Pilih mana, mencintai atau dicintai?



"Which one do you prefer to be with? The one who likes you or the one whom you like?" Seorang teman bertanya di sosial media, tentang siapa yang harusnya kita pilih, yang menyukai kita atau yang kita sukai.

Pertanyaan ini mengingatkan pada pertanyaan serupa beberapa tahun silam,
"Cit, pilih mana, mencintai atau dicintai?"

Tidak bisa dipungkiri, pertanyaan sejenis ini memang masih sering ditanyakan oleh banyak orang. Pertanyaan serupa bahkan menjadi tema salah satu film yang saya tonton beberapa waktu lalu, Antologi Rasa.

Well, bocoran buat yang belum nonton, Antologi Rasa itu bercerita tentang cinta segi banyak. Ceritanya tentang Harris yang suka Keara, tapi Keara suka Ruly. Keara tetap berharap sama Ruly selama bertahun-tahun, padahal dia sendiri tahu kalau Ruly sukanya sama Denise. Ruly juga tetap berharap Denise yang sudah jatuh cinta sama orang lain dan memutuskan menikah dengan orang itu. Uniknya, cerita seperti ini banyak terjadi di dunia nyata, kan? Dia suka kamu, tapi kamu sukanya sama orang lain yang juga sedang mengidolakan dan berharap pada yang lain. Ribet pokoknya.

Nah, setelah nonton Antologi Rasa, dan setelah membaca pertanyaan di sosial media, saya akhirnya memutuskan untuk menjawab pertanyaan ini di Blog. Tentu saja saya tidak menjawab pertanyaan ini sendiri. Seperti biasa, saya menanyakan pendapat beberapa orang dan merangkum semuanya di tulisan ini.

Mau tahu bagaimana orang-orang memilih mencintai atau dicintai? Yuk, kepoin di tulisan kali ini.


***


Setelah mengajukan pertanyaan di Instatory mengenai mencintai atau dicintai, ada beberapa orang yang berbagi perspektifnya. Tentu saja, kebanyakan yang jawab adalah perempuan. Sebagian besar ternyata memilih dicintai. 

"If I should choose, I would rather be with the one who loves me." 
"The one who likes me!" 
"Orang yang suka saya. Karena, bagi saya cinta bisa dibangun asalkan dia memenuhi kriteria standar. Hehehe"

Begitu kata mereka. Wajar kalau mereka memilih dicintai, karena dicintai itu seperti level aman pertama. Lagipula, konsep wanita untuk dicintai itu sudah menjadi pemahaman umum di masyarakat kita, bukan? 

Tapi, apa semua perempuan memilih dicintai? Ternyata tidak juga. Ada seorang teman yang ternyata memilih mencintai. 
"The one I like. Because, He'll like me back, for sure. Hehe.."



***



Saya benar-benar penasaran dengan pertanyaan ini. Kekepoan saya memang sudah level akut soal pertanyaan ini. Akhirnya, saya berselancar di dunia maya dan membaca beberapa artikel tentang mencintai dan dicintai.

Setelah membaca beberapa artikel, saya akhirnya sampai pada pemahaman, bahwa mencintai dan dicintai itu bisa menjadi baik, bisa juga tidak, tergantung caranya. 

Mencintai adalah kata kerja aktif, memberi. Seseorang yang mencintai akan memberi perhatian, kasih sayang, cinta, dan seterusnya. Mencintai tentu saja adalah hal yang baik. Anehnya, kenapa banyak perempuan yang tidak memilih "mencintai"?

Salah satu alasannya yang mereka ajukan begini, "Ya, karena yang mencintai itu biasanya kita menjadi tersiksa, karena mencintai berarti harus berjuang. Lagipula, belum tentu juga cinta kita dibalas." Begitu penjelasan seorang teman.

Iya sih. Alasannya masuk akal. Tapi, kalau memberi sesuatu dan malah merasa tersiksa, atau bahkan merasa rugi ketika tidak terbalas, itu berarti memberinya belum ikhlas, kan?

Pemahaman saya, dari hasil membaca beberapa artikel, mencintai itu bisa memberi efek baik pada tubuh jika dilakukan dengan ikhlas. Kenapa? Karena, mencintai akan membuat hipotalamus di otak menghasilkan hormon oksitosin yang dapat memberi efek positif pada tubuh. Oksitosin ini berperan dalam meningkatkan motivasi serta menurunkan kecemasan [1, 2].

