Tips Menumbuhkan dan Merawat Motivasi Belajar


(Source: Fluentu.com)

Sore itu, Ade memasang ekspresi wajah bingung, antara kesal dan tidak percaya, lalu bertanya dengan suara nyaris berteriak.
"Kak Citra, pokoknya saya nda terima, kenapa ada orang yang hobinya belajar?!"
Saya tertawa kecil melihat ekspresinya, lalu balik bertanya, "Apa salahnya kalau suka belajar?"
Ade menghela napas. Kali ini sambil menahan tawa.
"Kak, nda mungkin ada yang percaya. Belajar itu sesuatu yang ..., apa yah..., pokoknya nda mungkin ada orang yang hobinya belajar, Kak. Please, jangan rusak kepercayaanku tentang itu."
***
Sore itu, Ade meminta saya menulis tentang bagaimana seseorang bisa suka belajar? Hal yang menurutnya aneh. Saya tentu setuju untuk memenuhi permintaan Ade. Karenanya, di tulisan kali ini, saya mencoba bercerita tentang mengapa ada orang-orang yang selalu termotivasi untuk belajar.
Sebelum bercerita lebih jauh tentang hal ini, saya ingin kita sepakat, bahwa kata "belajar" pada tulisan ini merujuk kepada hal-hal akademik, seperti belajar matematika, belajar bahasa inggris, atau belajar biologi. Kenapa? karena, kebanyakan orang yang memiliki pertanyaan semacam ini adalah siswa dan mahasiswa, seperti Ade, yang sebenarnya ingin belajar, tetapi merasa sulit menumbuhkan atau menjaga motivasinya.
***
Setiap orang pasti punya ceritanya masing-masing, tentang mengapa dan bagaimana mereka akhirnya suka melakukan hal-hal tertentu, seperti bernyanyi, bermain musik, atau bertualang. Untuk melakukan hal-hal yang disukainya, mereka tentu rela meluangkan waktu berjam-jam, bahkan tak jarang sampai lupa waktu. 
Setiap orang melakukan suatu hal berulang-ulang karena satu alasan yang sama, yaitu perasaan bahagia  atau perasaan terbebas dari beban pikiran. Ada yang bisa berbahagia saat bernyanyi, ada yang bisa melupakan masalahnya saat bermain musik, dan ada yang berbahagia dengan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya saat bertualang. Intinya, setiap orang cenderung akan melakukan kembali hal-hal yang  dapat menimbulkan hal-hal positif.
Untuk menumbuhkan motivasi melakukan suatu hal, seseorang tentu harus menyadari, pernah merasakan, atau setidaknya mengetahui potensi manfaat dari hal tersebut. Misalnya, untuk mulai menumbuhkan motivasi berolahraga secara rutin, seseorang tentu harus mengetahui potensi manfaat dari berolahraga. Jika suatu saat manfaatnya dapat dirasakan secara langsung, menjaga motivasi itu tentu bukan lagi hal yang sulit.
Nah, yang menjadi permasalahan adalah, banyak orang yang sudah paham betul manfaat berolahraga, tetapi tidak juga tergerak untuk berolahraga secara rutin? Nah, saya pikir, kasus ini serupa dengan kasus orang-orang yang sudah paham manfaat belajar, tetapi tetap saja tidak termotivasi untuk belajar.
Pada kenyataannya, mengetahui petingnya belajar ternyata tidak cukup bagi sebagian orang untuk membuat mereka benar-benar belajar. Lalu, bagaimana menumbuhkan motivasi belajar untuk orang-orang dengan kasus seperti ini?
