Cerita tentang Hati yang Bahagia





“Saya mau baca ‘tentang hati yang bahagia’ di blognya Citra.” Kak Evhy menuliskan komentarnya via personal message Instagram.

“Kak, kenapa yah rasanya lebih gampang menulis yang sedih-sedih daripada yang bahagia-bahagia?” balasku setengah curcol, setengah bertanya, dan setengah menghindar. Duh.

“Bukan begitu, saya cuma mau tau ‘hati yang bahagia’ menurut Citra itu seperti apa?Soalnya, versi hati yang bahagia bagi setiap orang kan biasanya berbeda-beda.” Kak Evhy memperjelas maksudnya sambil mengirim emoticon tertawa lebar. Melihat emoticon itu, tetiba tercium aroma kejahatan. Di kejauhan, Kak Evhy mungkin sedang tersenyum asimetris, tipis, dan penuh makna. Yah, Kak evhy memang selalu bisa semisterius itu. 

Tapi, entah karena angin apa, saya akhirnya setuju untuk menulis tentang bahagia, tentang belajar berbahagia, dan tentang menyadari hal-hal yang bisa membuat bahagia.



***


Bahagia itu apa, sih? 

Setiap orang tentu punya versi bahagianya masing-masing.  Tapi, tak perlu repot-repot mengumpulkan definisi bahagia semua orang dan membandingkannya dengan definisi bahagia diri sendiri. Kenapa? Karena, bahagia itu bukan definisi. Bahagia itu pengalaman rasa. 

Uniknya, semua pengalaman rasa bahagia, tak peduli apapun penyebabnya, selalu sukses membuat kita tersenyum dengan wajah berseri-seri. Setiap kali hati berbahagia, ekspresi wajah selalu terlihat cerah dan ceria. Wajar saja kalau kemudian ekspresi senyum lebar selalu diasosiasikan dengan perasaan bahagia. Meskipun, pada kenyataannya, tidak semua orang yang sedang tersenyum berarti sedang berbahagia. Seringkali, orang-orang tersenyum hanya karena berusaha berbahagia. Perkara senyum dan usaha berbahagia, sudah pernah dibahas panjang lebar disini. Intinya, bahagia itu bukan sekadar senyuman, apalagi definisi. Bahagia itu pengalaman rasa. 



***


Membahas  soal hati yang berbahagia, saya jadi ingat satu pengalaman di Pantai Bira enam tahun yang lalu. Untuk pertama kalinya, saya dan empat orang teman bermain Banana Boat. Tentu saja setelah drama saling membujuk karena banyak yang takut. Entah takut apa. Mungkin takut hitam, padahal kulitnya memang sudah eksotis. Hehehe. 

Kami duduk berjejer ke belakang di perahu yang menyerupai bentuk pisang, berisi udara, dan berwarna kuning itu. Di ujung depan perahu, ada seutas tali panjang yang menghubungkan kami dengan sebuah perahu motor yang siap menarik kami kapan saja. Di perahu motor itu, ada seorang pengemudi dan seorang teman yang siap siaga mengabadikan moment dengan kameranya. 


"Sudah siap?! Saya yang hitung ya!" Si fotografer mulai berteriak, mengisyaratkan perahu akan mulai melaju.

"Siaaaap!" 

"Oke! Saatuuu, duaaa, tigaa, majuu..!"

Perahu pun melaju, dan hembusan angin mulai terasa menyejukkan di bawah teriknya sinar matahari siang itu. Pemadangan langit yang biru, sensasi angin yang berhembus kencang, segarnya percikan air, dan aroma khas air laut, bersatu memberi ketenangan tersendiri. Penat karena beban tugas KKN rasanya menguap seketika. 

Setelah beberapa lama, pengemudi boat tiba-tiba membelok tajam. Dalam sepersekian detik, kami yang berada di perahu belakang terlempar ke air. Sensasi terlempar ke air ini, entah bagaimana, menjadi moment paling menyenangkan. Bukannya  berteriak ketakutan, saya malah tertawa sejadi-jadinya. Ya, tertawa lepas sambil berusaha agar tidak tenggelam dengan memegang erat pelampung. Hahaha. Itu adalah moment tertawa yang paling bahagia menurut saya. 

Masih dalam kondisi tercebur, tiba-tiba seorang mendorong saya ke bawah. Sepertinya, orang ini sedang berusaha agar tidak tenggelam, tapi malah menenggelamkan saya yang belum bisa berenang. Anehnya, perut terasa semakin tergelitik karena kekacauan itu. Saya merasa alirah darah sudah memenuhi wajah dan perut sudah terasa sakit karena tertawa. Menertawakan kekacauan mungkin terdengar aneh. Tapi begitulah, bahagia memang bisa seaneh itu. 



***


Bahagia itu, tidak melulu soal tertawa hingga perut terasa sakit. Bahagia bisa sesederhana semangat yang diberikan saat kita sedang berjuang. Seperti beberapa waktu lalu, saat sedang mengantri di ruang pemeriksaan sebelum ujian. Kedua tangan sudah menangkup di depan perut, nafas tertahan, dan badan terus berbalik kiri dan kanan. Sesekali, berusaha menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Tiba-tiba, dari arah belakang, seorang teman berteriak,

"Citra!"

"Ya?"

"Semangat!"

"Haha, Semangat!"

Suddenly, my nervousness evaporated.


***


Masih ada banyak hal yang bisa membuat bahagia, yang tentu saja tidak mungkin bisa dijelaskan satu per satu. Yang pasti, buat saya, bahagia itu tidak harus selalu tentang kesempurnaan, kesuksesan, ataupun keberuntungan. Bahagia tetap bisa hadir di tengah-tengah kondisi yang mungkin dianggap kemalangan bagi kebanyakan orang. Kita hanya perlu sedikit peka untuk menyadari dan mensyukurinya. 



P.S:
Buat Kak Evhy, terima kasih sudah meminta saya menulis tentang bahagia. Much love for you!

Komentar

  1. Asyikkk.. Bahagia itu tentang pengalaman rasa ya 😊 yayaya.. Saya pun sepertinya harus menuliskan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu loh Kak Evhy tulisannya tentang bahagia

      Hapus
  2. citraaa.. aku baru baca ini loh.
    Definisi bahagia menurut saya adalah ketika hormon dopamin di dalam otak saya tersekresikan secara refleks. Itu bisa saja terjadi ketika makan coklat, makan makanan favorit, bertemu teman yg slalu menebar aura positif, and so on.... haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ada Isran.. Anak kimia sih ya, dopamin :D Oke fix, harus banyakin makan coklat demi bahagia, tapi ingat berat badan :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menabung Mudah dan Praktis dengan SOBATKU

ATP adalah Sumber Energi Universal Tubuh, Benarkah?

Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup