Jumat, 16 Juni 2017

Cinta Pertama



CINTA PERTAMA






Suatu sore, saya menjenguk tante yang baru saja melahirkan seorang bayi perempuan. Sambil mengganti pakaian bayinya, tante berusaha berkomunikasi seakan-akan bayi ini sudah paham apa yang dikatakannya. Saya hanya membatin “Bayi kan belum bisa berkomunikasi, ditanya papun tidak akan dijawab juga.” Saya tidak mengerti, mengapa orang dewasa mau repot-repot berkomunikasi dengan anak kecil?

Kebingungan saya berlangsung cukup lama, hingga suatu hari saya mendapati Enda, adik saya, sedang melakukan hal yang sama – berkomunikasi dengan Difa, seakan-akan Difa mengerti apa yang dikatakannya. Difa adalah ponakan saya, yang waktu itu masih berumur beberapa bulan.

“Kamu bngobrol sama Difa? Memangnya dia ngerti?”

“Iya lah kak. Ajak saja bicara, lama-lama dia paham sendiri.”

Itu pertama kali saya paham, mengapa orang dewasa selalu berusaha berkomunikasi dengan anak kecil – untuk membuat mereka paham. Mungkin dengan begitu pula, akhirnya bayi bayi yang lahir di belahan bumi berbeda bisa berkomunikasi dengan cara berbeda. Tapi tetap saja, saya tidak bisa banyak berkomunikasi dengan Difa, karena saya harus pergi untuk waktu yang cukup lama.



***



Saya tidak pernah benar-benar menyukai anak kecil, hingga saya bertemu kembali dengan Difa beberapa bulan lalu. Ada begitu banyak tingkah tak terduga dari bocah ini. Kadang membuat saya bingung, kadang juga sampai tertawa karena kekonyolannya.

Suatu malam, saya menonton TV bersama Difa. Tapi, anak kecil yang kini sudah berusia tiga tahun itu tidak peduli dengan siaran TV yang saya tonton. Dia lebih tertarik bermain dengan tumpukan kartu Dora The Explorer berwarna merah jambu di hadapannya. Bentuk kartu itu sama seperti kartu joker yang dimainkan orang dewasa, hanya desain gambarnya saja yang berbeda.

Untuk memainkan kartu itu, Difa biasanya menyusunnya secara berurutan hingga membentuk persegi panjang. Sambil menyusun, biasanya juga sambil bernyanyi “One little two little three little busses ….” Tentu dengan artikulasi khas anak kecil, yang saya pun tidak akan paham jika saja tidak pernah mendengar lagu itu sebelumnya.

Jika biasanya Difa bermain dengan menyusun kartu, kali ini dia tidak tampak menyusun, tidak pula sambil menghitung atau bernyanyi. Setelah saya perhatikan, ternyata kartu itu dirobeknya menjadi bagian-bagian kecil. Tapi, bukan dengan tangan, melainkan dengan giginya. Saya membiarkannya, saya pikir wajar saja anak kecil menggigit-gigit atau merobek benda-benda yang dianggapnya mainan.

Satu kartu selesai dirobek. Lalu, diambil lagi kartu kedua dan ketiga. Mulai curiga, jangan-jangan Difa akan merobek semua kartu di hadapannya. Karena penasaran, saya akhirnya bertanya.

“Difa, kamu lagi apa?”

“Bla.. Bla.. Bla.. Puzzle!”

“Puzzle? Oooh.. Bikin Difa puzzle? Hahaha…”

Ternyata kartu itu dirobek untuk membuat puzzle. Puzzle memang salah satu mainan kesukaannya. Beberapa hari yang lalu, ada dua bagian puzzle-nya yang hilang. Mungkin karena bagian yang hilang itu, Difa jadi tidak bisa menyelesaikan puzzle-nya. Mungkin, karena ingin bermain puzzle yang lengkap, dia jadi merobek-robek kartu yang bergambar Dora, gadis betualang berambut cokelat sebahu yang sering ditontonnya di TV.   

Apa jadinya jika saya hanya memperhatikan tingkahnya tanpa mau mengajaknya berkomunikasi? Saya mungkin tidak akan tahu, anak sekecil Difa, yang bicaranya pun masih belepotan, ternyata sedang berusaha membuat Puzzle. Jawaban-jawabannya yang tak terduga, dan tingkah lucunya, semakin membuat saya jatuh cinta. Itulah salah satu dari begitu banyak tingkah lucu Difa, anak kecil pertama yang membuat saya jatuh cinta.

#15harimenulis



    




Tidak ada komentar:

Posting Komentar