Minggu, 11 Juni 2017

Hal Yang Belum Bisa Saya Lakukan



"Jadi bagaimana, dok? Apa ada makanan yang perlu saya hindari?"
"Iya, kurangi jenis makanan yg mengandung MSG."

Masih terekam jelas percakapan singkat dengan seorang dokter di salah satu klinik perawatan kulit empat tahun yang lalu. Saat itu, dokter menyarankan untuk menghindari makanan ber-monosodium glutamat (MSG), salah satu kandungan bahan penyedap yang menjadi rahasia gurihnya masakan di meja makan. Jadilah saya melewati hari-hari panjang dengan makanan yang nyaris datar tanpa penyedap rasa, demi kulit wajah yang membaik.

Apa hubungannya makanan ber-MSG dan kulit wajah? Entahlah. Tapi, makanan ber-MSG diduga bisa menjadi salah satu pemicu jerawat. Sayangnya, usaha menjalani hari-hari datar tanpa penyedap tak memberi hasil signifikan. Kulit masih saja bermasalah dengan jerawat.

***

"Dengarkan, kamu harus berhenti makan cokelat!"
"Kenapa harus berhenti?"
"Cokelat merk ini kan banyak mengandung gula, dan gula berlebih memicu jerawat. Kamu beli banyak krim wajah, tapi tetap makan gula, mana bisa kulitmu sembuh."

Adalah Mit, mahasiswi jurusan teknologi makanan, yang waktu itu menganjurkan menghentikan konsumsi cokelat, snack, dan semua jenis makanan manis. Katanya, makanan manis bisa memicu jerawat. Tapi, sejauh pengetahuan saya, makanan manis itu pemicu kegemukan. Apa hubungannya manis dan jerawat? Lagipula, mana bisa saya menghentikan konsumsi gula? Makanan manis itu sumber kebahagiaan saya. You ask me to stop eating sweet? NO!

***

Meskipun belum menghentikan kebiasaan konsumsi makanan manis, saya mulai mencari tahu, apa benar gula bisa memicu jerawat? Untung ada Om Google, saya jadi bisa kepo se-kepo-kepo-nya. Informasi yang terkumpul dari berbagai artikel dari sumber sekelas www.ncbi.nlm.nih.gov cukup membuat saya menyesal telah menolak anjuran Mit. Menurut berbagai penelitian empiris, kadar gula tinggi dalam darah berpotensi menimbulkan jerawat.

Bagaimana gula bisa berkaitan dengan masalah kulit yang satu ini? Dalam hal ini, gula sebenarnya berperan sebagai pemain belakang layar. Pemeran utamanya adalah "kelenjar minyak" yang aktif memproduksi sebum secara berlebih. Kombinasi sebum berlebih dan sel kulit mati di permukaan kulit akhirnya menyumbat pori. Pori yang tersumbat lalu menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan bakteri. Tubuh akan merespon kehadiran bakteri (sebagai bentuk pertahanan non spesifik) dengan inflamasi. Karenanya, jaringan kulit disekitar pori membengkak dan memerah, menjadi benjolan yang disebut acne.

Dyhidrotestosterone (DHT), diketahui sebagai jenis hormon penyebab aktifnya kelenjar minyak memproduksi sebum berlebih. Ketika seseorang mengonsumsi gula secara berlebih, yang menyebabkan kadar gula dalam darah melampaui batas normal, tubuh akan berusaha untuk mengubah glukosa darah ini menjadi glikogen yang disimpan di otot. Untuk mengubah glukosa darah menjadi glikogen, hormon insulin dihasilkan. (Ingat pelajaran biologi sma, kan? Insulin bertugas mengubah glukosa menjadi glikogen).

Seperti sebuah tempat sebuah tempat penampungan, jumlah glikogen yang dapat ditampung otot ada batasnya. Ketika kapasitas tubuh untuk menampung glikogen sudah penuh, tubuh menjadi kurang peka terhadap insulin. Kondisi inilah yang disebut "insulin resistance."

Saat kadar glukosa darah tinggi, namun tubuh sudah mengalami resistensi terhadap insulin (insulin resistance), tubuh akan terus-menerus memproduksi insulin untuk mengubah glukosa menjadi glikogen. Namun, kondisi resisten tadi menyebabkan glukosa darah tetap tinggi. Alhasil, kadar insulin dalam darah melebihi batas normal.

Kadar insulin yang tinggi berperan dalam pembentukan Insuline Like Growth Factor 1 (IGF-1) yang mengaktifkan produksi sebum. Tidak hanya mengaktifkan IGF-1, insulin juga mengaktifkan hormon DHT yang juga berperan dalam produksi sebum berlebih. 

