Pesan untuk Masa Depan

 

Beberapa waktu lalu, saya berjanji untuk menutup tahun 2019 dengan satu tulisan di Blog. Saya memutuskan untuk menulis pesan untuk masa depan yang sebentar lagi menjadi masa sekarang. Pesan ini, bukan dari masa sekarang, tetapi dari masa lalu. Tepatnya, dari beberapa orang teman yang merekam kisahnya di 2019 dan sudah berbaik hati berbagi cerita, pengalaman, dan pelajaran dari pengalaman-pengalaman mereka. Kumpulan pesan dari masa lalu seringkali menjadi pengingat yang baik untuk mengawali fase perjuangan yang baru, bukan?

Mau tahu pesan-pesan dari masa lalu, untuk kita di masa depan nanti? Yuk, kepoin di tulisan kali ini. 


***


"Hidup tidak harus selalu bahagia. Kadang sedih hadir untuk menguatkan kita." Begitu pelajaran dari Ayu Rezky Pratiwi, teman masa kuliah dulu. Membaca pesan dari Ayu ini, membuat saya kembali mengingat-ingat deretan cerita sedih beberapa tahun terakhir. Cerita sedihnya banyak, mulai dari kegagalan, perpisahan, kekecewaan, kehilangan, hingga patah hati.  Setelah dipikir-pikir, ternyata semua hal itu yang sudah memberi perspektif baru. Perpektif-perspektif itulah yang membuat kita berbeda dari versi diri yang lama. Saya yakin, setiap kali kita berhasil survive menghadapi masa-masa paling sulit, selalu ada pribadi baru yang setingkat lebih kuat dari hari sebelumnya.



***

Selama ini, ada berapa banyak ketakutan yang membuat kita tidak beranjak kemana-mana? Terlalu banyak mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi, atau bahkan mungkin hal yang sebenarnya hanya ada di kepala sendiri. Saya juga tipikal manusia yang overthinking, sih. Terlalu banyak mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Jadi tersadar saat menerima pesan dari Kak Ifah, "Overthinking tidak menyelesaikan masalah." Iya, sih. Kenyataannya, akhirnya hanya menguras energi dan waktu, sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Ada banyak hal yang seringkali hanya perlu dilakukan, tanpa perlu terlalu banyak dipikirkan. Salah satunya ya, skripsi dan tesis. Masa-masa pengerjaan tugas akhir adalah masa dimana saya, dulunya, terlalu banyak mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. masa-masa tugas akhir, saya merasa semuanya sulit, padahal belum dikerjakan. Setelah dijalani prosesnya, ternyata tidak sesulit yang saya pikirkan. Hehe.

Setelah dipikir-pikir, rasanya memang tidak adil jika kita harus membebani diri dengan kekhawatiran tentang hal-hal yang belum tentu terjadi di masa depan. Lalu, bagaimana supaya tidak overthinking? Kalau kata dosenku dulu, "Just do it, and let's see what you can get!"



***

"It is not my best year, tapi bersyukur karena banyak yang sayang." Begitu kata Tari Artika, salah satu Blogger kece Makassar yang menulis di www.kuejahe.com. Membaca pesan dari Kak Tari, saya jadi sadar bahwa syukur adalah kata kuncinya. Kenapa? Ya, karena tidak peduli sebanyak apapun pencapaian, boleh jadi kita tetap bersedih karena lupa bersyukur. Atau, tidak peduli sebesar apapun masalah dan kegagalan, boleh jadi kita tetap bisa bahagia karena sudah paham caranya bersyukur.






Seringkali, kita terlalu sibuk mengejar hal-hal yang belum dimiliki. Sampai kita lupa, kalau yang dimiliki ternyata sudah lebih dari cukup. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menabung Mudah dan Praktis dengan SOBATKU

Review Ringkas Siklus Nitrogen

Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup