Literasi Sains untuk Keputusan Tepat



Kemerdekaan tentunya menjadi moment yang sakral bagi setiap warga negara Indonesia, tak terkecuali bagi diaspora Indonesia di seluruh penjuru dunia. Perayaan kemerdekaan Indonesia selalu menjadi momentum penting yang meresonansikan kembali semangat juang para pahlawan dalam mempersembahkan kemerdekaan Indonesia. Resonansi semangat juang para pahlawan kemudian bermuara pada satu pertanyaan substansial “Bagaimana kita, sebagai warga negara, dapat berperan serta dalam melunasi janji kemerdekaan Indonesia?”

Pada setiap upacara peringatan kemerdekaan Indonesia, narasi proklamasi kemerdekaan menjadi hal yang begitu dekat di telinga “ … melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.” Penggalan narasi pembukaan UUD 1945 ini sejatinya menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia yang dicita-citakan oleh para pejuang kemerdekaan, yakni masyarakat yang sejahtera, cerdas, dan berpartisipasi aktif dalam lingkungan global. Pemenuhan cita-cita kemerdekaan tersebut merupakan janji yang harus dilunasi kepada seluruh masyarakat Indonesia, dengan partisipasi kita semua.

Diantara sekian banyak aspek kehidupan yang harus diupayakan demi lunasnya janji kemerdekaan, menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia adalah salah satu upaya yang wajib diprioritaskan. Pendidikan dalam hal ini dapat dipandang sebagai katalisator pencapaian janji kemerdekaan, karena masyarakat yang cerdas terpelajar tentu akan mampu memperoleh kesejahteraan hidup dan juga mampu berpartisipasi aktif dalam dunia global. Maka jelaslah alasan mengapa saat ini ada begitu banyak program bertema pendidikan yang mengupayakan terlaksananya pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh Indonesia, sebut saja program Indonesia Mengajar dan program SM3T yang telah mengirim ribuan pemuda berbakat untuk mengajar di seluruh pelosok Indonesia.

Sebagai generasi muda, tugas kita tidak hanya untuk memastikan bahwa pendidikan telah menyentuh seluruh warga di seluruh pelosok Indonesia. Lebih dari itu, kita juga harus memastikan bahwa dengan pendidikan tersebut, masyarakat Indonesia dapat merayakan dan merasakan kemerdekaan setiap hari dan setiap waktu dengan kualitas hidup yang baik. Sebagai generasi yang hidup ditengah-tengah pesatnya perkembangan sains dan teknologi, tidak bisa dipungkiri bahwa sains dan teknologi begitu besar pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat kita. Karenanya, kemerdekaan di abad ini tidak hanya perlu dimaknai dari sudut pandang nasionalisme yang dirayakan pada hari ke-17 di bulan agustus setiap tahunnya. Kita perlu memaknai kemerdekaan dari sudut pandang literasi sains, yakni kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat dan memecahkan masalah terkait sains di lingkungan personal, lokal, maupun internasional.

Literasi sains telah menjadi hal pokok yang harus dimiliki oleh masyarakat global yang hidup ditengah-tengah arus perkembangan sains dan teknologi. Tanpa literasi sains, masyarakat tidak akan mampu memanfaatkan potensi sains untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Faktanya, tingkat literasi sains di Indonesia masih berada pada peringkat 60 dari 61 negara yang disurvey oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) melalui PISA (Program for International Student Assessment) pada tahun 2012 silam. Pada tahun 2015 lalu, PISA kembali mengukur tingkat literasi sains negara-negara anggota OECD dan hasilnya akan dirilis pada desember 2016 mendatang.

Literasi sains menjadi penting karena pada dasarnya, segala aspek kehidupan masyarakat kita dipengaruhi oleh sains. Pemahaman dasar tentang sains, misalnya pemahaman tentang proses biologis yaang berlangsung di dalam tubuh atau bagaimana senyawa kimiawi dapat memberi pengaruh pada tubuh, tentu akan mempengaruhi pengambilan keputusan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, seperti pemilihan kosmetik, produk kimiawi, hingga pilihan makanan yang kita konsumsi. Dengan pemahaman sains yang baik, masyarakat kita diharapkan mampu mengambil keputusan yang tepat terkait masalah personal maupun masalah yang terjadi di lingkungan sekitar. Meskipun tidak lantas berarti kita harus menjadi ahli sains (scientist), namun memiliki pemahaman sains yang cukup tentunya akan membantu kita dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana literasi sains dapat mempengaruhi pengambilan keputusan masyarakat kita? Dalam memilih kosmetik misalnya, pemahaman tentang proses biologis dalam tubuh dan juga pemahaman tentang efek  senyawa yang terkandung pada kosmetik dapat membantu konsumen dalam memilih kosmetik yang akan digunakan. Dari segi ekonomi, dua produk kosmetik dengan penawaran manfaat yang sama dan komposisi bahan yang tidak jauh berbeda bisa memiliki harga yang sangat berbeda ketika dipasarkan jika kita bicara branding. Dengan literasi sains yang cukup, misalnya bahan aktif mana dari produk ini yang saya butuhkan, bisa membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih bijak, bukan semata-mata karena pengaruh branding.

Pengaruh literasi sains dalam kehidupan masyarakat tidak hanya dapat dilihat dari segi ekonomi, tetapi juga dari segi kesahatan. Masih dengan contoh yang sama, yakni pola pemilihan kosmetik. Pemahaman masyarakat tentang proses biologis di dalam tubuh dan pengaruh senyawa kimiawi di dalam tubuh dapat membantu konsumen dalam memilih kosmetik yang akan digunakan. Dengan penawaran manfaat yang sama, dua jenis brand kosmetik dapat memiliki komposisi senyawa kimiawi yang berbeda dan dengan target pencapaian hasil yang berbeda. Apakah masyarakat kita akan memilih produk yang menjanjikan kulit putih dalam jangka waktu beberapa hari, atau produk yang menjanjikan kulit putih dalam jangka waktu beberapa bulan?

Kaitannya dengan pemilihan produk dengan memanfaatkan literasi sains, ada satu fenomena yang cukup menarik menurut saya. Saya pernah mendapati satu produk suplement makanan yang cukup laris di kalangan masyarakat karena diklaim mengandung antioksidan yang dapat membantu mencerahkan kulit, meskipun harga per sachet produk ini bisa mencapai dua puluh kali lipat harga susu dancow sachet.  Yang menarik perhatian saya adalah produk ini ternyata tidak mencantumkan konsentrasi antioksidan yang telah diklaim dapat bermanfaat bagi kesehatan tersebut. Meskipun demikian, suplemen makanan ini tetap laris manis dikalangan masyarakat ekonomi menengah ke atas.

Salah satu prinsip ekonomi yang diajarkan sejak bangku SMP adalah “melakukan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya.” Prinsip ini tentu berlaku bagi kita sebagai konsumen, karena kita ingin membayar serendah-rendahnya untuk mendapatkan hasil yang setinggi-tingginya. Maka, mengetahui berapa banyak antioksidan pada produk yang dibeli menjadi sangat penting, apakah 10 g, 1g, 1 mg, atau 0.01 mg? Hal ini bisa menjadi dasar untuk menilai apakah harga yang dibayarkan untuk tiap sachet yang diperoleh sudah rasional. Bukan hanya itu, informasi tersebut dapat pula digunakan untuk membandingkan produk A dengan produk B yang memiliki manfaat serupa namun dengan penawaran harga yang berbeda. Ini bukan tentang harga, kita percaya dengan prinsip “ada harga ada kualitas,” tetapi kita tidak ingin menjadi masyarakat yang lengah dengan prinsip “yang lebih mahal dapat memberi hasil yang lebih baik.” 

Disinilah saya melihat pentingnya sains literasi agar masyarakat kita dapat merayakan kemerdekaan setiap hari dan setiap waktu dengan kualitas hidup yang baik, salah satunya yaitu melalui kemampuan untuk mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dan penerapan pengetahuan sains. Kita benar-benar merdeka ketika diantara ratusan produk kesehatan yang saat ini beredar dipasaran, kita dapat memanfaatkan pemahaman sains sederhana untuk memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan, sehat dari segi medis, dan dengan harga yang rasional dari segi ekonomi. Faktanya, ini hanya salah satu contoh dari berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari yang mengharuskan kita untuk memilih yang baik diantara begitu banyak pilihan yang “terlihat baik.” Maka ikut serta dalam upaya memahamkan masyarakat luas tentang prinsip-prinsip sains sederhana yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah sehari-hari,  merupakan upaya untuk memastikan rakyat Indonesia dapat merayakan kemerdekaan setiap hari ditengah-tengah arus perkembangan sains dan teknologi.


[Artikel ini telah dimuat di Koran Fajar, Sabtu 20 Agustus 2016, A. Citra Pratiwi - Literasi Sains untuk Keputusan Tepat]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup

5 Buku Terbaik Yang Pernah Saya Baca

Pura-Pura Bahagia Tak Perlu Banyak Energi