Pertama, mereka harus memandang "tindakan mengabaikan pelajaran" sebagai suatu masalah. Hal ini penting, karena meskipun belajar dapat membawa manfaat, namun tidak akan membawa masalah jika diabaikan, tentu tidak akan ada motivasi untuk belajar. 
Orang-orang yang berubah dari tak acuh dengan proses belajar menjadi orang-orang dengan motivasi belajar tinggi, adalah mereka yang telah mengalami perubahan sudut pandang. Jika dulunya tak acuh, itu karena menganggap belajar itu tidak akan menjadi solusi untuk suatu masalah, sehingga bukanlah hal yang penting untuk dilakukan. Jika akhirnya memiliki motivasi belajar tinggi, itu karena memandang belajar sebagai solusi utama dari masalah yang dihadapinya, baik itu untuk lulus ujian, untuk lulus universitas, ataupun untuk mendapatkan pekerjaan. 
Saya masih ingat, semasa sekolah dasar (SD) dulu, saya bukan tipe murid yang suka belajar. Hingga suatu hari, di kelas 6 SD, saya melewatkan 2 jam ujian matematika dengan perasaan tersiksa, karena hanya mampu menjawab satu atau dua soal saja. Hari itu, sambil memandangi lembaran kertas ujian, saya menyadari akibat dari sikap mengabaikan pesan guru untuk rajin mengulang pelajaran di rumah. Di sekeliling ruangan, nampak teman-teman yang sibuk mencorat-coret di kertas buram masing-masing. Dalam hati, saya membuat perjanjian dengan diri sendiri, 
 “Ujian hari ini terasa sulit karena memang saya tidak memperhatikan materi sejak awal. Tapi, sebentar lagi saya lulus dan masuk SMP. Artinya, semua akan dimulai dari nol. Saya tidak mau menghadapi ujian-ujian di SMP seperti ini lagi. Ini menyiksa dan menyebalkan. Saya janji, akan belajar mulai SMP nanti.” 
Begitulah awalnya saya memiliki motivasi untuk belajar. Sejak hari itu, saya melihat belajar sebagai solusi untuk menghindarkan saya dari hal yang tidak ingin saya alami. 
Dengan pemikiran seperti itu, di masa sekolah menengah pertama (SMP), saya mulai termotivasi untuk belajar dengan rutin. Di masa-masa itu, saya menyadari bahwa mata pelajaran itu hanya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu mata pelajaran yang saya sukai, dan mata pelajaran yang tidak saya sukai. Mempelajari pelajaran yang disukai bukanlah masalah. Namun, mempelajari pelajaran yang tidak disukai betul-betul butuh motivasi ekstra. Contohnya, pelajaran Fisika. Saat itu, mata pelajaran Fisika tidak termasuk dalam daftar materi favorit saya. Tetapi, buku catatan fisika saya tetap lengkap, dan nilainya juga cukup baik. Waktu itu, saya berpikir begini, 
"Saya harus tetap belajar Fisika, karena suka atau tidak, siap atau tidak, akan ada ujian Fisika di akhir semester, bahkan di akhir masa SMP. Kalau tidak belajar, akhirnya saya juga yang akan rugi, bukan orang lain."
Dengan pemikiran itu, saya membangun kesadaran bahwa belajar adalah kebutuhan, setidaknya untuk bisa menjawab soal-soal ujian dengan baik.  




***
Jika motivasi belajar sudah mulai tumbuh, bagaimana menjaganya tetap tinggi? Nah, untuk merawat motivasi, seseorang harus mampu memvisualisasikan tujuan yang ingin dicapainya dengan baik. Start with the end in mind!
Kemampuan untuk memvisualisasi hasil akhir yang diharapkan penting untuk merawat motivasi belajar. Misalnya seseorang yang ingin memperoleh beasiswa, harus mampu memvisualisasikan suasana kemenangannya secara menyeluruh, termasuk suasana perkuliahan di kampus idaman, ekspresi bahagia keluarga, ucapan selamat dari sahabat, dan pengalaman baru yang menantinya pika berhasil memenangkan beasiswa tersebut. 
Selanjutnya, visualisasi hasil akhir yang diharapkan harus didukung dengan penetapan target bertahap dalam pencapaian tujuan. Misalnya, target harian, bulanan, dan tahunan. Dengan begitu, progres pencapaian tujuan menjadi lebih terukur, sehingga motivasi tetap terjaga hingga tujuan benar-benar tercapai.  Dengan kemampuan visualisasi yang detail, dan target pencapaian yang jelas, setidaknya anda dapat merawat motivasi untuk terus berjuang, bagaimanapun beratnya proses itu.

(sorce: forocoatza.com)
***
Bertahun-tahun berlalu sejak saya meninggalkan bangku sekolah. Saya harus jujur, tujuan naif “untuk lulus ujian” adalah hal yang saat itu mampu memotivasi saya belajar lebih giat semasa sekolah. Di bangku kuliah, kebiasaan belajar untuk menghadapi ujian kemudian berubah menjadi kebutuhan. 
Di suatu titik, saya akhirnya merasa aneh ketika harus melewati hari-hari tanpa membaca. Di titik itu, “belajar” terasa seperti “nasi", yang harus dimakan untuk menghilangkan rasa lapar. Belajar bukan lagi sekedar untuk ujian, bukan juga untuk berebut peringkat dengan orang lain. 
Setelah memandang belajar sebagai suatu kebutuhan, saya mulai bisa menyadari bahwa belajar dapat menjadi proses yang membawa ketenangan. Suatu hari, saat sedang sedih karena suatu masalah di perantauan, saya kemudian memilih ke perpustakaan, membaca satu buku, dan membuat ringkasan dengan pulpen warna warni di buku catatan. Selama tenggelam dalam proses mencatat itu, ada perasaan tenang dan terbebas dari rasa sedih. 
Berbagai hal itu membuat satu kepercayaan tumbuh kuat dalam diri, bahwa belajar bukanlah suatu kewajiban, melainkan suatu kebutuhan. Belajar adalah suatu proses seumur hidup. Manusia yang hidupnya progresif, adalah manusia yang tidak pernah berhenti belajar. 

***

Di akhir tulisan ini, saya ingin kita kembali sepakat, bahwa tujuan naif "untuk lulus ujian" sepertinya hanya boleh dipraktekkan oleh mereka yang duduk di bangku sekolah menengah. Jika kelak kita menjadi guru dan orang tua, tugas kita adalah membantu anak-anak kita melihat tujuan yang lebih besar dari sekedar “ujian kelulusan”. 
Bangunlah motivasi belajar biologi untuk menjadi dokter atau saintis yang baik, bukan sekedar untuk lulus ujian biologi. Karena pada akhirnya, nilai-nilai itu hanya akan tertulis dikertas yang tersimpan di rak-rak buku. Sementara, yang akan dibawa kemanapun pergi adalah pengetahuan yang tersimpan di kepala. Pengetahuan-pengetahuan itulah yang akan bermanfaat untuk memecahkan masalah, untuk berdiskusi dengan teman sejawat, atau sekedar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana dari anak-anak kita kelak.  
Pada akhirnya, belajar akan menjadi suatu proses seumur hidup. Manusia yang hidupnya progresif, adalah manusia yang tidak pernah berhenti belajar. Karenanya, kita juga harus sepakat, bahwa proses belajar itu tidak hanya untuk materi di ruang kelas, tetapi juga untuk berbagai hal yang kita temukan di luar kelas, seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, komunikasi, toleransi, dan seluruh totalitas nilai kemanusiaan.
Selamat belajar. 

Selamat berproses menjadi versi terbaik diri kita masing-masing.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!


