Senin, 19 Juni 2017

Cerita Tentang Mimpi



Pernahkah melihat seorang tertidur lelap namun matanya bergerak-gerak? Maksud saya, kelopak matanya tetap tertutup, namun bola mata di dalamnya nampak bergerak ke kiri dan ke kanan. Bukan gerakan yang pelan, tetapi gerakan yang agak cepat. Jika pernah, kemungkinan anda saat itu sedang menyaksikan seorang yang terjaga dalam mimpinya. Jika belum pernah, kemungkinan ada seorang lain yang pernah menyaksikan bola mata anda bergerak-gerak cepat saat sedang tidur. 

Satu hal saya yakini, kita semua pernah bermimpi, tentu dengan seribu satu jenis dan keanehannya. Pernah suatu hari, saya bermimpi dalam mimpi. Saat merasa sudah terbangun dari mimpi, ternyata saya masih sedang bermimpi. Lalu, ada yang lebih aneh lagi. Suatu malam, saya bermimpi sedang beradu kekuatan dengan seseorang, entah siapa. Tiba-tiba saya membatin, "Ah, buat apa beradu kekuatan, ini kan cuma mimpi. Sehebat apapun kamu, saya tetap akan baik-baik saja." Tiba-tiba saya sadar kejadian itu hanya mimpi. Entah bagaimana.

Ada begitu banyak misteri tentang mimpi. Mengapa kita bisa bermimpi? Bagamana proses terjadinya mimpi? Apakah mimpi itu bisa berpengaruh baik ataukah justru berpengaruh buruk pada si pemimpi? Berbagai hal tentang mimpi ini telah menjadi topik penelitian para ahli. Mereka mencoba mencari tahu hubungan antara mimpi dan fungsi otak, termasuk bagaimana otak bekerja selama bermimpi, dalam suatu cabang ilmu yang disebut Oneirology. 

***


Bagaimana para saintis menjelaskan proses berlangsungnya mimpi? Menurut penjelasan beberapa sumber yang mengkaji tentang mimpi, tahapan tidur yang berkaitan dengan terjadinya mimpi adalah tahap Rapid Eye Movement (REM). Masih ingat teman yang bola matanya bergerak-gerak cepat saat tertidur tadi? Nah, saat itulah dia berada pada tahap REM .

Selama tertidur, misalnya saat tidur di malam hari, kita melalui beberapa siklus tidur. Setiap siklus terdiri atas empat tahapan, yaitu Non-Rapid Eye Movement stage 1 (NREM 1), NREM 2, NREM 3, dan Rapid Eye Movement (REM). Seperti layaknya suatu proses, setiap tahapan tersebut memiliki tingkat aktivitas yang berbeda. 

NREM 1 dan NREM 2 disebut pula "light sleep." Pada tahap NREM 1 yang berlangsung antara 1 hingga 10 menit ini, kita dapat terbangun dan merasa tidak tidur sama sekali. Ah, mungkin tahapan ini yang sering saya alami saat bosan membaca sambil tiduran di kamar. Tiba-tiba tersentak, lalu kebingungan, tadi itu saya tidur atau tidak, ya? Hehe.. 

Jika berhasil melewati NREM 1 tanpa terbangun, kita memasuki NREM 2. Tahap ini dapat berlangsung sekitar 20 menit, di mana denyut jantung melambat, temperatur tubuh menurun, dan tubuh menurunkan aktivitas metabolik untuk bersiap memasuki NREM 3 atau disebut pula "deep sleep."

Kita dapat memasuki tahap deep sleep setelah tertidur selama kurang lebih 35 - 40 menit. Pernahkah anda melewatkan waktu sahur karena tidak mendengar bunyi alaram dan suara gaduh anak-anak yang keliling kompleks membangunkan sahur? Saat kita dapat mengabaikan berbagai gangguan eksternal saat tertidur, saat itulah kita berada pada tahapan NREM 3. Jika terbangun pada tahapan ini, akan muncul rasa pusing atau disorientasi selama beberapa menit pertama.

Jika berhasil melewati NREM 3 tanpa terbangun, kita dapat memasuki tahapan terakhir dari suatu siklus tidur, yaitu tahap Rapid Eye Movement (REM). Tahap ini biasanya terjadi setelah seseorang tertidur minimal 90 menit dan berlangsung selama 10 menit. Ketika siklus tidur terulang, tahapan ini bisa menjadi lebih lama, hingga mencapai 1 jam. Selain adanya gerakan mata yang cepat, tahap ini juga ditandai dengan adanya peningkatan detak jantung dan laju pernapasan dengan ritme yang tidak beraturan. Well, akhirnya, ini menjawab pertanyaan saya selama ini "Kenapa saya mimpinya kebanyakan menjelang pagi?" Ini juga menjawab kebingungan tentang mengapa beberapa kali saya sampai keringatan, padahal kejar-kejarannya hanya dalam mimpi?

Masih ada satu pertanyaan lagi yang membuat saya penasaran, mengapa saat bermimpi kita bisa merasa seperti tidak sedang bermimpi? Saya belum berhasik kita beradal menemukan jawaban yang pasti. Hipotesis saya, hal ini terkait dengrtan gelombang otak yang meningkat selama proses bermimpi, hingga menyerupai gelom,bang otak saat sedang terjaga.

Bagaimana gelombang otak saat sedang terjaga? Ketika seharian beraktivitas, mengerjakan berbagai hal, dan mengalami berbagai emosi, otak menunjukkan gelombang beta. Tipe gelombang ini memiliki frekuensi yang tinggi, namun dengan amplitudo yang kecil (berarti gelombangnya tidak tinggi), dan polanya tidak konsisten (desynchronous). Otak menunjukkan tipe gelombang dengan frekuensi yang lebih rendah, amplitudo lebih besar, dan pola yang lebih teratur saat kita berada pada kondisi rileks (masih terjaga). Tipe gelombang inilah yang disebut gelombang alpha. Memasuki tahapan awal siklus tidur, frekuensi gelombang otak semakin menurun dengan amplitudo yang semakin besar, disebut gelombang theta. Memasuki tahapan tidur yang lebih dalam, deep sleep, otak menunjukkan gelombang delta, yaitu gelombang dengan frekuensi terendah dan amplitudo tertinggi.

Ketika seseorang bermimpi, yang terjadi pada tahap REM, gelombang otak menunjukkan pola yang serupa dengan gelombang otak saat terjaga, yakni kombinasi gelombang alpha, beta, dan pola gelombang yang tidak konsisten. Uniknya, meskipun otak menunjukkan aktivitas yang meningkat, otot-otot tubuh berada pada kondisi tidak bergerak (inert).      

Meskipun berbagai penelitian telah mampu menjelaskan aktivitas otak selama terjadinya mimpi, para peneliti masih belum bisa menjelaskan fungsi mimpi itu sendiri. Bagaimana menurut teman-teman, apakah mimpi itu bermanfaat?


Sumber bacaan:
1. Tahapan-tahapan tidur
2. Mekanisme mimpi




1 komentar:

  1. Nah saya sering itu, dalam mimpi sadar kalau saya hanya mimpi hahaha

    BalasHapus