Sabtu, 10 Juni 2017

Tetanggaku Idolaku


 
Sebagai mahluk hidup, bagaimana mungkin kita bertahan tanpa oksigen? Sebagai mahluk sosial, bagaimana mungkin kita bertahan tanpa tetangga? Tetangga oh tetangga, kehadirannya nyaris seperti oksigen yang seringkali tidak disadari, padahal tanpanya kita bisa saja tak sanggup bertahan lebih lama.

Meskipun seringkali terabaikan, kata “tetangga” nampaknya punya nilai komersial tersendiri. Masih ingat salah satu lagu yang menggunakan kata “Selimut tetangga”? Mungkin masih ada lagu lain yang menggunakan kata tetangga, tapi lagu ini yang tertanam di ingatan karena keunikannya. Selimut tetangga itu buat apa? Entahlah. Tapi judulnya memang seperti itu. Selain menjadi bagian dari judul lagu yang unik tadi, beberapa ungkapan juga menggunakan kata ini, salah satunya “rumput tetangga selalu lebih hijau.” Tetangga oh tetangga, kapan rumput saya bisa lebih hijau?

Ada satu lagi ungkapan tentang tetangga yang juga familiar, "tetanggaku idolaku." Ungkapan ini biasanya merujuk pada mereka yang menjadikan tetangga sebagai pujaan hati. Sayangnya, saya belum punya tetangga seperti Zayn Malik yang bisa dijadikan idola karena ketampanannya. Tapi, bukan berarti saya tidak punya tetangga yang bisa dijadikan idola. Salah satunya adalah Mega, teman main masa kecil yang boleh dibilang adalah sahabat pertama saya.

Mega berkulit putih pucat dengan rambut hitam yang dipotong sebahu. Rumahnya tepat di depan rumah saya.  Mungkin karena umurnya yang lebih tua dua tahun, saya bisa belajar banyak hal darinya. Pelajaran paling berkesan darinya adalah pelajaran mencuci piring. Ya. Pengalaman mencuci piring pertama saya adalah bersama Mega. Waktu itu, dia sudah duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar (SD). Sepulang sekolah, dia kebagian tugas mencuci piring sebelum dibolehkan keluar rumah untuk bermain. Demi mempercepat dimulainya waktu bermain, saya dengan suka rela membantu Mega membilas piring-piring yang telah diberi sabun olehnya. Membantu Mega membilas piring, sama asyiknya dengan bermain air.

Selain Mega, ada juga Udin (saya lupa namanya, tapi sebut saja Udin), tetangga masa kecil yang karenanya saya bertemu dengan Nona (Bukan nama aslinya, tapi begitu kami memanggilnya). Udin adalah anak angkat Nona, seorang wanita paruh baya berkebangsaan Jerman yang fasih berbahasa Indonesia. Saya sudah duduk di bangku kelas satu SD saat Nona mengunjungi Udin. Dalam beberapa hari kunjungannya, Nona sempat menginap di rumah saya. Coba bayangkan kekaguman seorang anak kecil di pelosok Sulawesi yang melihat bule untuk pertama kalinya. Masih teringat jelas pesan Nona waktu itu. Katanya, kalau saya bisa berbahasa inggris, saya bisa ke negara mana pun yang saya suka. Nona memberi bukti nyata, dengan kemampuan bahasanya dia bisa menginjakkan kaki hingga ke ujung selatan Sulawesi.

Saya harus berterima kasih pada Mega, karenanya saya memiliki kenangan masa kecil yang tidak melulu tentang permainan, tetapi juga tentang pelajaran kehidupan. Saya harus berterima kasih pada Nona, karenanya saya termotivasi untuk terus belajar bahasa asing. Saya juga harus berterima kasih pada Udin, karena dia telah menjadi jembatan pertemuan dengan Nona. 

Mega dan Udin hanya dua dari begitu banyak tetangga istimewa yang telah mengajarkan banyak hal. Mungkin disengaja, mungkin juga tidak. Disengaja atau tidak, tetap terima kasih !     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar