Le Petit Prince: Hadiah Kecil untuk Orang Dewasa


Le Petit Prince



Suatu sore di akhir tahun 2016, saya baru saja membagikan story di instagram saat seorang teman mengirim komentarnya.

"Le petit prince?"

"Iya."

"Buku?"

"Buku catatan."

"Oleh-oleh buat saya yang ini yah."

Menerima request oleh-oleh dari seorang teman adalah hal biasa. Hanya saja, jika oleh-olehnya berupa buku catatan, rasanya benar-benar aneh. Apalagi teman saya itu adalah seorang pria. Yang lebih aneh lagi, semasa kuliah dulu, dia termasuk golongan orang-orang yang nyaris tidak pernah membawa buku. Tipe mahasiswa yang hanya membawa satu pulpen dan beberapa lembar kertas HVS yang disimpan di kantong celana.

"Kenapa mau yang ini? Padahal buku ini tampilannya biasa saja. Oh, mungkin sekarang dia tidak mencatat di lembaran kertas lagi." Saya bertanya dan menjawab sendiri dalam hati.


***


Beberapa pekan kemudian, di awal tahun 2017, pertanyaan tentang buku catatan akhirnya terjawab.

"Kenapa mau buku ini?" Saya menyodorkan buku catatan berwarna kekuningan yang panjangnya hanya 15 cm. Buku itu terlihat rapih dengan plastik pembungkus yang masih tetap utuh.

"Ini sebenarnya novel. Saya baca ini waktu SD dulu. Ceritanya tentang pangeran kecil yang mengkritik kehidupan orang dewasa. Pokoknya bagus, dan saya masih ingat ceritanya sampai sekarang." Dia bercerita sambil membuka plastik bening pembungkus buku. 

"Kamu masih SD sudah baca novel? Saya baru tertarik baca novel pas SMA, itupun cuma baca beberapa yang Best Seller." 

"Ini novel terjemahan dan terkenal, Cit. Cuma, saya tidak tahu bukunya sekarang di mana."

"Oh, ya sudah, cerita kan saja, jadi saya tidak perlu baca." 

"Tidak seru kalau diceritakan, nanti baca sendiri. Harusnya ada di Gramedia."

Percakapan tentang buku catatan  hari itu ditutup dengan satu misi penting, membaca Le Petit Prince.
Misi yang baru bisa kuselesaikan setahun kemudian, tepatnya tadi pagi.

dhgate.com

***


Le Petit Prince adalah novel setebal 120 halaman. Ditulis oleh seorang pilot berkebangsaan Prancis, Antoine-Marie-Roger de Saint-Exupery. Buku itu ditulis dua tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, tahun 1943. Sudah lama sekali, kan? Lalu, di tahun 1979, buku Le Petit Prince, yang berarti Pangeran Kecil, diterjemahkan oleh empat orang mahasiswa Universitas Indonesia. Buku  ini selanjutnya diterbitkan Pustaka Jaya setelah disunting oleh Wing Kardjo. Begitulah kira-kira pertama kali buku ini beredar di Indonesia, hingga seorang anak kelas dua SD di Luwu Timur, sempat membacanya dua puluh tahun yang lalu.

Hari ini, saya akhirnya menyelesaikan membaca Le Petit Prince. Karenanya, saya ingin berbagi beberapa hal yang menurut saya menarik dari buku ini.


***  


Keunikan buku ini, adalah karena ditulis oleh seorang yang berprofesi sebagai pilot yang mengudara di masa Perang Dunia ke-II. Bagaimana seorang pilot bisa mengarang buku seunik dan sehebat Le Petit Prince? Entahlah. Tapi, beberapa orang memang memiliki satu dua keahlian yang sama sekali tidak tercermin dari profesinya. 

Antoine-Marie-Roger de Saint-Exupery yang terampil mengemudi pesawat, namun tetap mengasah keahlian menulisnya, saya pikir adalah suatu kelebihan. Sangat mungkin, kunjungannya ke banyak tempat dan pertemuannya dengan banyak orang berbeda, membuatnya kaya akan pengalaman dan perspektif yang tidak banyak dimiliki orang lain. Perspektif-perspektif itulah yang kemudian mendukung kesuksesannya menulis Le Petit Prince.

Satu hal ini - tetap mengasah kemampuan menulis tidak peduli apapun profesinya - bisa ditiru. Dokter-dokter menulis tentang kisah pasiennya, guru-guru menulis tentang kisahnya dengan muridnya, juga hakim-hakim yang menulis tentang berbagai kasus yang ditanganinya. Ya, ini ide bagus, kan?


***


Di novel ini, penulis bahkan tidak melepas identitasnya sebagai seorang pilot. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, di awal cerita, penulis menceritakan dirinya terdampar di suatu padang pasir dengan pesawat yang rusak dan persediaan air yang hanya cukup untuk beberapa hari. Di padang pasir itulah, dia kemudian bertemu dengan pangeran kecil dari suatu planet asing.

Bagaimana bisa Pangeran Kecil tiba di Bumi? Dikisahkan, Pangeran kecil itu meninggalkan planetnya, lalu mengunjungi beberapa planet kecil  yang disebut asteroid, sebelum akhirnya tiba di Bumi. Di setiap planet kecil yang dilaluinya, pangeran kecil ini bertemu dengan seorang penghuni planet dengan masing-masing keanehan dan keunikannya, mulai dari asteroid yang dihuni seorang raja, seorang yang sombong, seorang pemabuk, seorang pengusaha, seorang penyulut lentera, hingga asteroid yang dihuni seorang bapak tua penulis buku tentang bumi. Di masing-masing planet itu, pangeran kecil melakukan percakapan singkat dengan para penghuni planet. 

Percakapan singkat di asteroid-asteroid kecil itu menyiratkan beberapa kritik terhadap pola tindak orang-orang dewasa. Uniknya, sama sekali tidak ada kalimat kritikan di dalamnya. Semua hal itu ditata dengan rapih, sehingga orang dewasa yang membacanya tidak merasa seperti sedang diadili. 


***

Saya tentu saja tidak akan bisa menjelaskan semua detail percakapan pangeran kecil di sini, kecuali tentang satu hal yang paling menarik perhatian, yaitu tentang setangkai bunga mawar. Di planetnya, Pangeran Kecil memiliki setangkai bunga mawar yang disiramnya setiap hari. Buatnya, bunga mawar itu sangat berharga, karena dia adalah satu-satunya di dunia.   

Di bumi, Pangeran Kecil bertemu dengan begitu banyak bunga mawar yang tumbuh bersama di suatu kebun. Saat itu, pangeran mulai merasa sedih, karena bunga mawar yang ada di planetnya bukan satu-satunya di dunia. Ada ribuan tangkai mawar serupa yang tumbuh di satu kebun yang sama. 

Mengetahui hal itu, Pangeran Kecil berpikir, "Aku selama ini menganggap diri kaya dengan sekuntum bunga tunggal, padahal aku hanya memiliki sebuah bunga mawar biasa. Bunga itu, serta tiga gunung berapi yang hanya setinggi lututku, ..., tidak menjadikan aku seorang pangeran yang begitu agung ..." (Hal. 80).

Membaca kalimat itu, saya mulai merasa tersindir. Beberapa kali, kita merasa begitu hebat karena memiliki hal-hal kecil yang ternyata juga dimiliki oleh banyak orang lain. Lalu, bagaimana seharusnya Pangeran Kecil menyikapi setangkai bunga mawar yang tumbuh di planetnya?

Di hari berikutnya, pertemuannya dengan seekor rubah liar akhirnya mengajarkan bagaimana Pangeran seharusnya bersikap kepada setangkai bunga mawar di planetnya. Menurut rubah, memelihara mawar itu analog dengan menjinakkan hewan liar. Sebelum dijinakkan, seekor hewan liar sama saja dengan ribuan hewan sejenis yang ada di lingkungannya. Hewan-hewan liar ini adalah mereka yang telah lama diabaikan. Untuk menjinakkannya, seseorang harus melakukan ritual tertentu, seperti mengunjunginya pada waktu yang sama setiap hari dan duduk sedikit lebih dekat dari hari ke hari. Butuh waktu dan kesabaran untuk menjinakkan hewan itu. Sama seperti waktu dan kesabaran yang dibutuhkan untuk merawat bunga mawar di planetnya.


Quotesnew.com


Begitu Pangeran memahami cara menjinakkan rubah, Pangeran Kecil akhirnya mengerti bahwa bunga di planetnya itu, memang satu-satunya di dunia. Kepada ribuan mawar di kebun, Pangeran lalu berkata seperti ini:

"Kalian sama sekali tidak sama dengan mawar-mawarku, kalian belum apa-apa. ... Kalian seperti rubahku dulu. Hanya seekor rubah yang serupa dengan seratus ribu rubah lain. Tapi sudah kujadikan temanku, maka dia satu-satunya di dunia." (Hal.87).

Di akhir kebersamaannya dengan Pangeran, rubah memberi tahu satu rahasianya, "Inilah rahasiaku, sangat sederhana: hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata." (Hal.88)

***

Melalui upayanya menjinakkan rubah, pangeran akhirnya mengerti bagaimana harusnya menyikapi setangkai bunga mawar yang tumbuh di planetnya. Begitulah cara penulis memberi hadiah kepada para orang dewasa yang membaca buku ini. 

Percakapan rubah dengan Pangeran Kecil, mewakili percakapan penulis dengan orang dewasa, bahwa "yang terpenting itu tidak tampak di mata". Seringkali, orang dewasa hanya mampu melihat hal-hal yang tampak di mata, hingga sulit membedakan apa yang penting dan apa yang tidak penting. Seperti cerita tentang bunga mawar tadi. Jika hanya warna dan duri yang dianggap penting, maka bunga itu tidak akan berharga, karena ada ribuan bunga lain dengan warna dan duri yang sama. Yang membuatnya penting adalah hal-hal yang tidak tampak di mata, seperti waktu yang digunakan untuk menyiramnya, usaha yang dilakukan untuk menjauhkannya dari hama, dan senyum yang dikembangkan saat melihatnya dapat tumbuh dengan baik. 







Sekarang, lihatlah kembali orang-orang yang ada di dekatmu, orang-orang yang selalu ada di waktu suka dan dukamu. Apakah mereka manusia yang sama dengan ratusan juta manusia lain di muka bumi ini? Tentu tidak, karena mereka adalah orang-orang spesial, yang dengannya waktu telah banyak dihabiskan, yang pribadinya tak ada duanya di dunia. 









Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup

Hal-Hal Baik Yang Terlewatkan

Pura-Pura Bahagia Tak Perlu Banyak Energi