Muslim di Tanah Buddha




Sebagai muslim yang tumbuh besar di lingkungan yang mayoritas penduduknya muslim, saya tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi minoritas. Tiba di Phitsanulok tahun 2014 lalu, salah satu provinsi di Thailand utara, saya  akhirnya merasakan bagaimana menjadi bagian dari muslim yang jumlahnya hanya sekitar 4.6% dari total 65 juta penduduk Thailand.

Di Provinsi Phitsanulok, hanya ada satu mesjid, Mesjid Pakistan. Sesuai dengan namanya, mesjid ini didirikan dan diramaikan oleh muslim keturunan Pakistan yang bermukim di wilayah Phitsanulok. Setiap hari raya, mahasiswa muslim dari Thailand selatan turut meramaikan mesjid ini. Tak mau ketinggalan, mahasiswa asing dari Sudan, Pakistan, Afganistan, dan Indonesia juga turut meramaikan suasana Idul Fitri dan Idul Adha di mesjid ini. Sesekali ada juga rombongan TNI dari Indonesia yang berkunjung, untuk sekedar bersilaturahmi dan melaksanakan shalat berjamaah. Mesjid ini menjadi tempat berkumpulnya orang-orang asing yang kemudian menjadi seperti sedarah karena kesamaan iman dan keyakinan di tanah yang mayoritas penduduknya menganut ajaran Budha.


Menjadi muslim diantara mayoritas penganut ajaran Budha secara otomatis mengharuskan saya menjawab berbagai pertanyaan yang selama ini menjadi stereotype muslim di kalangan masyarakat. Salah satu pertanyaan yang paling banyak saya temui adalah “Kenapa kamu berjilbab?” Mulai dari dosen, mahasiswa doktoral, teman seangkatan, sesama mahasiswa asing, hingga sekumpulan anak kecil berumur 7 tahun sudah pernah mempertanyakan hal tersebut. Untuk anak kecil tadi, saya menjawab “karena saya muslim.” Untuk teman seangkatan, saya menjawab “karena memang ada ayat dalam al-qur’an yang memerintahkan penggunaan jilbab.” Dan untuk seorang mahasiswa asing yang mengaku tidak memiliki agama, saya menjawab “Di tempat dimana saya menjadi minoritas, jilbab justru menjadi semakin penting sebagai pelindung saya. Orang-orang akan tahu bahwa saya muslim hanya dengan melihat pakaian saya. Tentu mereka akan memberitahukan jika ternyata makanan yang saya pesan mengandung babi. Saudara saya sesama muslim juga akan lebih mudah mengenali dan membantu saya saat menghadapi kesulitan.”


Pertanyaan tentang islam tidak hanya tentang penggunaan jilbab, tetapi juga tentang shalat yang dilakukan lima kali sehari, tentang kewajiban puasa di bulan ramadhan, dan tentang larangan mengonsumsi daging babi. Pertanyaannya terdengar sederhana, namun pada dasarnya menuntut pemahaman mendalam tentang makna dibalik apa yang kita yakini sebagai kebaikan dan keburukan sebagai seorang muslim. Kita yakin bahwa segala sesuatu yang diperintahkan agama adalah baik dan demi kebaikan umat. Tetapi kita tentu tidak ingin menjadi umat yang melakukan perintah dan menjauhi larangan agama sekedarnya saja. Kita tentu ingin menjadi umat yang memahami makna dibalik apa yang kita lakukan, tentang bagaimana kewajiban dan larangan tersebut dapat berujung pada kebaikan dan keselamatan kita sendiri.


Sebagai minoritas diantara masyarakat Budhist, jilbab dapat menjadi penegasan “saya muslim” kepada orang-orang di sekitar. Saat menjelajahi tempat umum seperti pasar dan mall, saudara sesama muslim akan tersenyum. Sesekali ada yang menyapa dengan ucapan Assalamualaikum. Tentu karena mereka tahu saya muslim dari jilbab yang saya kenakan. Jilbab sebagai penegasan “saya muslim” juga mengimplikasikan banyak hal lain, seperti “saya butuh makanan halal” dan “saya butuh tempat shalat.” Saat terlihat kebingungan memilih makanan di food court, para pelayan akan segera mengerti dan menunjukkan warung halal. Saat menanyakan tempat untuk shalat di salah satu pusat perbelanjaan, para staff dengan ramah menunjukkan ruang yang dapat digunakan untuk shalat.  


Jilbab yang menegaskan “saya muslim” ternyata tidak hanya bermanfaat bagi saya, tetapi juga bermanfaat bagi saudara sesama muslim yang membutuhkan bantuan. Suatu hari di stasiun BTS (Bangkok Train Station), seorang turis muslim dari Pakistan menghampiri saya. “Assalamualaikum sister, do you know where the Sunday market is?” Beliau menanyakan arah menuju Pasar Cathucak, salah satu pasar minggu terbesar di Thailand. Saya yang juga masih awam kemudian bertanya pada security yang bersiaga di dekat kami. Untungnya kemampuan berbahasa Thai dasar sudah cukup untuk memahami penjelasan security. Alhasil, turis pakistan tadi bisa melanjutkan perjalananya ke Pasar Cathucak. Saat itu saya sempat heran ketika turis tadi lebih memilih untuk bertanya kepada saya dibandingkan bertanya kepada security yang memang sudah siap siaga memberi bantuan. Dari perspektinya, jilbab yang saya kenakan seakan menyandi pesan “You can ask here.” Sandi yang ternyata lebih kuat dibanding sandi “I can help you” dari seragam security.


Bercermin dari pengalaman selama berada di tengah-tengah masyarakat Budhist Thailand Utara, menjadi muslim minoritas bukanlah hal yang menakutkan, bukan pula hal yang berujung pada kesedihan dan kesusahan. Disini, saya justru melihat penghargaan bagi muslim dan kuatnya solidaritas antara sesama muslim. Disini, setidaknya saya terdorong untuk lebih memahami identitas dan keistimewaan sebagai muslim, agar dapat merepresentasikan muslim dengan baik dikalangan masyarakat Budhist.


[Tulisan ini telah dimuat di Koran Fajar, 16 September 2016]

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup

Pura-Pura Bahagia Tak Perlu Banyak Energi

Hal-Hal Baik Yang Terlewatkan