be studied, but also regarding the procedure of teaching material to students. In essence, the curriculum is a planning document that contains the goals to be achieved, the content materials and learning experiences that must be students, strategies, and how that can be developed, evaluated as a benchmark of achievement goals, and implementation of a document designed in real form.
The procedure for curriculum development is the most important thing that must be understood by educators. An understanding of curriculum development will allow the educators in maximizing the learning process. This will also facilitate in evaluating the learning system is used, so that educators can find out whether the objectives have been achieved maximal or not. Due to various considerations above, the "Curriculum Development" becomes something very important for educators. As a prospective educator, will be a wise decision to understand about the "Curriculum Development" early on.
B. Purpose
1. Understanding the various types of curriculum approaches.
2. Understanding the various models of curriculum development
C. Benefits
1. Adding insight into the fundamentals of science education.
2. Improve understanding of the prospective educators about the nature of curriculum development.
3. Help prospective educators in the ways of curriculum development.
















CHAPTER II
DISCUSSION
A. Curriculum Development Approach
The approach can be interpreted as a point of departure or point of view of a person against a particular process. Curriculum development approach refers to the point of departure or point of view in general about the process of curriculum development refers to the point of departure or point of view in general about the process of curriculum development. Curriculum development has a wide meaning. According sukmadinata, curriculum development could mean the preparation of an entirely new curriculum (curiculum constraction), can also improve the existing curriculum (curiculum improvement). Furthermore, he also explained, on the one hand, means preparing curriculum development throughout the curriculum starting from the basics of curriculum, structure and distribution of subjects, the outlines of the program pengjaran, until the implementation of these guidelines (macro curiculum).
Viewed from the scope of its development if construction or curiculum curiculum improvement, there are two approaches that can be applied in curriculum development. The approach is as follows:
1. Top Down Approach
Approach Top Down or administrative approaches, namely the approach with a system of command from top to bottom. It said the Top Down approach, due to curriculum development emerged at the initiative of education officials or the administrators or the policy holders (acting) director general or head of education such as the Regional Office. Furthermore, by using such a command line, curriculum development trickled down. Therefore, starting from the top of that, this approach is also called the line staff model. Usually this approach is widely used in countries that have centralized education system.
Viewed from the scope of its development, top down approach can be done either to formulate a curriculum that is really new (curiculum constraction) or to improve existing curricula (curriculum improvement). Work procedures or processes of curriculum development of this model is roughly as follows:
1. The first step, starting with the referring team formation by education officials. Team members usually consist of officials in the bottom, like the superintendent of education, curriculum experts, discipline experts, and can also be added to the figures from the world of work. Task of steering this team is to formulate basic concepts, the outlines of policy, to prepare the formulation of philosophy, and general purpose of education.
2. The second step, is to set up teams or working groups to describe the policy or formulas that have been prepared by the referring team. Members of the group was the curriculum experts, discipline experts from universities, coupled with senior teachers are considered to have experienced. The main task of this team is to formulate objectives more operational than general goals, choose and arrange the sequence of lessons, choose instructional strategies, and evaluation tools or instructions, and to develop guidelines for the implementation of curriculum for teachers.
3. The third step, if the curriculum were compiled by a team or work group, then the results submitted to the drafting team for review and given the records or revised. If deemed necessary, the curriculum was tested and evaluated on its feasibility, by a team appointed by the administrator. The trial results were used as material improvements.
4. Fourth, the administrators then ordered to each school to implement a curriculum that has been arranged it.

From the development steps as mentioned above, it seems clear that improvement initiative or curriculum changes initiated by curriculum policy holder, or officials related to education, while teachers' duties only as the executor of the curriculum that has been determined by policy holders.

2. Grass Roots Approach
At the grass roots model, curriculum development initiative started from the ground or from the teachers as an implementer, and then spread to a wider audience, hence the development of this curriculum is also called curriculum development from bottom to top. Because it is so, then this approach is more widely used in the improvement of the curriculum (curiculum improvemnt), although on a limited scale may also be used in the development of new curriculum (curiculum constraction).
At least two terms as a condition which allows the grass roots approach to progress. First, when the curriculum actually is flexible so as to provide the opportunity for every teacher more openly to update or refine the curriculum is being diberakukan. The curriculum is rigid, which only contains instructions and technical requirements are very difficult to do development with this approach. Second, grass roots approach is only possible if the teacher has a professional attitude with a high yan sufficient capability.
There are several steps curiculum improvements that we can do when use this grass roots approach. Those steps are as follows:
1. Aware of the problem. Grassroot approach usually starts from the anxieties of teachers about the curriculum and regulations. For example, she felt incompatibility use of learning strategies, or evaluation activities as expected, or problems kuangnya student motivation, so we feel tertanggu and so forth. Understanding and ksadaran teachers there will be a key issue in the grass root. Without the awareness of the problem is not mingkin grass roots can take place.
2. Organizing reflection. If we felt there was a problem, we then we tried to find the cause of the existence of the problem. Reflection is done by reviewing the relevant literature. For example, by reading books, research journals relevant to the problems we face yan, or examine other sources of information. For example, to track the sources of the Internet, or conduct discussions with colleagues and assess the sources of the field.
3. Ask for a hypothesis or answer a while. Based on the result studies reflection, then make the map of the possibilities of the problem and how to overcome it.
4. Determining the most likely hypothesis is that close and can be done in accordance with the situation and condition of the field. There's no way we carry out a variety of possible bias. In this step we only choose the possibilities that can be done and further which plan what we must do to overcome the problem. Besides, we also can take into account the various possibilities that will arise, for example, various obstacles that would happen so early we will be able to overcome these problem.
5. Implement plan and evaluate on an ongoing basis until problems are solved. Natural process, we can collaborate or ask for the opinion of our colleague.
6. Create and prepare reports on the results of the implementation of development through grass roots. This step is very important to do as the publication and dissemination of materials, allowing to be used and applied by others which in turn is the result of the development can be spread.