Bagaimana bisa oksitosin menurunkan kecemasan? Hal ini dikarenakan oksitosin dapat menyebabkan penurunan tekanan darah serta penurunan konsentrasi kortisol yang dikenal sebagai hormon stress. Bahkan, oksitosin juga dinilai dapat menstimulasi berbagai interaksi sosial positif, serta mendorong pertumbuhan dan penyembuhan [2].

".... Oxytocin can induce anti-stress-like effects such as reduction of blood pressure and cortisol levels. It increases pain thresholds, exerts an anxiolytic-like effect and stimulates various types of positive social interaction. In addition, it promotes growth and healing." [2]

Dengan berbagai efek positif mencintai (dengan ikhlas), artikel-artikel tersebut menggaris bawahi pentingnya mencintai. Konteksnya, mencintai dengan ikhlas.

Cinta yang ikhlas itu memberi, tanpa mengharap balasan. Seperti cinta orang tua pada anaknya. Tapi, tidak harus punya anak dulu baru bisa mencintai dengan ikhlas, kan? Mencintai itu bisa pada saudara, sahabat, atau bahkan pada hewan peliharaan. Sampai hari ini, pernahkah kamu mencintai dengan ikhlas? Rasanya damai, kan?





Sebaliknya, mencintai bisa menjadi tidak sehat jika dilakukan dengan harapan mendapat balasan. Misalnya, berbuat baik untuk seseorang dengan alasan cinta dan berharap cintanya berbalas. Nah, tipe seperti ini, lama kelamaan bisa menjadi obsesi. Efek yang ditimbulkan cenderung negatif. Karena, selama prosesnya (mencintai dengan obsesi), hormon yang diproduksi tubuh, bukan oksitosin, melainkan hormon stress. Hormon stress ini meningkatkan peredaran darah dan juga kecemasan. Teman-teman pernah merasa tersiksa karena mencintai seseorang?Hmm, boleh jadi itu bukan cinta, melainkan obsesi.


***

Perkara mencintai dan dicintai memang tidak akan ada habisnya. Beberapa hari yang lalu, lagi dan lagi, seorang teman berbagi keluh kesah tentang topik yang satu ini.

"Cit, She wants a break. Pesanku sudah tidak dibalas, cuma di read dan ditinggalkan begitu saja."

"Give her a space, then. Ya udah, kalau dia butuh jarak, kasih jarak dulu."

"Tapi, saya takut kalau dia malah sama orang lain. Dia minta break, tapi nanti malah sama orang lain. Gimana dong?"

"Ya, kamu belum ikhlas sih. Ini ibarat kamu ngasih satu permen, tapi berharap dikasih permen juga. Kalau nanti ga dikasih permen juga, jadinya stress sendiri, loh!"

"Iyaa, ini udah streess!"

"Nah, kan, makanya, belajar ikhlas."

"Iya, tapi susaaah."

"Saya tidak bilang kalau ikhlas itu mudah, sih. Tapi, setidaknya kamu bisa mencoba. Menjadi baik itu proses. Selamat berproses, ya!"


***



Seperti semua hal baik dalam hidup, mencintai dengan ikhlas juga butuh proses. Saya menuliskan ini, bukan berarti saya paling ahli perkara ikhlas, ya. Saya juga masih belajar. Tulisan yang sudah lama tertahan di-draft ini, akhirnya di publish karena permintaan Dinda.

"Kak, mana tulisan tentang mencintai dan dicintai? Saya mau baca."

Untuk Dinda, dan semua yang sedang berusaha menjadi baik, semoga kita sama-sama bisa menjadi ikhlas dalam memberi, apapun itu, termasuk cinta.






Sumber bacaan:
1. Russell, J. A., & Brunton, P. J. (2017). Oxytocin: Control of Secretion by the Brain and Central Roles. Reference Module in Neuroscience and Biobehavioral Psychology. 
2. Kerstin Uvnäs-Moberg , Maria Petersson. 2017. Oxytocin, a Mediator of Anti-stress, Well-being, Social Interaction, Growth and Healing. Swedish University of Agricultural Sciences, Department of Animal Physiology


Komentar

  1. Sampai hari ini saya sudah mencintai dengan ikhlas, rasanya damai. sedamai membaca blog kakak. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, wah, selamat berdamai dengan diri sendiri dindaa

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menabung Mudah dan Praktis dengan SOBATKU

Review Ringkas Siklus Nitrogen

Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup