Hal-Hal Baik Yang Terlewatkan





Ada satu pertanyaan menarik dari seorang junior di sesi akhir tanya jawab Sharing Motivasi dua pekan lalu. Namanya Farid, pria berkacamata yang langganan juara debat. Mungkin karena terbiasa berpikir kritis, Farid jadi punya banyak stok pertanyaan unik di kepalanya. Seperti pertanyaannya sore itu,

“Hal apa yang anda sesali sekarang, karena tidak melakukan hal itu semasa kuliah dulu?”

Mendengar ini, saya yang awalnya tenang malah jadi gelisah.

“Maaf, boleh diulang pertanyaannya?” Saya bertanya kembali, dengan sedikit ekspresi wajah bingung.

“Maksud saya, mungkin ada hal-hal yang seandainya dilakukan semasa S1 dulu, hari ini anda bisa menjadi versi diri yang lebih baik.” Farid menjelaskan arah pertanyaannya, masih dengan raut wajah yang tenang. 


Saya akhirnya paham, Farid bertanya tentang hal-hal baik yang dulu pernah terlewatkan. Hanya saja, saya ragu, sanggupkah menjawab pertanyaan ini?

Bukankah cerita tentang hal-hal itu hanya untuk diri sendiri? atau, setidaknya, hanya untuk teman terdekat? Menjawab pertanyaan ini, rasanya seperti harus menggali-gali luka lama yang sudah nyaris sembuh. 

Setelah beberapa saat menimbang, antara ingin dan tidak ingin menjawab, saya akhirnya memutuskan untuk menjawab. Satu hal baik yang pernah terlewatkan, akhirnya terbongkar di sesi tanya jawab sore itu. 

Tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang mengakui penyesalan, saya akhirnya memberi pertanyaan yang sama ke beberapa orang teman.

Dari semua jenis jawaban yang diberikan, setidaknya ada empat tema penyesalan yang pernah meraka alami, yaitu tentang karir dan pendidikan, pengalaman, persahabatan, dan tentu saja cinta. Saya percaya, tema ini cukup mewakili penyesalan kebanyakan orang.

Nah, di tulisan kali ini, keempat tema penyesalan tersebut akan dibahas satu per satu.


***

First and Foremost, Penyesalan tentang Karir dan Pendidikan


Apakah ini tentang mereka yang menyesal memiih karir atau jurusan kuliahnya saat ini? Tentu saja bukan. Ini tentang hal-hal di masa lalu yang tidak kita lakukan, padahal jika dilakukan, kita bisa saja memiliki skill yang lebih baik dalam menyelesaikan kewajiban kerja ataupun tugas kuliah saat ini.

Kenapa tema karir dan pendidikan disatukan? Karena, karir dan pendidikan seperti dua sisi mata uang yang tidak mungkin dipisahkan. Meskipun beberapa orang memilih berkarir di bidang yang sama sekali berbeda dengan latar belakang pendidikannya, sebagian besar skill mereka sebenarnya dibentuk selama berproses di sekolah dan di bangku kuliah.

Salah satu contohnya adalah membuat makalah, tugas sederhana yang selalu kita temui sejak bangku sekolah hingga perguruan tinggi. Masih ingat seberapa sering kita dapat tugas membuat makalah semasa sekolah? Lalu, sudah berapa banyak makalah yang berhasil kita buat saat duduk di bangku kuliah?

Dari sekian banyak makalah dan laporan yang berhasil diselesaikan, meskipun temanya sangat beragam, skill dalam menyusun makalah itu ternyata sama saja. Dan, skill itulah yang akan menjadi penting di dunia kerja natinya. Misalnya, kemampuan membuat penjelasan yang logis, kemampuan mencari data yang akurat, juga kemampuan membedakan sumber data berdasarkan kredibilitasnya - membedakan sumber terpercaya dan sumber yang hanya menyebar hoax. Belum lagi kalau makalahnya adalah hasil tugas kelompok, skill yang dilatih tentu lebih kompleks, seperti kemampuan berkomunikasi dan kemampuan bekerja sama dalam kelompok.

Wika, seorang calon magister yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhirnya, berbagi tentang hal baik yang pernah dilewatkannya semasa kuliah.

“Writing academic papers pas S1. Dulu pas S1 cuma fokus kuliah sama ngerjain tugas doang dan terlalu pesimis buat nulis paper. Pas udah S2 dan sering nulis paper jadi mikir, kenapa dulu waktu S1 ga cukup peraya diri buat nulis academic paper”

Academic paper yang dimaksud Wika adalah makalah ilmiah, baik yang ditulis berdasarkan penelitian ataupun kajian pustaka. Seandainya lebih rajin menulis makalah ilmiah semasa kuliah, tentu saat ini Wika bisa lebih mudah menulis artikel untuk tugas akhirnya. Saya pikir, penyesalan semacam ini sangat wajar dan dialami oleh banyak orang, bukan hanya mereka yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir.

Di dunia kerja, ada terlalu banyak hal yang menuntut kemampuan menulis yang baik, mulai dari laporan pertanggung jawaban, penyusunan proposal kegiatan, hingga surat-menyurat.  Untuk mereka yang ingin berkarir di bidang akademik, skill menulis ini tentu menjadi lebih penting.

Membuat makalah bukan satu-satunya hal sederhana dari bangku sekolah yang akan menjadi istimewa di dunia kerja nantinya. Semua hal di lingkungan sekolah, mulai dari pembagian tugas pelaksana upacara, kegiatan diskusi kelas, hingga kewajiban mengumpul tugas tepat waktu akan memiliki keistimewaannya masing-masing.

Suatu saat di lingkungan kerja, kita mungkin harus menjadi dirigen dadakan, berbekal pengalaman saat bertugas sebagai pelaksana upacara di sekolah. Kita juga harus mampu mengemukakan pendapat dengan sopan, hal yang dulu dilatih saat mengemukakan pendapat dalam diskusi kelas. Juga harus disiplin menyelesaikan deretan panjang pekerjaan sesuai deadline, hal yang sudah kita pelajari saat berjuang mengumpulkan tugas tepat waktu, meskipun harus rela tidak tidur hingga subuh. Semua keterampilan dan karakter yang kita miliki saat bergelut di dunia kerja, sebagian besar telah ditanamkan lebih awal di masa-masa sekolah, meskipun seringkali tidak kita sadari. 


***


Penyesalan kedua, Melewatkan Pengalaman Seru


Tidak bisa dipungkiri, semasa sekolah dulu, ada hal-hal tertentu yang secara umum dianggap seru. Mungkin karena saat itu kita cenderung bosan mengikuti pelajaran di kelas, maka "bolos" menjadi satu hal yang menarik bagi banyak orang. Untuk alasan-alasan tertentu, ada orang-orang yang bersikukuh tidak melakukannya, dan ada pula orang-orang yang mencari-cari cara untuk melakukannya, setidaknya sekali atau bahkan berkali-kali.

Anehnya, beberapa orang yang dulu memilih tidak "bolos", saat ini malah menyesal karena tidak pernah bolos. Ini terdengar seperti penyesalan karena dulu menjadi siswa yang terlalu penurut. Dian misalnya, seorang teman yang dulu terkenal sebagai siswa teladan di sekolahnya, mengaku menyesal tidak pernah bolos.

“Bolos sekolah. Sampai sekarang saya belum pernah tau rasanya bolos, yang kelihatannya nikmat sekali orang lain lakukan."

Ada hal yang terlihat seru, tetapi sebenarnya tidak benar-benar seru, karena dapat mengakumulasi kerugian yang semakin lama semakin besar. Hingga suatu hari, saat kerugian itu sudah cukup besar, dia dapat meledak seperti bom waktu. Bolos adalah salah satunya, sepintas terlihat seru, namun sebenarnya mengakumulasi kerugian-kerugian. Jika bolosnya hanya sekali, mungkin hanya akan ketinggalan satu materi pelajaran. Tapi, jika bolosnya berkali-kali? Bisa dibayangkan berapa banyak ilmu yang terlewatkan?

Mungkin, Dian harus bersyukur tidak sempat bolos. Siapa tahu, sempat bolos dan akhirnya malah keterusan, kan? Siapa yang tahu? Boleh jadi, pilihan untuk tidak bolos menjadi salah satu hal yang mendukung pencapaian Dian saat ini yang sudah menjadi pengajar tetap di salah satu universitas di kota kelahirannya.

Dalam hidup, kita punya banyak pilihan kesempatan untuk melakukan berbagai hal. Tapi, kita tidak mungkin bisa melakukan semuanya sekaligus. Karenanya, dalam memilih kegiatan, kita harus memastikan kegiatan itu dapat melatih kita menjadi manusia yang lebih baik. Kenapa melatih? Karena menjadi baik adalah sebuah proses yang tidak pernah putus.




***



Penyesalan ketiga, Melewatkan Pergaulan yang Lebih Luas

Source: Fotohd.hk

Semasa sekolah, semua orang tentu punya teman-teman terdekat. Beberapa orang membiarkan persahabatan mereka mengalir apa adanya. Beberapa orang memproklamirkan persahabatan mereka dengan nama tertentu. Orang-orang itu, kemudian disebut teman se-geng. Kita tentu masih ingat daftar nama geng semasa sekolah dulu, lengkap dengan cerita tentang geng yang anggotanya keren-keren, atau cerita tentang persaingan antar-geng.