B. CURRICULUM DEVELOPMENT MODELS
In developing the curriculum there are several models that can be used. Each model has a certain particularity nice views of the breadth of its curriculum development itself and the views of the stages of its approach and its development;
1. Model Tyler
Tyler's curriculum development model that can be found in open classis that until now much used as a reference to the process of curriculum development. In this model, there are 4 things that are considered fundamental to develop the curriculum:
1. Determining goals
2. Determining the learning experience
3. Organizing learning experiences
4. Evaluation
2. Taba Model
Unlike the model developed by Tyler, Taba model is more focused on how to develop the curriculum as a process of improvement and refinement. Therefore in this model developed stages that must be done by the developers of the curriculum. There are 5 steps Taba curriculum development model:
1. Produce experimental units
2. Test the experimental unit to determine the validity and
feasibility of its use
3. Revise and consolidate the unit experiments
4. Develop the overall framework of the curriculum
5. Implement a curriculum that has been tested
3. Model Oliva
According to the olive of a model curriculum should be simple, komprensif, and systematic. According to the olive model developed can be used in several dimensions. The first is to improve the school curriculum in the areas of improvement eg khsus certain subjects in school curricula, both at the level of curriculum planning and in the learning process. Second, this model can also be used to make decisions in designing the program curriculum. All three models can be used in the learning program in particular.
4. Beauchamp Model
This model is called the Beauchamp system, because it was created and developed by Beauchamp a curriculum expert. Beauchamp suggests there are five
Steps in the process of curriculum development:
a. Define the area that will make changes to a curriculum. Areas that can occur in only one school, one sub-district, district, or perhaps the provincial level and the level of notional.
b. Assign people to be involved in the process of curriculum development. Beauchamp suggested to involve the broadest leaders in the community. The people who should be involved is composed of the professional in curriculum specialists, education experts including teachers who are considered experienced, other professionals in the field of education (such as librarians, laboratory, educational consultant, etc.), and professionals in other fields along with community leaders (politicians, industrialists, businessmen, etc.).
c. Establish procedures that will be pursued, namely in terms of formulating common goals and specific objectives, selecting content and learning experiences and establish evaluation. The entire procedure can be further divided into five steps:
1) Establish a curriculum development
2) Conduct an assessment of the ongoing curriculum
3) Conduct or exploratory studies concerning the determination of the new curriculum
4) Formulate the criteria and the alternative curriculum development
5) Develop and write the desired of curriculum
d. Implementation of the curriculum. At this stage needs to be carefully various things that can affect either directly or indirectly on the use of curriculum effectiveness, such as teachers' understanding about curriculum, facilities or facilities that are available, school management, and so forth.
e. Done involving curriculum evaluation:
1) Evaluation of implementation of the curriculum by teachers in school
2) Evaluation of curriculum design
3) Evaluate the success of their students
4) Evaluation of the curriculum system
5. Wheeler Model
According to Wheeler curriculum development is a process which forms a circle. Curriculum development process occurs continuously. Wheeler believes the curriculum development process consists of five phases (stages). Each stage is a work that took place in a systematic or consecutive. That is, we can not possibly complete the second phase if the first phase have not been resolved. However, when each phase is completed, we return to the initial stage. Similarly, the curriculum development process take place without the tip. Wheeler argues that curriculum development consists of five stages:
a. Determining the general purpose and special. The general objective can be a normative goals that contain philosophical goal (AIM) or practical purposes (goals). While specific goals are goals that are specific and observable (objective) that is easily measured the reach of goals
b. Determining the learning experience that may be performed by students to achieve the goals formulated in the first step.
c. Determining the content or learning materials in accordance with the learning experience.
d. Organize or unify the learning experience with the content or learning materials.
e. To evaluate each phase of development and achievement of goals.
6. Nicholls Model
In his book Developing a Curriculum: A Practical Guide (1978), Howard Nicholls explained that the curriculum development approach consists of the elements that make up the cycle curriculum. Nicholls curriculum development model using the approach as a model cycle Wheeler. Nicholls model is used if you want to develop a new curriculum that resulted from the change sitiasi. According to Nicholls there are five steps of curriculum development, namely:
a. Analysis of situation
b. Define specific objectives
c. Define and organize the content
d. Determining and organizing methods
e. Evaluation
7. Dynamic Skilbeck Model
According to Skilbeck, curriculum development model that he calls Dynamic model, is a model of curriculum development at school level (School Nased Curriculum Development). Skilbeck explains the model is intended for every teacher who wants to develop a curriculum appropriate to the needs of the school. For the development process goes well, then any development including teachers need to understand the five basic elements that starts from analyzing the situation until the assessment. Skilbeck encourage curriculum development model that he set up can be an alternative in the development curriculum school level. According skilbeck curriculum development steps are:
a. Analyzing the situation
b. Formulate goal
c. Develop programs
d. Interpretation and implementation
e. Monitoring, feedback, assessment and reconstruction.







CHAPTER III
CLOSING

A. Conclusion
1. Curriculum development approach there are 2 types, namely top down approach as an approach with a system of command from top to bottom, and the Grass-Root approach as a curriculum development initiative that began from the field or from the teachers as an implementer, and then spread to the wider environment, or also known as curriculum development from bottom to top.
2. Models of curriculum development include:
a. Model Tyler
b. Taba Model
c. Model Oliva
d. Model Beauchamp
e. Wheeler model
f. Nicholls Model
g. Dynamic model skilbeck
B. Suggestion
`With the m, his paper has, is expected to increase the knowledge of prospective educators about approaches and models of curriculum development.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar