Cerita Tu-SiWork: Tunanetra - Sighted Network


Suasana Trial Class TuSiWork di SLB-A Yapti Makassar




"Salah satunya, akan ada pelatihan Microsoft Office dan Bahasa Pemrograman untuk para tunanetra." Saya menjelaskan dengan penuh semangat, tentang rencana pelaksanaan pelatihan bagi Tunanetra, orang-orang dengan keterbatasan penglihatan, di SLB-A Yapti Makassar. Anehnya, hampir semua orang yang saya temui memberi pertanyaan yang serupa.

"Pelatihan komputer? Bagaimana bisa? Mereka kan tunanetra?" Seorang wanita bertanya, dengan kening yang sedikit dikerutkan.

"Iya, banyak yang bisa, Bu. Salah satunya, karena ada program pembaca layar untuk tunanetra. Jadi, mereka bisa tahu kondisi layar masing-masing."

"Wah hebat ya." Wanita itu lalu tersenyum, dengan kepala yang dianggukkan.

"Iya bu, memang hebat."



 ***


Tidak bisa dipungkiri, kebanyakan kita memang tidak tahu banyak tentang tunanetra, termasuk tentang bagaimana mereka belajar. Sebelum bergabung dengan kegiatan Tu-SiWork (Tunanetra-Sighted Network), saya sama sekali tidak tahu tentang bagaimana tunanetra belajar, selain menggunakan braille. Ada banyak hal keren tentang tunanetra yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, seperti beberapa orang yang dapat melanjutkan pendidikan master di luar negeri dengan beasiswa. Bahkan, ada pula yang mampu menghasilkan ribuan USD dengan mengelola online marketing. Masih banyak ketidak tahuan saya tentang teman-teman difabel netra ini. Saya berharap bisa belajar lebih banyak tentang dan dari mereka, melalui kegiatan Tu-SiWork.

Banyak yang kemudian bertanya-tanya, "Apa itu Tu-SiWork?" Nama Tu-SiWork memang terbilang baru di telinga. Tu-SiWork (Tunanetra-Sighted Network), secara literal diartikan sebagai jaringan antara tunanetra dengan orang-orang awas (memiliki kemampuan melihat). Sesuai dengan namanya, Tu-SiWork ini merupakan komunitas pemuda yang bertujuan untuk menghubungkan tunanetra dengan para pemuda yang berasal dari berbagai latar belakang.

Tujuan Tu-SiWork untuk menghubungan kelompok tunanetra dengan para pemuda ini bukan tanpa alasan. Ada beberapa hal yang menjadi alasan utama kegiatan Tu-SiWork. Salah satunya, karena adanya kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki tunanetra dengan para pemuda awas. Adanya kesenjangan ini, dapat berawal dari lingkungan keluarga. Di masyarakat, tidak sedikit keluarga yang memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anak difabel netra. Ada juga keluarga yang memutuskan untuk menyekolahkan anaknya saat umur anak sudah mencapai belasan tahun (remaja). Alhasil, banyak difabel netra yang sudah berumur belasan tahun, namun  masih duduk di bangku sekolah dasar.

Para penyandang disabilitas, termasuk difabel netra, memiliki hak untuk memperoleh pendidikan bermutu di semua jenjang pendidikan. Jika difabel netra juga memiliki kesempatan yang sama dengan masyarakat lainnya untuk memperoleh pekerjaan yang diselenggarakan Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau Swasta. Dua hal ini sudah dijamin oleh pemerintah melalui UU No.8 tahun 2016, yaitu pasal yang mengatur tentang hak pendidikan (Pasal 10) dan hak pekerjaan (pasal sebelas) (klik di sini).

Pemerintah telah mewajibkan Badan Usaha Milik Negara untuk mempekerjakan difabel paling sedikit 2 persen dari jumlah total pekerjanya. Ini berarti, jika para difabel netra memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan di dunia kerja, kesempatan untuk memperoleh pekerjaan menjadi lebih luas. Namun, pada kenyataannya, masih banyak difabel netra dengan keterampilan yang belum memenuhi kebutuhan penyedia lapangan pekerjaan. Hal ini tentu menjadi salah satu kendala bagi penyedia lapangan kerja yang ingin memenuhi peraturan pemerintah tadi.

Kita tentu sudah paham tentang keterampilan yang banyak dibutuhkan saat ini, seperti kemampuan berbahasa inggris, kemampuan mengoperasikan komputer, dan juga kemampuan menulis. Difabel netra, pada dasarnya, memiliki potensi untuk  meningkatkan keterampilan di ketiga bidang tersebut, hingga pada level yang sesuai dengan kebutuhan di dunia kerja, atau setidaknya pada level yang cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Hanya saja, pihak penyelenggara pendidikan bagi difabel netra membutuhkan dukungan untuk mencapai hal ini.

Salah satu bentuk dukungan bagi difabel netra dalam meningkatkan kemandirian, baik untuk memasuki dunia kerja maupun untuk melanjutkan pendidikan, dilakukan Tim Tu-SiWork melalui penyediaan pelatihan secara gratis bagi para penyandang difabel netra. Kegiatan pelatihan ini melibatkan difabel netra dari SLB-A Yapti Makassar sebagai peserta pelatihan. Pelaksana pelatihan terdiri dari tim pengajar dan partner belajar yang telah berpengalaman dalam bidang masing-masing, diantaranya bidang bahasa inggris, bidang menulis (cerita pendek dan artikel jurnalistik), dan bidang komputer (Ms. office dan Basic Programming).

