Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup




source: goo.gl/images/CuNeFf



Hari itu, saya baru saja membagikan satu tulisan opini di sosial media saat seorang teman mengirimkan komentarnya, "Saya juga sering beropini kak, tapi nda sampai tulisan ji, cuman satu kalimat"

Namanya Wira, adik kelas masa SMA dulu. Wira mengakui ketertarikannya beropini, meskipun tidak selalu sempat dituliskan.

"Contoh, women's worries nowadays: kecantikan, jodoh, dan gaya hidup." Wira lanjut menjelaskan salah satu opininya.

"Ini bisa dituliskan loh. Saya juga akan menulis tentang ini." 
Saya membalas komentarnya dengan ajakan untuk menulis, karena menurut saya opininya menarik. Unik saja rasanya mendengar opini tentang kekhawatiran wanita dari sudut pandang pria. Percakapan-percakapan tentang kecantikan, jodoh, dan gaya hidup bagi para wanita, memang hal yang sudah sangat familiar. Hanya saja, bagaimana jika tiga hal ini - kecantikan, jodoh, dan gaya hidup - pada akhirnya dipandang sebagai kekhawatiran utama kaum hawa? 
***
Setiap orang boleh beropini, dan saya juga tertarik untuk beropini tentang kekhawatiran ini. Pertama, karena saya perempuan, yang tentu saja berhak menanggapi opini tadi. Kedua, karena saya pikir opini ini memang menarik untuk dibahas.
Untuk menanggapi opini tadi, saya mencoba mewawancarai lima orang wanita single berumur antara 21 hingga 28 tahun, dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda-beda. Ya, mereka harus single, karena salah satu point kekhawatiran yang ingin ditanyakan adalah tentang jodoh. 

Saya membuka wawancara dengan menanyakan pendapat mereka tentang tiga kekhawatiran terbesar wanita saat ini, yaitu kecantikan, jodoh dan gaya hidup. Apakah mereka sependapat? Ataukah punya pendapat lain? Berikut ini lima pendapat berbeda dari kelima wanita tersebut.
"Kalau aku jodoh, keluarga, meninggal."
"Tergantung orangnya sih, menurutku keluarga, pekerjaan, pendidikan."
"Tiga kekhawatiran terbesarku itu tentang cita-cita, pekerjaan, dan jodoh."
"Kekhawatiranku: Pertama, belum bisa membanggakan orang tua. Kedua, ilmu yang dimiliki belum bisa bermanfaat buat orang banyak. Ketiga, belum bisa adil untuk diri sendiri."
"Nomor urut satu, jodoh. Nomor urut dua, kecantikan. Itu saja."

Secara umum, dari kelima orang tersebut, tidak ada yang benar-benar setuju dengan urutan kecantikan, jodoh,  dan gaya hidup sebagai tiga kekhawatiran utama wanita. Mengapa demikian? Mari kita telusuri argumentasi di balik hal ini.
***
Source: dreamstime.com

Kekhawatiran pertama, kecantikan. Hanya ada satu dari lima orang wanita yang menempatkan kecantikan sebagai salah satu dari tiga kekhawatiran utamanya. Namun, tidak ada satu pun yang setuju jika kecantikan menjadi kekhawatiran utama.
Saat ditanya pendapatnya tentang kecantikan, seorang mahasiswi senior berpendapat,
"Semua orang pasti ingin cantik, Kak. Apalagi wanita. Tapi, saya sih sebenarnya nggak takut buat tidak cantik, Kak. Tapi, lebih menjaga gitu loh. Intinya, tidak ada wanita yang tidak cantik."
Saya sepakat bahwa setiap wanita punya keinginan untuk menjadi cantik. Hanya saja, hal ini tidak harus menjadi kekhawatiran utama. Masih ada banyak hal lain, yang lebih penting untuk dipikirkan. Lagipula, hidup ini bukan kompetisi kecantikan, kan? 

Seorang wanita yang ingin menjadi cantik, tidak selalu berarti ingin menyaingi kecantikan orang lain.  Ada banyak orang yang berupaya untuk menjaga kesehatan fisik, seperti kesehatan kulit dan badannya, sebagai suatu bentuk kesyukuran atas apa yang dimiliki, bukan sebagai upaya persaingan dengan orang lain. 

***
Berbeda dengan kecantikan, jodoh ternyata menjadi kekhawatiran utama bagi dua dari lima orang wanita yang diwawancarai. Salah satu alasannnya adalah karena faktor lingkungan. 
"... sering ditanyain kapan nikah, soalnya teman-teman seusiaku sudah nikah. Bahkan ada yang sudah punya anak, bukan satu, tapi dua."
"Faktanya teman sepermainan sudah banyak yang menikah, bahkan sudah punya anak. Kadang down sendiri kalau dipikirkan."

Tidak bisa dipungkiri, lingkungan memang bisa memberi pengaruh besar terhadap apa yang dianggap mendesak dan apa yang tidak mendesak. Terlebih lagi, saat ini, anjuran menikah muda memang sedang banyak disuarakan di media sosial. Untuk mereka yang sudah memiliki perkerjaan dan keluarganya sudah sering bertanya tentang pasangannya, saya pikir wajar jika jodoh menjadi kekhawatiran utama. 
Perkara jodoh, ada juga yang memilih untuk tidak mengkhawatirkannya. Saat ditanya alasannya, mereka menjawab seperti ini,

"Jodoh itu, kita tinggal mempersiapkan diri saja. Setiap orang pasti ada ji jodohnya. Jadi, tunggu mi saatnya tiba, sambil mempersiapkan diri."
"Terlambat itu, kalau sudah ada kesepakatan waktu, tapi tidak datang tepat waktu. Soal jodoh, kan kita tidak pernah sepakat kapan waktunya. Jadi, tidak ada istilah terlambat untuk jodoh. Setiap orang punya waktu yang berbeda."
Saya lebih setuju untuk tidak mengkhawatirkan perkara jodoh. Karena, jodoh itu bukan cuma ada orangnya, tapi juga ada waktunya. Dua orang yang bertemu hari ini mungkin hanya teman, atau bahkan hanya teman dari teman. Sebulan, dua bulan, atau mungkin setahun kemudian, dua orang itu ternyata berjodoh. Kemarin atau hari ini, kita mungkin sudah berpapasan dengan satu orang yang akan menjadi jodoh kita setahun atau dua tahun ke depan. Hanya saja, kita tidak akan benar-benar tahu siapa orang itu, sampai waktunya tiba nanti. 
Berbicara soal waktu, kita harus mengakui bahwa timeline setiap orang itu berbeda-beda. Karenanya, tidak ada yang terlalu cepat, atau terlalu lambat. Konsep cepat dan lambat itu, hanya untuk satu jarak tempuh yang garis awal dan garis akhirnya disepakati. Tidak perlu menoleh kiri kanan, membanding-bandingkan diri dengan orang lain, karena tidak akan ada dua manusia yang timeline-nya tepat sama. Lagi pula, ini hidup, bukan lomba lari. 
Kebiasaan membanding-bandingkan biasanya muncul karena kecenderungan menggunakan usia sebagai acuan garis start. Misalnya, saat orang-orang disekitar berkomentar "usia 24 tahun itu harusnya sudah nikah." Kenyataannya, usia tidak menjamin kematangan dan kedewasaan seseorang untuk menikah. Ada orang yang sudah cukup dewasa di usia 22 tahun, ada juga yang belum cukup dewasa meskipun sudah menginjak usia 25 tahun. 
Saya lebih setuju, jika kekhawatiran tentang jodoh itu bukan perkara kapan, tetapi perkara bagaimana. Misalnya, kekhawatiran tentang bagaimana harus membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga dengan bijak? Bagaimana merawat keluarga dengan baik? Bagaimana menjadi orang tua yang baik? Jenis kekhawatiran ini lebih wajar menurut saya, karena masih berada dalam kontrol setiap orang, dan bisa menjadi pendorong untuk meningkatkan kualitas diri menjadi pribadi yang lebih baik. 
“Ga perlu khawatir soal jodoh. Setiap orang sudah ada jodohnya masing-masing. Kalau kata Dilan, cemburu itu cuma buat orang yang ga percaya diri. Kalau aku bilang, khawatir itu cuma buat orang yang ga percaya diri.” Seorang gadis menutup deretan panjang pendapatnya tentang jodoh dengan senyum lebar.
***
Kekhawatiran ketiga, gaya hidup. Dari lima orang wanita yang diwawancara, ternyata tidak ada yang menempatkan gaya hidup sebagai salah satu kekhawatiran. Saat ditanya alasannya, mereka menjelaskan seperti ini,
“Aku gak begitu terpengaruh dengan gaya hidup orang lain. Aku gak mesti punya apa yang orang lain punya. Kalau soal gaya hidup ya intinya bijaklah sesuaikan dengan kantong.”
“Buat saya pribadi, saya nggak terlalu ribet kalau masalah gaya hidup, yang sederhana-sederhana saja. Kalau sudah ngerasa cukup, ya cukup."