Komentar

  1. Wah terima kasih kak motivasinya.. snagt membantu

    BalasHapus
  2. Setuju dgn pndapt kaka mengenai motivasi belajar.tapi saya ingin menambahkan sedkit .
    Setiap orang itu mempunyai karakteristik dan kepribadian yang berbeda",dan tujuan hidup pun beda..
    Saya sangat setuju degan pendapat kakak.dan saya juga pernah merasakan nya.. saya jg punya mimpi ,dan saya jga pernah rajin belajar walapun tdk berjangka waktu lama.. krna saya punya mimpi yang ingin saya capai.. tapi tiba" saya down dikarenakan ortu tdk setuju....
    Jdi syaa bingun sekarang. Apa yang saya harus lakukan agar saya bisa bangkit lagi .stelah saya jatuh seperti ini..
    Munkin kk punya masukanšŸ˜€
    Terimakasih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bantu jawab yaa...
      dear indah wulansari, menurut sy ketidaksetujuan dr orang tua bukanlah alasan sbg penghambat cita-cita kita. Orang tua adalah indeed segalanya, apalagi doa ibu. Doa ibu adalah kunci utk cita-cita kita. Apabila ibu mengatakan iya, maka trus lah. Apabila ibu mengatakan tidak, maka patuhilah. Namun apabila ibu atau org tua qt mengatakan tidak, bukan brrti bahwa jika ttp trus lakukan mewujudkan mimpi adalah berdosa. Kalo mmg anda merasa bahwa mimpi anda adalah terbaik buat buat anda dan bagus untuk kedepan nya, knp tidak utk tetap trus melanjutkannya. Walaupun org tua tdk menyetujui mimpi tersebut , cobalah memberikan pengertian dn melakukan komunikasi yg baik kpd mereka agar mereka mengerti, sebab ketidaksetujuan mereka adalah bersumber dr ke tidaktahuan mereka. Namun ttp lah memberi pengertian dgn sopan santun.
      Tp klo misalkan org tua msh ttp tdk setuju, namun anda ttp percaya dgn mimpi anda, cobalah berkomitmen dan just go with it. Buat lah gebrakan baru dan perlihatkan wujud hasil yg nyata dr usaha atas impian anda. Apabila org tua telah melihat hasil nyata yg sangat positif dr mimpi anda, pasti mereka akan mendukung dan setuju. Contoh saja, Abdul sang Indonesian Idol bru2 ini meraih juara 2. Ayah nya tidak pernah mendukung Abdul untuk berkarier di bidang musik. Ayah nya menganggap musik hanyalah sampingan sj, tdk menjanjikan. Namun karena Abdul ttp ikut terhadap passion nya, Abdul membuktikan kepada ayah nya bahwa anggapan ayahnya selama ini tdk benar. Dengan ketenaran Abdul saat ini, ayah Abdul telah mendukung anaknya berkarier di bidang musik.

      Hapus
    2. Terima kasih sudah bantu jawab kak @chem-meal :)

      Terkait dengan usaha mewujudkan mimpi, setidaknya ada dua tipe manusia.

      Tipe pertama, adalah mereka yang mewujudkan mimpi yang sesuai dengan harapan orang tua. Orang-orang ini mungkin saja awalnya memiliki mimpi yang berbeda, namun merubahnya sesuai keinginan orang tua. Ada banyak orang tipe pertama yang akhirnya sukses karena mengikuti ridho orang tua, dan melakukan yang terbaik untuk membanggakan mereka.

      Tipe kedua, adalah mereka yang memiliki mimpi yang berbeda dengan harapan orang tua. Lalu, mereka berupaya sekuat tenaga untuk membuktikan, bahwa mereka bisa sukses dengan usaha mereka. Seperti yang diceritakan Kak @chem-meal, ada banyak juga -orang tipe kedua yang sukses. Dengan catatan, berusaha keras, tetap menghormati orang tua, dan menjelaskan argumentasi dengan santun. Karena, pada dasarnya, semua orang tua hanya ingin anak-anaknya sukses.

      Hapus
  3. Selamat hari pendidikan meskipun telat ngucapinnya. suka banget dgn tulisannya. Kalau citra bilang belajar bukanlah kewajiban tp adalah kebutuhan, kalau sy hanya mau bilang, kalau semua yg tau baca wajib membaca tulisan ini. hehehe. Bahasanya ringan, mudah dimengerti dan alurnya sangat sistematis. Semangat terus saiy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah ada Indaa.. Terima kasih sudah berkunjung Indaa.. Love!

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup

5 Buku Terbaik Yang Pernah Saya Baca

Pura-Pura Bahagia Tak Perlu Banyak Energi