Meskipun seluruh tim pengajar dan partner belajar telah memiliki pemahaman materi yang baik, kebanyakan dari mereka belum memiliki pengalaman berinteraksi dengan difabel netra, khususnya dalam proses belajar mengajar.  Karenanya, seluruh tim pengajar dan partner belajar yang saat ini berjumlah 38 orang, dibekali dengan pengetahuan untuk mendampingi proses belajar tunanetra. Pembekalan tersebut dilakukan melalui sharing session bersama Pihak Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) dan Yapti (Yayasan pendidikan Tunanetra Indonesia) pada 14 januari 2018 di Red Cafe Makassar. Selain sharing session, dilakukan pula trial-class pada 20 - 21 Januari 2018 untuk memberi pengalaman langsung bagi para tim pengajar dan partner belajar dalam menyampaikan materi dan mengelola proses belajar mengajar dengan difabel netra.

Foto Bersama Tim Tusiwork, PERTUNI, dan Yapti Setelah Sharing Session




Proses belajar mengajar dengan peserta awas tentu berbeda dengan peserta difabel netra. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, diantaranya:

  1. Cara menyapa difabel netra, dilakukan dengan menepuk punggung tangan. Tepukan pada punggung tangan akan membuat difabel netra menyadari bahwa dirinya sedang menjadi partner komunikasi bagi seseorang. Hal ini dilakukan, misalnya ketika ada difabel netra yang sedang duduk di suatu tempat dan kita baru saja tiba di tempat tersebut. Untuk memulai interaksi, misalnya untuk membantu difabel netra berpindah ke tempat lain, sebaiknya dimulai dengan ucapan salam, memperkenalkan diri, sambil menepuk punggung tangan difabel netra.
  2. Cara membantu perpindahan tempat, dilakukan dengan menempatkan tangan difabel netra pada lengan penuntun. Jadi, untuk membantu difabel netra berpindah tempat, punggung tangan difabel netra ditepuk, lalu tangannya diposisikan di lengan penuntun. Bukan dengan menarik salah satu jadi ataupun dengan menarik tangan difabel netra. 
  3. Cara menunjukkan posisi duduk baru, dilakukan dengan terlebih dahulu memberi deskripsi tentang posisi ruangan atau tempat duduk yang baru dan menunjukkan lokasi duduk dengan menepuk tempat duduk agar difabel netra dapat mendengar suara ketukan. Suara ketukan dapat membantu tunanetra mengetahui posisi benda. Sebelum didudukkan, posisi tangan difabel netra dapat dipindahkan dari lengan penuntun ke permukaan tempat duduk. Dengan terlebih dahulu meraba tempat duduknya, difabel netra dapat mengetahui dengan jelas posisi duduknya. 
  4. Cara memberi penjelasan bagi tunanetra, dilakukan dengan mendeskripsikan posisi benda terhadap tunanetra. Posisi benda harus dideskripsikan dengan jelas, misalnya "tepat di hadapan anda ada sebuah piring. Di dalam piring, di arah jam dua ada cabe, di arah jam lima ada ayam goreng, dan di arah jam sembilan ada telur. Segelas air putih ada di sebelah kanan anda di arah jam satu." 
  5. Cara mendeskripsikan arah, dilakukan dengan menggunakan perspektif difabel netra, bukan dengan perspektif penuntun. Misalnya, ketika pembicara dan difabel netra sedang berhadapan. Maka, arahan kanan itu berarti sisi kanan difabel netra, bukan sisi kanan pembicara.


Pengalaman beriteraksi dengan difabel netra memberi kesan tersendiri bagi tim pengajar dan partner belajar. Tim pengajar, sebagai pemapar materi di kelas, harus benar-benar memahami bagaimana menjelaskan materi agar dapat diterima dengan baik oleh peserta pelatihan. Sementara itu, partner belajar, sebagai penuntun dan partner diskusi peserta, harus benar-benar teliti dalam menjelaskan materi dari pengajar dan memastikan peserta dapat memahami materi yang disampaikan pengajar. Keberagaman kemampuan peserta dalam menerima materi dari pengajar membuat kehadiran partner belajar ini esensial dalam keberhasilan peserta menguasai materi pelatihan.

Pelatihan yang akan dilaksanakan setiap sabtu dan minggu ini akan berlangsung sebanyak 20 kali pertemuan, terhitung mulai pekan pertama di bulan Februari mendatang. Semoga saja pelatihan ini bisa berjalan dengan baik, dan bisa memberi manfaat sesuai dengan yang diharapkan. Seperti salah satu hadist Rasullullah, "sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama".

Melalui kegiatan pelatihan bagi difabel netra, Tim Tu-SiWork berusaha memberi manfaat bagi sesama. Ada satu hal yang selalu diyakini Tim Tu-SiWork, bahwa kita tidak perlu menjadi manusia sempurna untuk mulai membantu orang lain. Kita selalu bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi sesama mulai dari sekarang, mulai dari hal-hal sesederhana.  Seperti slogan Tu-SiWork, "tidak harus sempurna untuk bisa bermanfaat bagi sesama."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup

Hal-Hal Baik Yang Terlewatkan

Pura-Pura Bahagia Tak Perlu Banyak Energi