Sabtu, 17 Juni 2017

Tantangan Keabadian





Keabadian, menurut saya, adalah salah satu hal yang nyaris mustahil dimiliki manusia. Nyaris, karena ada setidaknya satu hal yang bisa dilakukan untuk mengalahkan dimensi waktu, yaitu dengan menulis. Apa jadinya jika para pendahulu kita tidak pernah menemukan cara menulis? Kita mungkin tidak akan tahu bagaimana sejarah kehidupan di masa lampau, tentang bagaimana peradaban di masa lampau.

Jauh sebelum huruf yang saat ini anda baca ditemukan, orang-orang mencoba mengabadikan kisah mereka melalui gambar. Di makam-makan Mesir kuno, ditemukan banyak gambar dengan adegan dari kehidupan orang yang dimakamkan ditempat itu. Bagi kita, rangkaian gambar itu berfungsi sebagai sumber informasi mengenai segala sesuatu tentang kehidupan masyarakat Mesir kuno di masa itu (Gombrich, 1985: 17). Peradaban Mesir kuno hadir sejak tahun 3100 sebelum masehi. Saat ini, kita sudah berada di tahun 2017 Masehi. Ini berarti, sejarah mereka telah bertahan selama kurang lebih 5100 tahun, dan masih akan terus bertahan hingga waktu yang tidak diketahui. Mungkin hingga ribuan tahun lagi, saat kita pun hanya tinggal sejarah.

Pertanyaannya, dapatkah cerita tentang kita hidup lebih lama dari jatah umur yang kita punya? Apakah sehari? Setahun? Sepuluh tahun? Ataukah ratusan tahun setelah kita tutup usia? 

***
Perkara mengabadikan sejarah zaman dulu dan zaman sekarang tentu sudah jauh berbeda. Jika masyarakat mesir kuno punya dinding-dinding kokoh dari bebatuan sebagai wadah untuk menggambar, saat ini kita punya media online untuk mengabadikan berbagai hal melalui tulisan dan juga gambar. Masing-masing media menawarkan cara tersendiri untuk mengabadikan moment, misalnya twitter melalui cuitan singkat, instagram melalui gambar, dan blog melalui tulisan. Nah, blog inilah salah satu media yang bisa dimanfaatkan untuk mengabadikan cerita, pengalaman, dan pemikiran. Seperti kata seorang bijak, “menulis adalah pekerjaan keabadian.” 

Perkara keabadian bukanlah sesuatu yang diperoleh dengan mudah, bukan juga hal yang bisa dibeli di toko-toko. Seperti proses pembangunan Piramid yang mampu berdiri kokoh hingga ribuan tahun, para pekerjanya haru rela mengangkut bebatuan di bawah teriknya matahari gurun pasir. Menulis, yang juga adalah pekerjaan keabadian, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada begitu banyak tantangan yang harus rela dilewati demi membuat satu tulisan. Namun, ketika tantangan-tantangan itu dapat teratasi, tulisan-tulisan keabadian pun akan bermunculan. 

Salah satu tantangan terbesar dalam menulis adalah komitmen untuk terus menulis. Setidaknya, ini adalah salah satu tantangan terbesar buat saya. Juli 2014, saya membuat satu blog dengan niat untuk berbagi cerita tentang pengalaman-pengalaman unik yang saya alami. Siapa sangka, tulisan kedua di blog itu baru rilis di bulan april 2015. Bahkan di blog ini, pernah ada gap postingan selama hampir empat tahun, nonaktif sejak 2012, lalu aktif kembali sejak awal 2017.

Meski sudah bertahun-tahun berkenalan dengan blog, saya belum pernah berkomitmen untuk menulis dan mengepost tulisan secara berkala. Belum pernah, hingga beberapa pekan lalu saya akhirnya ikut tantangan #15harimenulis. Mengikuti tantangan ini, berarti harus membagi waktu antara tugas di kampus dan tantangan menulis yang temanya ditentukan setiap hari. Awalnya, terasa agak gentar ketika memutuskan untuk menulis setiap hari. Pasalnya, menulis adalah pekerjaan otak, sementara tugas-tugas di kampus sudah cukup menguras pemikiran. Jika saja tidak berhasil menyelesaikan tantangan hari pertama, mungkin saya tidak akan sampai pada hari ini.  Kelalaian saya menulis setiap hari, adalah kelalaian untuk membagi waktu dengan baik.

1 komentar:

  1. Konsisten dan komitmen menulis itu penting banget ya mba, benar banget apa yang dikatakan mba pasda tulisan terakhir, selain komitmen dan konsisten juga alangkah lebih baik juga bisa menghasilkan sesuatu dari apa yang mba tulis ini :D

    BalasHapus