Single: Sumber Derita atau Bahagia?





Seorang teman bertanya dengan wajah polos di suatu siang.


“Cit, kamu yakin stay single? Kenapa belum punya pasangan?”  Ekspresi wajah dan nada suaranya terkesan sedih. Saya yakin pertanyaan itu  karena prihatin. Duh.


Saya berusaha menanggapi dengan serius, lalu menjawab dengan senyum yang tertahan,
“Masalahnya, adalah, saya belum menganggap single itu masalah. Ya, kalau suatu saat saya sudah merasa itu masalah, pasti akan dicari solusinya.”


Bagaimana argumentasi seperti itu muncul? Ya, salah satunya karena melihat orang-orang di sekitar. Coba perhatikan topik di instastory, ada beberapa orang yang selalu saja membahas tentang jodoh. I mean, dari semua topik yang bisa dibagikan di instasory, mereka memilih topik “jodoh”. Dan, topik itu dibahas bukan cuma sehari dua hari, tapi berbulan-bulan. Teman-teman, apa cuma saya yang menemukan fenomena ini terjadi di sosial media?

Tebak apa yang sekarang terjadi dengan beberapa orang tadi? Kabar baik. Beberapa sudah menikah. Alhamdulillah. Beberapa juga sudah bertunangan. Alhamdulillah. Tentu saja topik pembahasan di sosial media juga berubah, karena perkara jodoh tadi sudah ditemukan jawabannya. Saya menemukan fenomena seperti ini, bukan cuma sekali dua kali, tapi sudah beberapa kali.

Dari beberapa pola kejadian serupa, saya mulai mengerti satu hal, bahwa ada orang-orang yang lebih fokus pada “jodoh” sebagai salah satu indikator “bahagia”. Nah, mungkin konsep ini juga yang ada dipikiran mereka yang prihatin dengan peningkatan jumlah manusia single. Dari semua hal yang bisa membuat bahagia, jodoh menurut mereka ada di urutan pertama. Kalau belum bertemu jodoh, belum cukup bahagia. Makanya, jodoh harus diprioritaskan lebih dari apapun.  

Mungkin karena pandangan itu juga, berbagai cara lalu diupayakan untuk mengentaskan ke-single-an. Tujuannya satu, demi kebahagiaan yang lebih merata. Baik hati sekali yah mereka, segitu pedulinya dengan kebahagian kami. Terharu :’)


***


Sadar atau tidak, semua yang kita lakukan, adalah demi bahagia.  Kita semua, sedang mengusahakan dan menikmati bahagia, dengan cara masing-masing. Nah, disinilah letak masalahnya. Orang-orang single itu, seringkali terlalu kreatif menciptakan dan menikmati bahagia. Mereka bahkan bisa berbahagia dari hal-hal sederhana, semisal nonton di bioskop sendiri atau nongkrong di kedai kopi sendiri.

Mungkin teman-teman mulai merasa aneh. Sendiri tapi bisa bahagia? Yakin? 

Ya, terdengar aneh memang. Tapi, memang begitulah keunikan mereka. Disitulah letak kreativitas mereka menikmati bahagia. Jangan heran kalau usaha pengetasan ke-single-an tadi, belum juga menunjukkan hasil yang signifikan.

Kreativitas untuk menikmati bahagia, ternyata bukan cuma milik mereka yang masih single. Beberapa orang, tidak peduli apapun statusnya, ternyata bisa juga menemukan bahagia dari hal-hal sederhana. Ya, hal-hal kecil yang seringkali diabaikan.

"Kalau orang lain tau what food I like and don't like. Itu hal sederhana, tapi menurutku itu nunjukin kalau mereka perhatian sama kita sampai tahu detail yang kita ga perlu bilang."

"Jadi, menurutku, I know how someone really knows me when they know what I like, tanpa dikasih tahu verbally." Begitu Wika menutup ceritanya.

Jika Wika bisa berbahagia dari perhatian orang-orang tentang makanan kesukaannya, ada juga yang berbahagia berkat dukungan semangat dan motivasi dari orang lain. Ulmona salah satunya.

"Hal sederhana yang berharga buat saya adalah dikasih semangat dan motivasi. Saya semangatnya suka naik turun. Kalau ada yang bilang Semangat Ul, bisaji itu Insya Allah, rasanya seperti dicharge lagi, hehe"

Mendengar mengakuan Ul, saya jadi ingat masa-masa krisis motivasi untuk penyelesaian tugas akhir. Masa-masa penyelesaian tugas akhir itu selalu menyimpan cerita tersendiri tentang perjuangan mengumpulkan motivasi. Pejuang tugas akhir angkat tangaan! :')

Untuk yang sudah atau sedang berjuang menyelesaikan skripsi, pasti tahu betul bagaimana sulitnya menjaga motivasi. Seringkali rasa bosan dan pesimis datang tiba-tiba, lalu pelan-pelan menyurutkan motivasi hingga ke titik nadir. Kalau misalnya teman-teman melihat ada orang yang mulai menjaga jarak dengan tugas akhirnya atau pura-pura amnesia saat ditanya tentang metodologi penelitiannya, mungkin saja motivasinya sedang bergerak mundur. Di saat-saat seperti ini, suntikan semangat dan motivasi tentu menjadi penting. Berbaik hatilah memberi dukungan semangat untuknya, siapa tahu dengan begitu sisa-sisa semangat yang tadinya berserakan bisa terkumpul kembali.
Selain motivasi, menerima pertolongan saat dibutuhkan adalah hal yang membahagiakan bagi beberapa orang, meskipun pertolongan itu hanyalah hal-hal sederhana. Misalnya saja pertolongan sesederhana buku catatan, seperti pengakuan Sari,
"Dipinjamkan buku catatan kuliah untuk saya pelajari, menurut saya itu berharga."
Persoalan catat-mencatat materi pelajaran di kelas tentu sudah menjadi hal familiar untuk kita. Sudah menjadi fenomena umum juga, jika hanya ada beberapa orang saja yang bisa mencatat materi kuliah dengan baik, sebagian memiliki catatan namun tidak lengkap, dan sebagian lagi tidak membuat catatan sama sekali. Sari mungkin termasuk kelompok kedua atau ketiga, sehingga harus berusaha meminjam catatan teman. 

Memberi pertolongan saat dibutuhkan tidak hanya sebatas meminjamkan catatan pelajaran. Ada begitu banyak hal yang kita semua sudah alami, termasuk pertolongan saat ban kendaraan tiba-tiba kempes di jalan, saat ponsel tidak sengaja tertinggal, atau saat dompet terjatuh di jalan. Ketika melihat persoalan-persoalan semacam itu di sekeliling, kita selalu punya kesempatan mengulurkan tangan untuk memberi bantuan, memberi bahagia untuk orang lain. Dan, dari berbagai hal remeh temeh yang mungkin terjadi di keseharian, kita juga selalu punya pilihan untuk berbahagia. 

Sederhananya, bahagia itu adalah perspektif. Setiap orang tentu punya perspektif yang berbeda-beda. Bukan hanya sekedar perspektif, bahagia juga adalah pilihan. Kita selalu bisa memilih untuk meletakkan kebahagian pada hal-hal sederhana, tidak melulu pada hal-hal kompleks yang berada di luar jangkauan.









Komentar

  1. Yang sedang berjuang kerja skripsi terus semangatnya naik turun terus hibernasi berminggu-minggu hey hey hey aku angkat tangan~

    Perkara pertanyaan single dan kapan dapat pasangan mungkin kerap muncul karena orang yang bertanya itu prioritas nomor satunya adalah jodoh, wkwkkw.

    Kadang juga menyebalkan kalau lihat postingan di mana-mana timeline selalu tentang jodoh. Humm mungkin karena sudah memasuki umur di mana pencarian jodoh sudah dianggap 'penting'. Tapi kan ada juga orang-orang yang prioritas hidupnya di pertengahan 20-an itu bukan jodoh yha~ (duh ngomong apa gue).

    Setidaknya orang yang jomlo itu bisa lah menciptakan kebahagiannya sendiri, toh punya pasangan juga bukan satu-satunya sumber kebahagian di dunia ini (dan belum tentu yang utama juga yha~) uwuwuwu~

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup

5 Buku Terbaik Yang Pernah Saya Baca

Pura-Pura Bahagia Tak Perlu Banyak Energi