Tidak ada yang salah dengan pembentukan kelompok-kelompok tadi. Hanya saja, beberapa orang cenderung bersosialisasi hanya pada kelompoknya saja. Untuk pilihan itu, masing-masing tentu punya alasan mereka sendiri. Ulmona misalnya, mengaku menyesal karena saat kelulusan hanya fokus mengabadikan momen dengan teman se-geng nya,

“Waktu jaman sekolah, nyesel nda ikut selfie-selfie bareng pas pengumuman kelulusan. Dan, saya tidak punya foto-foto dengan teman sekelas kecuali teman geng.”

Selain karena fokus dengan kelompok tertentu saja, ada juga orang-orang semasa sekolah atau semasa kuliah yang terlihat sibuk dengan dunianya sendiri. Salah satunya, karena hal yang disukainya, sama sekali berbeda dengan teman-teman yang lain. Salah satunya adalah Furqan, seorang mahasiswa tingkat akhir yang mengaku menyesal karena tidak banyak bergaul dengan teman-teman seangkatannya karena sibuk dengan kegiatan di luar kampus.

“Bergaul di kampus adalah hal yang tidak aku lakukan kemarin, dan aku menyesal."

Pada akhirnya, kita akan mensyukuri kesempatan untuk bertemu dan berkomunikasi dengan lebih banyak orang. Masih ingat pelajaran sosiologi waktu SMA, Kan? Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Ini berarti, kemampuan manusia untuk bertahan hidup bergantung pada kemampuannya bersosialisasi, baik untuk memperoleh sumber daya, maupun untuk menyelesaikan masalah.

Untungnya, sosialisasi adalah proses yang dapat terus kita lakukan selama hidup. Kita selalu punya kesempatan untuk memperbaiki kemampuan bersosialisasi.

Baca juga: Cerita Ulmona Tentang Penyesalan 

***


Penyesalan keempat, Melewatkan orang baik




Source: Thecoffeelicious.com



Siapa di antara kita yang tidak pernah melewatkan orang baik dalam hidupnya? Kalau benar tidak pernah, maka percayalah, anda termasuk orang yang beruntung. Kenapa? Karena banyak orang lain, yang entah bagaimana, telah melewatkan orang-orang baik dalam hidupnya. Hal yang kemudian disesali saat orang baik itu tidak mungkin lagi kembali. Ayu misalnya, yang baru saja menyesali telah melewatkan satu orang baik semasa sekolah,

“Hal yang terlewatkan itu, menerima orang yang dulunya kutolak" Begitu komentar Ayu saat menjelaskan hal yang dulu tidak sempat dilakukannya. 

Untuk kasus seperti ini, tidak banyak hal yang bisa dilakukan. Memutar balik waktu adalah hal yang mustahil, kan? 

Perkara melewatkan dan dilewatkan, saya yakin kebanyakan kita sudah paham betul bagaimana rasanya. Meskipun ada orang-orang yang melewatkan dengan sengaja, ada juga yang melewatkan dengan tidak sengaja. Melewatkan dengan tidak sengaja, misalnya, terjadi karena ragu dengan perasaan sendiri. Lalu, saat sudah yakin dengan perasaannya, ternyata orang baik itu sudah terlanjur pergi karena berpikir perasaannya tidak mungkin terbalas. Kalau kondisinya sudah begini, ada dua orang yang tersakiti tanpa sengaja, yaitu orang yang melewatkan dan orang yang dilewatkan. Sedih ya :')

Untuk dua orang yang tersakiti tanpa sengaja, mungkin mereka sama-sama orang baik, hanya saja belum berjodoh. Ibaratnya sepatu, mungkin mereka adalah sepatu dengan model dan kualitas yang sama, dan sama-sama sebelah kanan, karenanya sulit untuk hidup berdampingan.

Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang melewatkan dengan sengaja? Ya, mereka datang sebentar, lalu pergi dengan sengaja. Saya pikir, ini kasus yang banyak terjadi. Meskipun seringkali, mereka memang tidak punya pilihan lain selain pergi. Jadi, siapa yang sudah pernah pergi di antara kita? :')

Untuk semua hal yang dilewatkan dengan sengaja, kita harusnya sepakat, bahwa tidak semua hal itu perlu ditangisi. Karena, pada kenyataannya, ada kesedihan-kesedihan yang justru harusnya disyukuri. Seperti suatu hari, seorang adik mengirimkan pesan melalui sosial media

"Kak, pokoknya saya nda mau mi ingat-ingat lagi." Begitu jawabnya saya bertanya tentang postingan yang jelas sekali karena patah hati.

"Ya sudah, kan tidak semua kehilangan perlu ditangisi. Ada kehilangan-kehilangan yang justru perlu disyukuri."

"Maksudnya, Kak?" Dia bertanya kembali, sepertinya bingung dengan maksud kalimat tadi. Saya akhirnya menjelaskan panjang lebar. Nyaris seperti

Ada satu hal yang perlu kita sepakati, bahwa dua orang baik yang berdampingan, belum tentu bisa membuat keduanya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Kenapa? Karena, masing-masing kita membutuhkan karakter pendamping yang berbeda-beda untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Keinginan semua orang, adalah tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik bersama pasanyannya. Kenyataannya, tidak selalu terjadi seperti itu. Ada pasangan, yang jika berdampingan, keduanya bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Ada juga pasangan, yang jika berdampingan, hanya salah satunya bisa menjadi pribadi yang lebih baik atau bahkan keduanya tidak berubah menjadi lebih baik. Lalu, ada pula orang-orang, yang jika tidak berdampingan, keduanya justru bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Jenis pasangan yang terakhir ini, adalah orang-orang yang harus bersyukur ketika mereka akhirnya saling melewatkan.

Begitulah sedikit perkara tentang melewatkan dan dilewatkan. Semoga saja, semua hal yang telah terlewatkan, adalah hal-hal yang memang patut disyukuri kepergiannya. 



***


Hari ini, meskipun sudah sangat banyak hal baik yang terlewatkan, semoga kita tetap bersyukur karena sudah mampu merekfleksi kejadian-kejadian masa lalu. Setidaknya, refleksi itu adalah langkah awal untuk berbenah menjadi pribadi yang lebih baik, dan tidak lagi melewatkan hal-hal baik di masa mendatang.




Baca juga tulisan di blog ini: Masalah Terberat dalam Hidup


Komentar

  1. Kalau saya memilih untuk tidak menyesali apa pun. Kenyataannya, saya sadar kalau sy yang sekarang adalah bentukan dari banyak hal yang kualami di masa lalu :')

    BalasHapus
  2. Pertanyaan ini adalah yg sering dilontarkan pada kontes2 kecantikan untuk mengetahui kepribadian para peserta kompetisi, sperti mis unniverse dan putri Indonesia , hahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi jawaban di tulisan sudah bisa jadi referensi beluuum? hihi

      Hapus
  3. Hm... Diantara keempat penyesalan yang ada, satu-satunya penyesalan yang selalu membayangi hanya soal karir dan pendidikan. Saya terkadang masih sering berpikir Kak, kenapa saya menyia-nyiakan waktu Yang sangat lama untuk selesai. Padahal banyak hal lain Yang seharusnya sudah kulakukan.
    Ada beberapa adik-adik yang mengatakan, "Nda masalah Kak, setidaknya banyak pengalaman ta". Tapi kadang saya berpikir, apa memang begitu?

    Mungkin paradigma "nda masalah lama selesai asalkan banyak pengalaman" harus dirubah, jika bisa cepat selesai namun banyak pengalaman, kenapa tidak?

    Tapi diatas segalanya, selama hampir 7 tahun berada di lingkungan kampus, saya lewati dengan banyak sekali hal Yang menyenangkan, saya sudah melakukan perjalanan dan petualangan tak terlupakan, jatuh cinta dan pastinya menghabiskan waktu dengan orang-orang luar biasa yang bisa disebut "teman terbaik seumur hidup".

    Yeah, penyesalan memang ada, tapi itulah kehidupan masa muda.
    Ini hidup Yang sangat menyenangkan!! ������

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Bisa cepat selesai dengan banyak pengalaman" Couldn't be more agree with this! Di setiap pilihan, pasti ada baik dan buruknya Kan yaa.. Penyesalan memang ada, dan menyadari lalu berdamai dengan penyesalan, itu yang paling penting. Semacam menyadari kesadaran, lalu segera move on, dan berbenah menjadi pribadi yang lebih baik.

      Hapus
  4. Sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan pertanyaan semacam ini. Tentang penyesalan, kesalahan terbesar atau hal yang mau diubah di masa lalu karena cenderung tidak bermanfaat (menurutku) karena tidak akan bisa berubah dan hanya menjadi hal negatif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, setuju kak, kalau konteks penyesalannya mau merubah sesuatu, itu namanya menyiksa diri kan yaa :') kalau saya pikir, penyesalan itu boleh ada, asal tidak merusak fokus dan menjadi beban, sekedar disadari dan dijadikan pelajaran hidup sih :')

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup

5 Buku Terbaik Yang Pernah Saya Baca

Pura-Pura Bahagia Tak Perlu Banyak Energi