Dari Kale untuk Awan





"Sebenarnya, kita nih apa sih?" Awan menatap Kale yang sedang tertunduk serius memainkan piano.

Mendengar pertanyaan Awan, Kale berhenti memainkan piano, mengangkat dagunya, lalu berbalik ke arah Awan, "Emang, kamu maunya apa?"

Kalau kalian termasuk followers @nkcth di instagram, saya yakin percakapan ini tidak asing lagi. Ya, percakapan ini adalah potongan percakapan Kale dan Awan pada film Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCTHI) yang sudah tayang di Bioskop sejak 2 Januari 2020 lalu.

Enam hari sebelum tayang, @nkcth mengunggah potongan percakapan itu. Tentu saja, ribuan orang yang sudah menunggu-nunggu cerita NKCTHI ini menjadi penasaran tentang kelanjutan ceritanya, termasuk saya.


 



Dari hasil kekepoan membaca komentar-komentar warganet di postingan @nkcth, terlihat jelas banyak yang merasa terwakili dengan pertanyaan Awan, sekaligus kaget dengan respon Kale yang justru balik bertanya.

Kenapa banyak yang merasa terwakili? Ya, karena mayoritas warganet yang menuliskan komentar adalah perempuan. Awan dan Kale pada film itu digambarkan sebagai dua orang asing yang tiba-tiba saja bertemu dan akhirnya bisa dekat. Awan, seperti perempuan pada umumnya, mulai bertanya-tanya tentang kedekatan mereka itu. Awan jelas terlihat bahagia dengan kehadiran Kale. Dari pertanyaannya, Awan terkesan mencari kepastian atas hubungannya dengan Kale. Dari raut wajahnya, Awan terlihat menaruh harapan pada Kale.


Nah, karena kemarin saya sudah nonton NKCTHI, rasa penasaran selama beberapa hari akhirnya terbayar lunas dan tuntas. Lanjutan percakapan Kale dan Awan tentang "Sebenarnya, kita ini apa sih?" membuat saya nyaris jatuh cinta pada Kale. hehehe.

Jawaban Kale atas pertanyaan Awan mungkin tidak seperti prediksi kebanyakan orang. Buat saya, jawaban Kale benar-benar di luar ekspektasi. Saya pikir, Kale hanya akan menunggu Awan menjelaskan apa yang ada di dalam kepalanya, lalu memilih "ya" atau "tidak" dengan apapun yang akan dikatakan oleh Awan. Nyatanya, Kale malah memberi penjelasan tanpa menunggu Awan menjawab pertanyaan.



"Kalau kamu butuh teman yang bisa dengar cerita kamu, nemenin kamu pas lagi sedih, aku bisa. Tapi, aku ga bisa kasih kamu lebih dari itu." Kale menjelaskan dengan wajah datar, sambil menatap awan yang matanya sudah berkaca-kaca.

"Aku ga mau jadi sumber bahagia kamu. Bahagia itu tanggung jawab kita masing-masing, Awan" Kale lanjut menjelaskan.

"Tapi, kita kan bisa nyoba, Le. Aku yakin kok, kita bisa bahagia bareng." Kali ini, awan benar-benar berusaha menahan air matanya.

"Awan, aku pernah bahagia sama satu orang, lalu tiba-tiba dipaksa untuk menghentikan kebahagian itu. Aku ga mau itu kejadian lagi .... Sorry."


Kejadian selanjutnya tentu sudah bisa ditebak, awan akhirnya patah hati. Tapi, penjelasan Kale adalah hal yang harusnya bisa diterima Awan. Kalimat itu, seperti obat yang pahit tapi menyembuhkan. Awan mungkin lupa bahwa kebahagian memang adalah tanggung jawab masing-masing. Lalu, saat sedih, dia secara tidak sadar mencari manusia lain untuk menjadi sumber bahagia. Di film itu, jelas sekali Awan mulai melihat Kale sebagai sumber bahagianya.

Whatever happened, life must go on. Awan akhirnya pergi dan melanjutkan hidupnya tanpa Kale, dan menyelesaikan masalahnya sendiri dengan keluarganya. Film ini tidak banyak membahas kisah Kale dan Awan, karena fokus NKCTH adalah tentang keluarga. Di akhir cerita, ada satu scene dimana Awan dan Kale bertemu kembali, dan mereka tersenyum satu sama lain dari kejauhan. Dari scene itu, saya simpulkan hubungan keduanya baik-baik saja. Mereka tidak bersama, tapi tetap damai.


Melihat Awan, keluarganya, dan perjuangannya, saya jadi paham kalau sedih itu hal yang manusiawi. Mencari teman untuk berbagi kesedihan juga hal yang wajar. Hanya saja, jangan sampai kebahagiaan itu digantungkan pada orang lain, sampai-sampai kita lupa caranya berbahagia tanpa bergantung pada manusia lain.

Melihat Kale dan pola pikirnya, saya jadi paham bahwa ada orang-orang yang berusaha membahagiakan orang lain, sementara mereka sedang berproses menyembuhkan diri sendiri. Saya yakin, yang sebenarnya dibutuhkan Kale adalah waktu untuk sembuh, sebelum dia berani menerima orang lain dalam hidupnya.

Di cerita ini, Awan dan Kale sama-sama butuh waktu untuk sembuh, tumbuh, dan belajar.

"Hidup itu lucu, ya. Yang dicari, hilang. Yang dikejar, lari. Yang ditunggu, pergi. Sampai hati kita lelah dan berserah, saat itu semesta bekerja. Beberapa hadir dalam rupa sama, beberapa lebih baik dari rencana." - Awan, NKCTHI.


P.S.: Percakapan Kale dan Awan ditulis kembali berdasarkan ingatan, tidak ditulis secara verbatim 🤗 

#NKCTHI #reviewNKCTHI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menabung Mudah dan Praktis dengan SOBATKU

Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup

Review Ringkas Siklus Nitrogen