Pesan Inspiratif dari Tiga Film Favorit

"Kak Citra, suka baca novel atau nonton film?"

"Kalau ada novel yang difilmkan? Lebih suka baca novelnya, sih."

"Kenapa?"

"Ya, karena novel selalu lebih detail. Tidak semua hal dari novel bisa dimasukkan ke film, kan?"


Membaca potongan percakapan itu, kalian mungkin berpikir saya benar-benar suka membaca novel. Tidak juga. Kenyataannya, saya hanya membaca novel-novel  best seller yang direkomendasikan teman atau novel yang diangkat menjadi film. Dibandingkan novel, saya lebih bisa bercerita banyak soal film, meskipun belum bisa disebut penggemar film garis keras. 

Di sekeliling, banyak teman yang hobi nonton dan mengulas film. Ada yang menuliskan ulasannya di blog, ada juga yang membagikan di sosial media. Kalau mereka memberi rate 9/10 atau 10/10, saya biasanya baru tertarik untuk nonton film itu. Hehe.

Nah, dari semua film yang saya tonton, ada satu pertanyaan yang harus terjawab, "Pesan apa yang ingin disampaikan film ini?" Kalau pesannya inspiratif dan disampaikan melalui cerita yang apik dan tidak mudah ditebak, saya akan memberi rate 9/10 atau 10/10. 

Mau tau apa saja pesan inspiratif yang pernah saya dapatkan dari film? Yuk, kepoin di tulisan kali ini. 


***


1. About Time 

Sumber gambar: cdn


About Time adalah drama komedi romantis yang bercerita tentang Tim, seorang pria muda dengan kemampuan menjelajahi waktu. Setiap pria dalam keluarga Tim memiliki kemampuan untuk kembali ke masa lalu sejak mereka menginjak usia 21 tahun. Dengan kemampuan itu, mereka bisa leluasa untuk memperbaiki cerita hidup dan pilihan-pilihan hidup mereka. Tetapi, satu hal yang tidak bisa mereka lakukan adalah mengunjungi masa depan. 

Jika Tim tidak dapat mengunjungi masa depan, bagaimana dia menggunakan kemampuannya untuk memperbaiki masa depan? Sederhana saja, setiap kali ingin mengubah masa depan, Tim akan kembali ke masa lalu dan melakukan hal yang berbeda. Dengan begitu, masa depan juga akan ikut berubah. Tim bisa kembali berkali-kali ke masa lalu yang sama, melakukan hal yang berbeda, lalu berujung pada cerita masa depan yang berbeda pula. Seru, kan?

Ada banyak hal yang ingin Tim perbaiki, sehingga membuatnya berulang kali kembali ke masa lalu. Salah satunya adalah pertemuannya dengan Mary, wanita yang pada akhirnya menjadi istrinya. Tim yang pemalu, akhirnya bisa menjadi lebih berani mengungkapkan pemikirannya. 

Sebagai seorang jaksa, Tim juga menggunakan kemampuannya untuk mengunjungi persidangan yang sama berulang-ulang. Tim yang awalnya mengikuti sidang dengan wajah tegang, akhirnya bisa menjadi lebih santai. Tim menjadi pribadi yang lebih menghargai setiap moment bersama orang-orang di sekelilingnya, dia bahkan bisa bercanda saat menghadapi situasi yang menegangkan di persidangan.

Perubahan sikap Tim menjadi pribadi yang lebih berani dan lebih peduli adalah hal yang wajar, karena moment itu sudah dialami sebelumnya. Perasaan-perasaan seperti ini kurang lebih sama saat kita mengikuti ujian untuk kesekian kalinya. Jika awalnya merasa sangat tegang, kesempatan kedua dan ketiga tentu akan berbeda. 

Ada banyak pengalaman pertama yang begitu menegangkan, bahkan bisa membuat jantung berdetak sangat kencang. Seperti pengalaman pertama membaca puisi di depan kelas, kali pertama pentas di atas panggung, atau hari pertama menjadi penyiar radio. Di kesempatan-kesempatan selanjutnya, semua menjadi terasa lebih mudah dan menyenangkan. 

Meskipun ada banyak hal yang bisa terjadi berulang-ulang dalam hidup, tidak ada moment yang benar-benar berulang. Kenyataannya, kita hanya bisa belajar dari pengalaman serupa, tanpa pernah bisa kembali ke masa lalu. Faktanya, kita memang tidak punya kemampuan menjelajahi waktu.


Tanpa kemampuan untuk kembali ke masa lalu, kita tentu tidak bisa dengan leluasa mengulang moment lalu mengambil keputusan yang berbeda sekadar untuk mengubah cerita hidup. Yang bisa kita lakukan adalah menikmati setiap waktu dan menghargai setiap kesempatan yang diperoleh, seakan-akan kita adalah manusia dari masa depan yang diberi kesempatan terakhir untuk mengunjungi masa lalu. Seperti kata Tim, "The truth is, i now don't travel back at all, not even for the day, i just try to live every day as if i've deliberately come back to this one day, to enjoy it, as if it was the full final day of my extraordinary, ordinary life."

"Kenyataannya, saya tidak lagi kembali ke masa lalu, bahkan untuk sehari. Saya hanya mencoba untuk menikmati setiap hari seolah-olah saya sudah kembali ke hari itu, untuk menikmatinya, seakan-akan itu adalah hari terakhir dari hidup saya yang luar biasa."


2. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini 



Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) adalah film yang diangkat dari novel flash fiction karya Marchella FP dengan judul yang sama. Karena diangkat dari novel flash fiction, film ini memiliki detail cerita yang jauh lebih kompleks dibanding versi novelnya. 

NKCTHI bercerita tentang pasangan suami istri dengan tiga orang anak: Angkasa, Aurora, dan Awan. Film ini menggambarkan peran dan perjuangan masing-masing tokoh sebagai anggota keluarga. Menonton film ini rasanya seperti mendengarkan isi hati dan perspektif seorang ayah, ibu, dan saudara sendiri. Sebagai anggota keluarga, penonton dengan mudahnya merasa terwakili oleh sosok di film ini. Beberapa penonton bahkan merasa terwakili oleh dua hingga tiga sosok sekaligus. 

Awan, si bungsu yang ingin hidup mandiri dengan pilihannya sendiri. Awan merasa tidak pernah bisa memecahkan masalah dengan usahanya sendiri, karena seisi rumah selalu membantu, terutama Ayah dan Angkasa. 

Angkasa, si sulung yang selalu dituntut untuk melindungi adik-adiknya. Angkasa seringkali menomorduakan urusannya demi keluarga, khususnya Awan. Meskipun tidak pernah mengeluh, Angkasa diam-diam merasa bebannya sebagai anak tertua terlalu berat.  

Aurora, anak tengah yang lebih banyak terlihat diam dan larut dengan aktivitas di studio seninya, karena merasa terlupakan oleh keluarganya sendiri. 

Ayah, sosok kepala keluarga yang disiplin dan bertanggung jawab. Ayah tidak ingin ada kesedihan dalam keluarganya. Semua aturan-aturan Ayah sebenarnya ditujukan untuk kebaikan keluarganya, meskipun pada akhirnya aturan-aturan itu juga menjadi penyebab masalah bagi anggota keluarganya. 

Ibu, sosok yang lembut, tegar, dan sangat menghargai suaminya. Sekilas, tidak terlihat ada masalah dengan ibu. Tetapi, ibu ternyata memiliki kesedihan yang dipendam sendiri, karena tidak ingin merusak kebahagiaan keluarganya. 

Dari film ini saya belajar, bahwa langkah pertama untuk menyelesaikan masalah adalah mengakui dan menerima adanya masalah. Saat menemukan masalah, mungkin kita pernah mengabaikan, menghindar, atau bahkan berpura-pura bahwa masalah itu tidak ada. Sama seperti sosok ayah dan ibu dalam film ini yang berpura-pura bahwa masalah itu tidak ada. Akhirnya, masalah jadi berlarut-larut dan semakin besar. 

Setelah mengakui adanya masalah, maka keterbukaan dan komunikasi adalah langkah selanjutnya. Seringkali kita menyadari dan mengakui adanya masalah, tetapi hanya disimpan untuk diri sendiri. Alhasil, tidak ada yang bisa membantu mencari solusinya. Boleh jadi, hal yang kita anggap masalah, bukanlah masalah bagi orang lain. Keterbukaan dan komunikasi adalah pilihan terbaik untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Setidaknya, begitulah cara keluarga di NKCTHI ini menyelesaikan masalah yang mereka tutup rapat selama puluhan tahun.

Pelajaran lain dari NKCTHI sudah pernah ditulis disini: Dari Kale untuk Awan.


3. 1917 

Sumber gambar: kompas


1917 adalah film berlatar Perang Dunia Pertama. Film ini bercerita tentang dua tentara muda Britania Raya, Will dan Tom, yang diberi misi untuk penyampaikan pesan ke Kolonel Mackenzie untuk membatalkan rencananya mengejar sisa-sisa pasukan jerman yang mundur. Mereka hanya punya waktu 1 hari untuk menyampaikan pesan itu. Jika gagal, ribuan nyawa prajurit Britania Raya yang akan menjadi korban.

Medan yang harus dilewati untuk menyampaikan pesan itu tentu sangat berbahaya. Mereka berada pada dua pilihan yang berat: menjalankan tugas untuk menyelamatkan ribuan prajurit atau mengabaikan tugas demi keselamatan nyawa mereka sendiri.

Film ini tidak hanya mengajarkan tentang kegigihan untuk melaksanakan tanggung jawab, tetapi juga mengajarkan tentang pentingnya mendahulukan sisi humanisme. Pesan paling penting dari film ini, adalah tentang profesionalisme. Berkat profesionalisme dari kopral pengantar pesan, ribuan nyawa prajurit dapat diselamatkan. Bayangkan dunia yang dipenuhi manusia-manusia yang profesional dalam menjalankan tanggung jawabnya, tentu lebih banyak hal baik yang bisa terjadi.

Film ini mengingatkan pada pesan sebuah buku yang pernah saya baca, bahwa profesionalisme tidak hanya penting untuk pekerjaan, tetapi untuk setiap peran yang kita emban. Karena kita adalah manusia multi peran, maka profesionalisme dibutuhkan dalam setiap peran tersebut. Kita adalah anak bagi orang tua, kakak bagi adik, sekaligus adik bagi kakak. Maka tugas kita adalah menjadi anak, adik, kakak yang profesional dengan menjalankan setiap peran dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu, saya yakin akhir cerita akan selalu bahagia.

Kalau kalian tertarik dengan detail cerita 1917, boleh kepoin ulasan versi Tirto dan Historia.

***


Artikel ini ditulis untuk merayakan Hari Film. Oh iya, Ulmonah juga merayakan Hari Film dan menulis tentang Lima Film Wajib Ditonton Bersama Keluarga, boleh mampir ke blog Ulmona, ya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berapa Sih Jumlah Total Energi dari Respirasi Seluler?

Menabung Mudah dan Praktis dengan SOBATKU

ATP adalah Sumber Energi Universal Tubuh, Benarkah?