Singkat cerita, kadar gula darah yang tinggi dapat berujung pada produksi IGF-1 dan DHT yang berperan dalam produksi sebum berlebih.

***      

Sudah sering saya perhatikan, wajah menjadi lebih berminyak saat banyak mengonsumsi makanan yang manis manis. Hanya saja, menjalani hidup dengan asupan gula terkontrol, apalagi pola hidup Zero Sugar, masih sangat sulit.

Apakah suatu saat saya bisa mengontrol asupan gula? Apakah saya bisa meninggalkan deretan kudapan favorit? Entahlah. Tapi, harusnya saya bisa. Ini sama saja menanyakan apakah perokok bisa berhenti merokok? Jawabannya tentu bisa, jika mau berusaha! Pada akhirnya, semua memang butuh usaha. Semua butuh perjuangan. 

Sepertinya saya sudah bercerita terlalu panjang. Intinya, saya ingin suatu saat nanti, bisa menjalani pola hidup sehat, dengan makanan sehat, dengan nutrisi yang baik. Seperti kata pepatah, "You are what you eat!" Atau seperti kata Hippocrates, "Let food be your medicine, and let medicine be your food."

#15harimenulis


Bacaan Lanjutan:
Kalau mau kepoin lebih banyak artikel tentang keterkaitan gula dan acne, boleh follow link berikut:
1. Korelasi IGF-1 dan Hormon Androgen
2. Bagaimana insulin menyebabkan acne?
3. Bagaimana gula menyebabkan acne?






10 komentar:

  1. wah, jangan-jangan saya kebanyakan makan gula akhir-akhir ini. soalnya tiba-tiba muncul beberapa bintik jerawat di wajah. hiks

    BalasHapus
  2. nanya dong..
    kalau misalnya berhasil hidup tanpa gula atau zero sugar, terus asupan gula untuk tubuh bagaimana? apakah ada penggantinya atau tubuh malah terganggu karena kekurangan asupan gula?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sugar yang dimaksud disini adalah gula sederhana, seperti glukosa, sukrosa, maltosa. Gula itu manis, berasal dari karbohidrat yang tidak manis. Gula itu sederhana strukturnya, karena atom karbonnya pendek (misalnya glokusa: 6 atom karbon). Sementara karbohidrat itu kompleks, karena atom karbonnya panjang (misalnya amilum: ribuan atom karbon). Amilum yang dipotong-potong (oleh enzim), akhirnya menghasilkan glukosa. Dari kompleks ke sederhana.

      Hapus
    2. Pada zero sugar diet, yang ingin dihindari adalah peningkatan kadar glukosa darah yang drastis dalam jangka waktu singkat. Karenanya, dihindari jenis gula sederhana, dan dipilih jenis karbohidrat (misalnya pada beras merah) yang membutuhkan waktu lama dalam proses pemotongannya menjadi glukosa yang dapat dimanfaatkan tubuh untuk menghasilkan energi.

      Hapus
    3. Analoginya seperti air dari botol yang ingin ditumpahkan ke dalam gelas, lebih baik sedikit demi sedikit, daripada langsung ditumpahkan sekaligus.

      Hapus
    4. semoga terjawab pertanyaannya Daeng, saya mau bilang, kalau zero sugar diet bukan berarti tubuh tidak memperoleh asupan glukosa. akhirnya akan tetap diperoleh glukosa, tapi sedikit demi sedikit, karena harus melalui proses pemotongan oleh enzim dulu.

      Hapus
    5. Ini ada kaitannya juga dengan makanan dengan indeks glikemik rendah, yaitu tipe makanan yang butuh waktu lebih lama untuk bisa dimetabolisme hingga akhirnya diperoleh glukosa. CMIIW

      Hapus
  3. Lemak dan protein bisa menjadi pengganti gula. Dengan melakukan program jendela makan, misal 20/4. Singkatnya, saat gula dan karbo sdh stop, dan mengkonsumsi lemak dan protein sebagai. Skema metabolisme berubah, menjadi ketosis.

    BalasHapus
  4. terima kasih banyak infonya, mengingatkan kembali akan beberapa artikel yang dlu saya pernah baca karena persoalan yang sama sehingga menjelajah di dunia om google, nice sharing ade ku, we are on the same boat,,, hehhehe... berat nya impact nya habis baca ini,,, menambah list makanan yang harus saya kurangi bahkan hilangkan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah berkunjung kak nuni ^^

      Hapus