Merayakan Hari Puisi Sedunia







***

Potongan puisi Kak Nila memang selalu menarik perhatian, termasuk puisinya yang satu ini. 




Melihat puisi ini, saya jadi auto jatuh cinta, dan meminta izin Kak Nila untuk membahas puisinya di blog. Kak Nila yang baik hati tentu saja mengizinkan. Yeay! 

So, Let's talk about this adorable poems!

Bait pertama puisi ini menarik, karena menggambarkan betapa paradoks dan membingungkannya perempuan dengan kebiasaannya "melantang berlawanan". Ya, sesederhana bilang "baik-baik saja" padahal mereka tidak sedang baik-baik saja. Membingungkan, sih. Tapi, memang begitulah yang sering terjadi.

Saya sendiri suka bingung, kenapa ya perempuan selalu se-complicated ini?Kalau misalnya lagi marah, bilangnya “ga apa-apa”. Padahal, kenyataannya memang lagi ngambek. 

Sebagai perempuan, beberapa kali mengalami hal yang sama. Tapi, tetap saja bingung kenapa seperti itu. Duh.

Kalau kata teman saya, “Perempuan sekali-kali harus belajar pakai logika, jangan melulu perasaan.”

Iya, sih. Ada benarnya juga. Ini bisa jadi solusi. Kita perempuan, harus belajar bertindak dengan logika, bukan cuma dengan perasaan. Well, ini terdengar seperti pekerjaan rumah yang cukup menantang yah, girls!Hehehe..


***

Next, bait kedua puisi ini menurut saya menggambarkan proses untuk mencintai diri sendiri, sebelum lebih jauh memusatkan perhatian pada orang lain. Mencintai diri sendiri berarti berusaha mengenali diri sendiri dan berbuat baik pada diri sendiri. 

Bagaimana caranya berbuat baik pada diri sendiri? Nah, berbuat baik pada diri sendiri bisa dengan melakukan hal-hal yang memberi manfaat positif bagi diri, seperti berdamai dengan kesalahan dan kekurangan diri, mengenali potensi diri dan mengasahnya, mengunjungi tempat-tempat favorit, atau melakukan hobi. 

Pengakuan tentang usaha untuk mencintai diri sendiri di bait kedua puisi ini menarik perhatian saya, karena seringkali kita memang lupa untuk mencintai diri sendiri. Terlalu sibuk berusaha membahagiakan orang lain, sampai lupa membahagiakan diri sendiri. Boleh jadi kita juga lupa, orang terbaik yang bisa membahagiakan kita adalah diri sendiri.


***


Nah, bagian terbaik dari puisi ini ada di bait ketiga.

Jika pada akhirnya kukatakan "Aku mencintaimu," maka aku sudah mencintai diri sendiri melalui segalamu.





Membaca kalimat ini, seperti melihat seseorang yang akhirnya bisa mengaku "mencintai" setelah melalui proses "penerimaan diri" berkat orang yang dia cintai. Wah, ribet juga yah! Perempuan, untuk bisa mengaku cinta saja, memang bisa seribet itu ya. Hehe.



***


Setiap puisi ditulis untuk menyampaikan pengalaman rasa penulisnya. Uniknya, rangkaian kata dalam puisi dapat mewakili pengalaman pembaca. Seperti puisi ini, yang bisa menggambarkan bagaimana perempuan berproses mencintai dirinya sendiri, sebelum bisa mencintai orang lain. 

Terima kasih sudah menuliskan ini Kak Nila. Love. 







Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menabung Mudah dan Praktis dengan SOBATKU

Kekhawatiran Wanita: Kecantikan, Jodoh, dan Gaya Hidup

Review Ringkas Siklus Nitrogen