Secara pribadi, saya juga berada pada golongan orang-orang yang tidak mengganggap gaya hidup sebagai sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Kenapa? Karena gaya hidup itu, menurut saya, kaitannya dengan cara seseorang berbahagia. Hal-hal apa saja yang dinilai bisa membuat seseorang berbahagia? Jalan ke mall? Nongkrong di cafe? Travelling? Beberapa orang mungkin akan menjawab Ya untuk ketiga hal ini, sementara beberapa orang lain menjawab tidak. Faktanya, tidak ada ukuran universal untuk kebahagiaan. Ada orang-orang yang berbahagia meluangkan waktu berjam-jam di mall, namun ada juga yang tersiksa dengan hal semacam itu. Ada orang-orang yang lebih berbahagia meluangkan waktu di rumah, ditemani secangkir teh hangat dan sebuah buku. Hal yang terlihat membosankan bagi sebagian lain. Tapi, memang seperti itulah konsep bahagia, hanya bisa dirasakan oleh pelakon utama, bukan penonton.

Source: widewallpapers.info


Kekhawatiran tentang gaya hidup tidak akan ada jika seseorang sudah tahu hal-hal apa yang membuatnya bahagia. Hal ini analog dengan membeli sepatu. Pernah suatu hari, saya kebingungan memilih sepatu, karena yang ada di pikiran saya hanya “apakah ini terlihat bagus?” atau “bagaimana orang lain akan menilai saat saya memakai ini?” 

Dengan pertanyaan semacam itu di kepala, saya akhirnya membeli apapun yang disarankan oleh kebanyakan orang, terlepas dari suka atau tidak dengan sepatu itu. Sekarang saya paham, mempertimbangkan kebutuhan saat memilih sepatu itu lebih esensial, misalnya, “apakah dengan sepatu itu, kaki tidak cepat lelah?”, “apakah bahannya kuat?”, dan beberapa pertimbangan yang lebih penting dibanding sekadar mengkhawatirkan pendapat orang lain.
Dua orang bisa membeli barang yang sama untuk alasan yang berbeda. Misalnya, si A yang membeli sepatu karena memang menyukai modelnya, dan si B yang membeli sepatu karena berpikir orang lain akan menilai sepatu itu bagus. Dua orang juga bisa menjalani gaya hidup yang sama, untuk alasan yang berbeda. Misalnya, si A yang memang menyukai gaya hidup itu, dan si B yang berpikir gaya hidup itulah yang dinilai baik oleh kebanyakan orang. Hari ini, apakah kita seperti orang pertama ataukah orang kedua?
***
Kekhawatiran tentang kecantikan, jodoh, dan gaya hidup, secara umum muncul jika kita mulai menoleh kiri kanan dan membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Kenapa harus khawatir tentang kecantikan, jika kita tidak sedang berada dalam kompetisi kecantikan? Kenapa harus khawatir tentang jodoh, jika semua orang sudah ditetapkan pasangan dan waktunya masing-masing? Kenapa harus khawatir tentang gaya hidup, jika setiap orang punya ukuran kebahagiaannya masing-masing?




Komentar

  1. Haduuuhh setuju banget kak! Sebenarnya kita sebagai perempuan fine fine saja dan tidak khawatir tentang jodoh,pekerjaan,gaya hidup tpi kadang" karna tekanan lingkungan dari luar yang lebih besar itu yg bikin kita khawatir. Tpi ya kembali lagi yg kak citra bilang :) semua sdh ada yg atur . So girls, why should we be worried? Take it easy coz You only life ones♡

    BalasHapus
  2. Keren menarik tiba tiba jadi sadar dan setuju dengan kesimpulan akhirnya betul juga kak semua kekhawatiran itu muncul ketika kita telah membandingkan diri kita, awalnya baca judul postingan ini saya sempat bingung mana yg lebih saya khawatirkan rasanya semua saya khawatirkan��

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih ade.. semoga ga khawatir lagi yaa ^^

      Hapus
  3. Kaciit, thankyou so much sudah share ini. Pas banget temen ku lagi galau soal jodoh. Sudah ku nasihati tapi kayaknya masih kurang . Harus Ada dari orang lain lagi yang mendukung nasihat ku. Setuju banget sama kata kata jodoh itu di setiap orang ada waktu nya masing2. Allah sudah atur. Thanks yaa. Semangat menulis . GOD BLESS YOU ��

    BalasHapus
  4. berhubung daku masih kuliah (uduhhhh) jadi kekhawatiran paling utama adalah pendidikan, diikuti dengan kesehatan mental, dan pekerjaan (alias duit, I love money). Pendidikan karena yah belum lulus padahal sudah lewat banget waktunya menurut standar orang-orang), kemudian nanti setelah lulus kuliah mau kemana? apakah langsung bekerja atau lanjut kuliah.
    Kesehatan mental, because I think there is something wrong with my brain. Dan otak adalah penggerak segala aspek kehidupan, bosque! jadi dia harus diusahakan sehat.
    dan pekerjaan, karena yah... tak mau jadi beban negara terus-menerus~


    Perkara tiga hal yang diungkapkan oleh kawan Kak Citra terkait kecantikan, jodoh, dan gaya hidup menurutku itu karena... hmmm tiga hal itu yang paling tampak saat ini dan itu yang paling banter dibicarakan orang-orang di sosial media. Seseorang begitu memperhatikan kecantikan atau mungkin penampilah karena ingin tampil dengan sebaik mungkin di mata orang lain, tidak mau 'dicap' jele. Perempuan belanja make up segambreng, skin are segunung, nonton tutorial bikin alis berjam-jam karena ingin terlihat menarik di depan mata orang lain.
    "Masa' alis aku miring sih? ndak seimbang? duh gimana nanti anggapan orang-orang???"

    atau simply karena si cewek memang suka tampil cantik dan senang merawat diri, dan tak ada yang salah dengan itu~

    (MAKE UP and SKIN CARE is SELF RESPECT!)

    Jodoh. HHhhhh kucape' dengar topik ini. Setuju dengan Kak Citra, setiap orang punya timeline-nya masing-masing, jadi sudahlah... sebaiknya masyarakat berhenti membanding-bandingkan perkara jodoh si A yang sudah menikah di umur 15 tahun dengan si Z yang belum menikah di umur 30 tahun. Sa percaya sih, kalau perempuan terlalu memikirkan perkara jodoh karena lingkungan terlalu 'konsen' dengan ini. Keluarga jodoh, teman jodoh, sosial media jodoh. Hadehhhh~

    Kemudian life style, setiap orang punya style masing-masing dalam menata hidupnya. Ada yang style-nya mureee biasa aja ada yang juta-jutaan. Dan jelas, yang paling 'kelihatan' itu yang mahal.

    wkwkkwkw~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear rime yang komentarnya sampai tiga paragraf.. sungguh saya speechless :D Btw, thanks a million ;)

      Hapus
  5. Setiap orang pasti punya kekhawatirannya masing-masing, apalagi wanita. Sayapun demikian, memiliki kekhawatiran saya sendiri. Khawatir tentang inilah, tentang itulah. Pokoknya macem-macem. Tapi setelah membaca tulisan kak citra rasanya saya sudah punya jalan keluar untuk kekhawatiran yang saya rasakan. Paling suka kalimat terakhir ditulisan ini, "Kenapa harus khawatir tentang gaya hidup, jika setiap orang punya ukuran kebahagiaannya masing-masing". Terima kasih untuk tulisan yang sangat membangun ini kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali wahyuni, jangan kapok ya mampir kesini hehe

      Hapus
  6. Dari judul ceritanya aja udah tertarik. Apalagi sy juga punya sedikit kekhawatiran terkait yg ada dijudul hehe.
    Pas baca isinya, wahh suka bangettt...
    Sepakat banget sama tulisan2nya. Untuk apa mengkhawatirkan kecantikan, toh tiap wanita itu memang cantik. Tiap orang punya timelinenya masing-masing. Dan masing2 kita juga perlu tau hal-hal apa saja yang bisa buat kita bahagia. Trus, kenapa kita harus mengkhawatirkan ketiga hal tersebut? Hehe..
    Ditunggu tulisan-tulisan lainnya kak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap terima kasih.. lain kali semoga ga anonim lagi ya, so I know how I should call you.. hehe

      Hapus
  7. Uhuuuyyy, pas ketemu sama kak citra dan belum baca ini saya langsung bilang jodoh. Yah, ada berbagai sebab hal ini saya takutkan. Tapi setelah baca ini saya berpikir “oh iya di’ cocok tawwa kenapaka mesti takut nah masih muda jka juga”. So, tengkyu kak tulisannya menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung enoo, tetap semangat yaa

      Hapus
  8. Aku suka kata2 penutupnya 💕 tulisan yg menginspirasi dan menyadarkan kita2 yg masih sering punya kekhawatiran berlebih. Sukses terus dan tetap menginspirasi dengan tulisan2nya ita sayang 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. Terima kasih ekii.. jangan kapok mampir yaa hehe

      Hapus
  9. Keren kak.. Dan saya tdk memiliki kekhawatiran diantara ketiganya. Eh, tdk ! Nayatanya saya agak khawatir dgn kecantikan, wlopn sudah menikah. Why? Krna laki laki makhluk visual.. Jgn smpe ada yg mencoba mengalihkan pandangannya dri saya. Wkwkkw..
    Keep writing kak. I'm one of your fan

    BalasHapus
  10. Topik yang sangat menarik say, terutama buat seumuran kita yang rada galau jodoh hahaha .kadang banyak juga yang mikir klo mereka gk dpt jodoh krn kurang cantiklah, kurang modislah dsbnya.
    Klo kekhawatiran ttg jodoh mah gak perlu, jodoh itu takdir yg sdh ditetapkan Tuhan (sy percaya itu), hal yang gk bs kita ukur dan reka kapan dtgnya. masih banyak hal yg lebih prioritas untuk dikhawatirkan, misalnya kemana kah kita setelah mati?
    Tetap semangat nulisnya say, terus menginspirasi 😍

    BalasHapus
  11. Topik lagi naik daon nih hahaha, "Kecantikan, jodoh, gaya hidup". Skrang Ini spertinya banyak cewe yg follow akun kecantikan haha, Nda tau karena mau ikutan jadi MUA, mau juga beli make up tools atau skedar cuci mata kodong (kek sy haha). Kalo soal jodoh, sampe-sampe viral pernah cewe yg promosikan dirinya untuk dilamar, mungkin Itu latar belakangnya Wira kategorikan jodoh sbg urutan kedua yg dikhawatirkan cewe. ya, apapun yg org bilang, jalani mi saja yang terbaik jangan sampe stress gara2 pikirkan perkataannya org :D

    Thanks kak citeee sdh share ^^

    BalasHapus
  12. Dehhh kesimpulannya kak..mantappss..

    BalasHapus
  13. Sebagai perempuan, saya juga khawatir dengan segala hal di atas. Tetapi semakin berumur, kekhawatiran itu semakin berkurang. Mungkin karena semakin banyak melihat kehidupan kita semakin bisa melihat prioritas dan menentukan mana hal hal pantas untuk dipikirkan. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeay.. the older the wiser yah kak ifaa.. love love

      Hapus
  14. Waaah akhirnya melipir ke sini lagi setelah sekian lamaa. Btw, opininya menarik! Terima kasih sudah menuliskan ini ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudaah mampir kembalii kak tariii ^^ Love Love

      Hapus
  15. Keren kata2 penutupnya kak. Trimakasih sdh memberi inspirasi dgn tulisan d blog nya kak . Sukses selalu kak. Dtgg cerita2 selanjutnya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mariska.. terima kasih juga sudah berkunjung dek.. jangan bosan-bosan yaa ^^

      Hapus
  16. Keren mba cit tulisannya, jadi membuka wawasan kalo tiap org mmg punya waktunya masing2.. Ditunggu cerita yg lainnya y 😘😘😘

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hal-Hal Baik Yang Terlewatkan

Pura-Pura Bahagia Tak Perlu Banyak Energi